
“Serahkan handphone itu!!”
“Tidak! Ini bukan handphone ku! Aku harus menjaga handphone ini sampai aku bertemu pemiliknya!” tolak Aliaa.
Aliaa memberontak dan kabur dari kejaran zionis israel.
“Ummi, bawa aku pergi dari situasi ini!!”
Hingga akhirnya ia masuk ke salah satu ruangan yang gelap di ujung gang. Ada saklar lampu. Ia mencoba menghidupkannya.
“Siapa gadis itu? Bagaimana bisa ia masuk ke dalam sini? Kenapa ia membawa handphone?”
“Eee...”
Aliaa mundur beberapa langkah. Ia menabrak seorang lelaki di belakangnya. Ia tak sadar bahwa di belakangnya di jaga ketat beberapa lelaki.
“Astagfirullahh!! Bukan mahram!” teriak Aliaa sambil mengusap tangannya.
“Hmm… sepertinya ia Muslim.”
“Bisakah kamu berikan Handphone mu?”
“Tidak! Ini bukan handphoneku! Aku harus mengembalikannya dulu!”
“Baiklah! Matikan handphonenya!”
Aliaa mematikan handphone Asima.
“Kalian ingin membunuhku?”
“Mengapa kamu masuk ke ruangan ini?”
“Aku tak tahu. Aku hanya berlari, lalu aku melihat ada rumah, ya sudah aku masuk.”
“Hemm? Apakah itu benar?”
__ADS_1
“Mengapa aku harus berbohong? Aku saja tak tahu ini di mana dan aku tak tahu daerah sini. Bahkan aku tak tahu kalian siapa.” Kata Aliaa.
“Kamu bukan warga sini?”
“Bukan. Aku dari Egypt. Aku sudah 2 bulan di penjara. Ini hari ke 4 aku hidup di Gaza di luar penjara. Aku dalam perjalanan dari Jabalia menuju Jalur Gaza. Aku mencari Alaa, temanku.” Jelas Aliaa blak blakan.
“Tampaknya ia terlalu jujur.”
“Pergilah ke belakang! Ada adikku di sana.”
Aliaa hanya terdiam. Lalu menatap lelaki yang menyuruhnya ke belakang.
“Bagaimana dengan Alaa? Siapa yang mengurus Asima di rumah sakit?” tanya Aliaa.
“Kamu punya keluarga di sini?”
“Tidak. Asima itu adik temanku yang di Gaza. Ia ikut aku dan Alaa ke Jabalia.”
“Pergilah ke belakang. Nanti Alaa akan di cari.”
“HAFSHA!! JANGAN BICARA ANEH ANEH PADANYA!”
“Iya iya.”
Aliaa masuk ke dalam sana. Ia merenung. Apakah Yasmeen akan marah padanya? Apakah Alaa akan segera ditemukan?
“Jangan khawatir. Aku yakin Alaa masih berada di sekitar sini.”
“Kamu tahu di mana kamar mandi?” tanya Aliaa.
“Oh ya. Dia dipojok ruangan.”
“Aku ke kamar mandi dulu. Nitip tas dulu yaa!!”
“Bolehkah aku buka tas mu?”
__ADS_1
Aliaa hanya mengangguk lalu masuk ke kamar mandi secepat mungkin. Hafsha membuka tas Aliaa. Hanya ada kameranya, Handphone Asima, dan beberapa snack. Hafsha menghampiri kakaknya.
“Tak ada yang aneh aneh kak. Hanya kamera, handphone yang tadi, dan juga beberapa makanan. Sebenarnya ada 1 lagi, tapi aku tak mau memberi tahu kakak.”
“Hafsha, beri tahu aku!”
“Itu yang boleh tahu hanya perempuan saja kak! Aku tak ingin kakak merasa jijik jika aku memberitahunya.”
Tak ada yang berani membentak lelaki itu kecuali adiknya.
“Ya sudah, terserahmu! Kembalilah ke belakang!”
“Bolehkah aku antar dia ke Jalur Gaza?”
“Kamu memangnya tahu alamatnya?”
“Tapi aku tahu Yasmeen. Dia dokter di rumah sakit. Dia kenal dengan Alaa. Mungkin dia bisa membantu.”
“Ya, pergilah. Tapi ingat, kamu harus kembali ke rumah sebelum Maghrib.”
“Mana bisa seperti itu??”
“Kau akan tiba di Jalur Gaza sekitar waktu Ashar! Kamu ingin nongkrong di sana?”
“Ya ya ya. Baiklah. Aku akan kembali sebelum Maghrib.” Kata Hafsha mengalah.
Ia kembali masuk ke ruang belakang.
“Aliaa, ayo kita pergi ke Jalur Gaza. Aku akan mengantarmu.”
“Tapi, bagaimana dengan Alaa?”
“Tak apa. Nanti aku akan mencarinya.
Hafsha dan Aliaa keluar melalui pintu belakang. Memang, pintu belakang hanya dikhususkan untuk Hafsha dan para muslimah. Aliaa menatap jalan jalan yang dilewatinya. Bagaimana jika Yasmeen marah padanya?
__ADS_1