Aliaa Dan Gaza

Aliaa Dan Gaza
Episode 26


__ADS_3

"Kamu ini!! Malam malam malah keluar!" Omel Aliaa.


"Lah kamu sendiri juga keluar Aliaa."


Aliaa hanya tertawa. Sahabat Nadiaah sejak tahun 2008 itu benar benar santuy dan menyebalkan. Panggilan masuk ke Hafsha.


"Khaulah melapor dari tempat terjadinya gencatan senjata. Dilaporkan bunker militer XY diledakkan beberapa menit yang lalu. Korban belum ditemukan."


Panggilan berakhir.


"Bunker militer dalam kata lain kan..."


"Terowongan XY! Ya Rabb. Bunker rahasia di bom."


"Hafsha..."


"Iya?"


"Bukankah kemungkinan besar kakakmu berada di bunker militer? Dia seorang komandan. Tak mungkin ada rapat yang tidak dia hadiri."


"Astagfirullah! Iya juga! Ya Rabb... Bagaimana ini??"


Panggilan masuk lagi selang beberapa menit ke Hafsha.


"Hafsha. Kakakmu berada di rumah sakit. Ditemukan tak bernyawa. Korban pengeboman terowongan XY. 9 korban meninggal dunia. Tak ada korban luka." Lapor Khaulah.


Panggilan berakhir. Air mata Hafsha jatuh membasahi bumi para nabi itu.


"Ya Rabb!! Aliaa, temani aku ke rumah sakit."

__ADS_1


"Ada apa?"


"Dia meninggal akibat peledakan terowongan XY."


"Emm... Aku pergu dulu Naura. Assalamualikum."


"Waalaikumussalam warahmatullah."


"Ayo Aliaa, cepat!"


Mereka tiba di rumah sakit yang sudah dipadati teman teman kakaknya.


"Aku... Tunggu di luar saja Hafsha. Nggak enak kalau ikutan masuk."


Beberapa saat kemudian, Hafsha keluar dari kamar mayat itu. Ia memeluk Aliaa.


Tampak sepasang mata yang tak rela kakaknya diambil duluan dari pada dirinya.


"Aku akan balas mereka yang telah merenggut nyawa semua kakakku!!"


Aliaa menghapus air mata Hafsha.


"Berjuanglah demi Al Aqsha. Jangan bersedih lama lama ya? Masih banyak rencana matangmu yang harus kita gunakan untuk membebaskan Masjidil Aqsha dan Palestina." Kata Aliaa sambil tersenyum.


"Jazakumullah Khairan Katsiran Aliaa."


Hafsha memeluk Aliaa. Aliaa dapat merasakan kesedihan Hafsha. Ia pernah merasakan kepedihan yang sama. Kepedihan kehilangan Alaa, lalu disusul Nadiah, Yasmeen, dan juga Nur.


Jika Hafsha terus menerus bersedih, maka siapa yang akan merumuskan rencana pembebas Palestina selanjutnya? Tak baik bila terlalu lama bersedih. Aliaa tahu, Hafsha adalah manusia biasa. Seperti yang dikatakan Nadiah: "Mereka juga manusia. Mereka pasti juga merasa kehilangan.”. Ia berharap, Hafsha mendapatkan energi penyemangat lewat pelukan.

__ADS_1


Hafsha dan Aliaa pergi dari rumah sakit. Ya. Besok jasad kakaknya Hafsha akan dikuburkan.


"Hehh... Aku tak ingin berdamai dengan orang orang itu."


"Benarkah?" Tanya Hafsha sambil tersenyum.


"Ya. Rasanya tak ikhlas."


Hafsha hanya tertawa.


"Kamu katakan, kakak kakakmu. Kamu punya berapa kakak?" Tanya Aliaa dalam perjalanan menuju rumah Hafsha.


"Aku punya 5 kakak. Yang tadi meninggal itu kakak terakhirku. Di tahun 2009, kakak ke 4 ku berusia 15 tahun, kakak ke 3 ku 17 tahun, kakak ke 2 ku 19 tahun, dan kakak pertamaku 21 tahun."


"Semuanya adalah pasukan bersenjata. Di tahun 2009, kakakku yang ke 3 terbunuh. 2015, kakakku yang pertama dan ke 2 terbunuh. Tahun kemarin, kakakku yang ke4 yang terbunuh."


"Maaf Hafsha. Aku tak bermaksud..."


"Ya. Tak masalah. Aku yakin mereka sedang berbahagia di alam kuburnya."


Aliaa menunduk.


"Aliaa, kalau aku yang meningga duluan, tolong lanjutkan rencana rencanaku sampai maut menghampiri atau Al Aqsha benar benar bebas. Aku tahu kamu pribadi yang cerdas."


"Dan kalau aku yang duluan meninggal, tetap lanjutkan rencana rencana cerdasmu Hafsha."


"Jadi kita sepakat?" Tanya Hafsha sambil tersenyum.


"Sepakat!"

__ADS_1


__ADS_2