Aliaa Dan Gaza

Aliaa Dan Gaza
Episode 13


__ADS_3

Aliaa yang sehari hari hanya sibuk dengan kameranya merekam kejadian itu. Beberapa peluru ditembakkan tepat mengenai sasaran. Memang, bagi Aliaa, kurang kerjaan dan kurang ajar orang yang menargetkan sasaran itu. Sebuah pelanggaran dalam gencatan senjata terjadi.


Tembakan fatal mengenai 2 paramedis yang sedang bertugas. Paramedis itu terjatuh ke tanah. Darahnya membasahi bumi para nabi itu. Jas putihnya yang biasa berlumur darah korban, kini berlumur darahnya sendiri. What?? Apa salahnya gitu lho kan ya? Dari sini Aliaa bisa menyimpulkan bahwa: jangankan ia sebagai jurnalis yang bersenjata kamera. Paramedis pun yang hanya bersenjata alat medis dibunuh, meski sudah memakai jas putih dan mengangkat tangan.


Aliaa terdiam. Sahabatnya menjadi sasaran empuk senapan para penjajah itu. Penembakan paramedis yang Aliaa lihat dengan mata kepala sendiri. Aliaa menghampiri Hafsha yang sedang menunggu Aliaa.


"Kenapa kamu menangis? Tidak baik menangis di sini Aliaa."


"Nadiaah menjadi sasaran empuk senapan para penjajah itu."


Setelah menunggu beberapa saat (lumayan lama juga sih -,-), yah... Benar! Itu merupakan pembunuhan terhadap 2 paramedis!


"Aliaa, maafkan aku. Kakakku menyuruhku pulang sekarang. Maafkan aku Aliaa." Kata Hafsha sambil memeluk Aliaa.


"Pulanglah. Tak apa. Daripada kamu akan dihukum." kata Aliaa yang berusaha tersenyum ditengah duka.


Hafsha memeluk Aliaa dan jasad paramedis yang terbunuh itu.

__ADS_1


 


"Maaf Aliaa. Assalamualaikum."


"Walikumussalam warahmatullah."


Hafsha menghela nafas, lalu meninggalkan tempat yang sedang dipenuhi duka itu dengan hati berat. Meninggalkan Aliaa sendirian.


1 hari pasca pemakaman Nadiaah dan 1 paramedis lainnya, Hafsha datang mengunjungi Aliaa.


Aliaa memeluk Hafsha. Dia paham betul situasi hati Aliaa saat ini.


"Gaza memanglah neraka bagi sebagian orang. Tapi bisa menjadi surga bagi sebagian orang."


"Bagaimana bisa?"


"Tentu saja! Neraka karena terblokade, dan bisa menjadi surga karena disini orang orang berlomba dengan berbagai macam cara untuk mempertahankan Al Aqsha."

__ADS_1


 "Kalau kamu bagaimana Aliaa? Setelah teman temanmu bertugas apakah kamu akan kembali lagi ke Gaza?"


"Aku akan menetap di sini. Insyaa Allah, aku akan membantu perjuangan kalian membela Al Aqsha."


Aliaa mencoba meluruskan niatnya ke Gaza. Niat baik tentu mendapat hasil yang baik bukan? Hafsha tersenyum. Di balik cerewetnya dan keras kepalanya, Hafsha adalah seseorang yang pengertian dan cerdas. Yahh, mirip seperti Aliaa.


"Mengapa kamu begitu dijaga ketat oleh kakakmu? Wajib memakai cadar dihadapan lelaki ajnabi, tak boleh pulang malam, bahkan tempatmu dipisahkan dari laki laki."


"He? Mengapa? Ya karena aku satu satunya perempuan di keluarga itu. Lagi pula aku beragama Islam kan? Dia ingin menjadikan aku pemberani layaknya Nusaibah binti Ka'ab, cerdas layaknya Aisyah binti Abu Bakar, dan pemalu layaknya Fatimah Az-Zahra binti Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Ya, insyaa Allah aku bisa."


Hafsha menatap lekat perempuan yang kini berusia 22 tahun itu. Baginya, Aliaa tak terlalu mirip dengannya.


"Aku rasa kini beberapa aparat penjajah itu mengenalimu Aliaa. Kamu tahukan, selama perjalanan, kita bertemu beberapa aparat penjajah? Mereka akan mudah mengenalimu. Terlebih, kamu tak memakai niqab."


"Mereka akan menganggap kamu seperti adikku karena kamu sering pergi bersamaku. Aku hanya 2 kali bepergian bersama orang yang bukan adik temannya kakakku selain kamu. Itupun hanya bersama Yasmeen."


Aliaa tak tahu pekerjaan Hafsha dan kakaknya. Aparat IDF mengenalinya? Dia hanya seorang jurnalis yang ditinggalkan di bumi para nabi.

__ADS_1


__ADS_2