
"Mereka berusaha membunuhmu Aliaa. Di mata mereka, kamu adalah adikku."
Bagaimana mungkin? Ini gila sekali. Hafsha mengalihkan pembicaraan ke topik lainnya.
"Kamu enak ya Nahdiyah. Lahir di Indonesia, sekolah di Indonesia selama 12 tahun. Sekolahnya pasti tenang dan nyaman."
Nahdiyah yang asyik memakan kurma (udah malam ceritanya) langsung berhenti memakan kurma
"Sejujurnya, aku juga ingin ke Indonesia." Tutur Zuhair
"Tapi~ kalau aku pergi... Masjidil Aqsha siapa yang menjaganya?"
Perkataan itu rasanya menembus hingga empedunya Aliaa. Ia terpaku mendengar penuturan Zuhair.
"Yapz. Betul sekali Zuhair! Kalau kami di sini, mendapatkan pengawasan ketat, sekolah kami bahkan di bom. Karena mereka takut! jika kami cerdas dan hafal Al-Qur'an."
"Tapi~ lihatlah. Muslimah bersenjata yang ada di sini semuanya hafal Al-Qur'an dan hadits Arbain."
####
"Kamu masih saja kesal karena Hafsha?"
"Tentu saja! Aku yakin dia masih hidup! Banyak lagi yang perlu dibasmi. Zuhair. Zuhair berusia 16 tahun tapi kecerdasannya tingkat tinggi. Nahdiyah. Sahabat karibnya paramedis yang kalian bunuh saat great Return march ini luar biasa cerdas! Izzati, Nur, dan juga Khaulah. Mereka ancaman bagi kita! Cepat, utus mata mata untuk membunuhnya!"
"Tapi mereka..."
__ADS_1
"Cepat! Jangan membuatku ESMOSI (sengaja saya pelesetin, biar ada humornya dikit lah ya :v)!!!"
"Ba-baik pak!"
####
Mereka asyik belajar Sirah Nabawiyah dari Khaulah di dekat api unggun. Ya. Inilah kebiasaan Hafsha dan kawan kawannya usai shalat witir. Lagi pula, kapan lagi kan diajarkan sama yang ahlinya? Sementara Samah dan Asima sudah terlelap di tenda.
DOR DOR DOR! Bunyi tembakan terdengar. Darah terciprat ke arah Khaulah. Khaulah mengusap wajahnya. Ia menatap ke arah tanah. Nur, sahabatnya, terkulai lemah di atas tanah. Bukunya pun terjatuh ke sampingnya. Bukunya kini sudah bernodakan darah.
"Kurang ajar dan sangat sangat kurang kerjaan!" batin Aliaa kesal.
Hafsha mendekat ke arah Khaulah. Ia mengambil senapannya. Emosinya sudah berada di puncak kemarahan.
"Ambil perban di tasmu!"
"Mundur sekarang!" Perintah Hafsha.
Hafsha membidik musuhnya. Tanpa ragu lagi, ia menarik pelatuk senjatanya. Usai musuh itu tergeletak di atas tanah, Aliaa menghampirinya. Begitu pula dengan Hafsha yang masih membawa senjatanya bersiap jika musuh itu masih hidup dan hendak menyerangnya.
"Sudah meninggal." Kata Aliaa.
Hafsha menoleh ke arah Khaulah. Ia menyimpan senapannya, lalu berlari ke arah Nur. Ya. Hafsha dan Aliaa memiliki kesamaan. Mereka mampu menjadi keras ketika ada hal yang tidak diinginkan, dan mampu menjadi lunak ketika melihat hal yang sedih.
"Nur. Nur Fawwaz Ummah. Kamu bisa mendengarku?" Tanya Hafsha khawatir sambil menepuk pipi Nur.
__ADS_1
"Dia sudah meninggal Hafsha." Kata Nahdiyah.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Hasbunallahu wani'mal wakiil."
Khaulah menelepon ambulans. Bunyi semak semak terdengar. Begitu pula dengan derapan langkah kaki. Hafsha, Aliaa, dan Izzati menyiapkan senjatanya.
"Hhh... Alhamdulillah sampai juga."
"Ya. Alhamdulillah misi kita kali ini berhasil."
"Eh. Astaghfirullah. Ada apa ini? Mengapa banjir darah seperti ini?"
Darah dari jasad Nur dan jasad utusan IDF yang kurang ajar itu membasahi tanah.
"Nur baru saja tewas ditembak. Ayo Aliaa, tak baik keluar malam malam."
Aliaa meninggalkan jasad Nur dengan hati yang berat. Ufftt. Ini terlalu cepat bagi Aliaa. Ia masuk ke dalam tenda, lalu mengelus kepala Asima. Ia tetap masuk ke dalam tenda meski malam ini ia berjaga.
Nahdiyah dkk membawa jasad Nur ke belakang tenda.
"Kamu membawa kain Hafsha?" tanya Nahdiyah seraya menyibak pintu tenda dengan sikunya.
"Ya." Kata Hafsha sambil mengeluarkan sebuah kain berwarna hitam.
"Jazakumullah Khairan."
__ADS_1
Tak lama kemudian, ambulans datang menjemput jasad Nur. Perpisahan ini sungguh amat sangat menyakitkan.