
Hah?? Zionis itu mau apa ke sini??
"Pergi kau! Enyahlah! Aku lebih baik mati kelaparan dari pada membocorkan rahasia padamu dan mengkhianati Palestina!" Teriak Hafsha.
Ya. Mereka semua mengerti maksud penjajah itu masuk ke penjara ini. Meminta mereka memberikan rencana selanjutnya. Hahaha. Jika sudah mereka bilang 'tidak!', maka tidak akan terjadi.
"Baiklah adik Qassam. Kamu benar benar keras kepala. Jaga adikmu baik baik. Silahkan nikmati hari harimu di penjara."
"Hei!!! Jaga mulutmu!" Teriak Aliaa kesal.
Pintu penjara ditutup sekeras mungkin. Mengingatkan Aliaa pada Zuhair.
"Mengganggu tidurku saja orang itu." Keluh Aliaa.
"Bagaimana jika kita benar benar mati di sini?"
"Pertolongan Allah pasti akan datang. Bukankah Allah maha penolong, maha penyayang, dan maha memberi rizki? Manusia telah dijamin rizkinya selama ia masih hidup. Lagipula, selama belum tiba masanya, kita akan tetap hidup. Tenanglah. Pertolongan Allah pasti akan datang." Kata Aliaa sambil tersenyum.
"Hah? Pertukaran tahanan? Baiklah. Kalian mengajukan berapa? Kami ada 10 tahanan penting."
Samar samar suara itu terdengar. Hafsha memberikan isyarat untuk diam.
"10? Baiklah. Kami akan membawa mereka sekarang."
__ADS_1
Pintu penjara dibuka.
"Keluar kalian!"
Aliaa terdiam. Ia mengikuti Hafsha berjalan ke luar. Sampai di sebuah tempat, dilakukan pertukaran tahanan. Ada Hafsha, Aliaa, Hasanah, dan 7 orang lainnya. Mereka bersyukur karena segera dibebaskan.
"Perempuan semua??" Tanya salah satu pejuang.
Para penjajah itu hanya mengangguk.
"Hhh... Ya Rabb. Bagaimana cara kita membawa semua perempuan ini??"
HP Nadiah yang dimanage Aliaa itu berbunyi. Ya. Hanya Aliaa dan Nahdiyah yang tahu password HP Nadiah.
"Walikumussalam warahmatullah. Aku berada di titik pertukaran tahanan. Insyaa Allah aku segera ke sana ya."
"Siapa?"
"Khaulah. Dia melaporkan terjadi gencatan senjata antara pasukan bersenjata dengan para penjajah itu. Dan juga terjadi bentrokan yang tak kunjung reda sejak tadi pagi."
"Kita harus meminta izin pada komandan dulu Aliaa. Kita tak bisa asal berangkat."
"Lalu bagaimana cara kita kembali ke markas?"
__ADS_1
Aliaa menatap kendaraan yang di bawa pasukan bersenjata laki laki itu.
"Mengapa mereka tidak 1 mobil saja, lalu mobil yang lain kita gunakan? Kamu bisa menyertir kan Hafsha?"
"Baik. Gunakan mobil itu. Kami akan melapor nanti."
Mereka hanya diam tak banyak bicara. Mereka langsung naik ke kendaraan. Hafsha mengurangkan niatnya untuk izin. Ia tahu, bahwa ia tak akan diperbolehkan mengikuti peperangan untuk sementara waktu.
Usai menelepon Khaulah, menyatakan bahwa ia belum bisa mengikuti peperangan untuk sementara waktu, Aliaa terdiam. Naura. Gadis yang diharapkan Nadiah mengunjungi makamnya. Ia muncul di sela sela bentrokan.
"Assalamualaikum yaa Naura."
"Waalaikumussalam."
"Kenapa kamu bisa ada di sini hah?? Nadiaah dah lama tunggu kau. Kau tak datang pada saat pemakamannya." Kata Aliaa gemash sambil mencubit pipi Naura.
"Hehehe. Maap maap. Gw iseng aja ke sini. Maap gw gak Dateng waktu pemakaman si Nadiah. Kagak tau Saia."
"Terus, buat apa kau kemari?"
"Menunaikan janjiku pada Nadiah. Dia sudah bilang sama aku. "Kalau aku meninggal di Palestina, jenguk ya.". Ga tau kenapa tuh anak kalau nulis begituan pake emot ketawa."
Sahabat sejati yang menunaikan janji. Meski sudah 10 tahun yang lalu permintaan itu diucapkan, namun tetap diingat.
__ADS_1