
Aliaa dan Hafsha akan segera mengikuti peperangan. Mereka memantapkan diri selama beberapa waktu. Hingga akhirnya, mereka berangkat.
"Aku merasa ini Ramadhan terakhir ku."
"Tutup sejenak mulutmu sebelum aku yang menutup mulutmu dengan kainku." Kata Hafsha sambil menatap Aliaa tajam.
"Apa salahku?"
"Kamu bilang kamu merasa ini Ramadhan terakhirmu kan?"
"Lalu? Unsur kesalahannya terletak di mana coba?"
"Huhh... Kamu tega meninggalkan aku sendirian??"
"Lalu jika kamu meninggal duluan aku harus mengikhlaskan kamu begitu??"
"Yapz." Jawab Hafsha.
"Kamu tidak memikirkan perasaan ku Hafsha!! Aku sudah ditinggal Alaa, Yasmeen, Nadiah, dan juga Nur. Lalu kamu ingin meninggalkan aku?? Itu tak adil!!" Balas Aliaa.
"Hehehe. Ya sudah. Meninggalnya bareng aja. Kalau bisa sihh."
"Kamu ingin mengajakku mati bersama?"
Hafsha melempar sebuah perban di tasnya ke Aliaa.
__ADS_1
"Whaaww."
Hafsha sudah sejak lama gemash dengan sifat Aliaa yang sedikit demi sedikit menyerupai Naura.
"Bukan begitu maksudnya!! Kan bisa jadi Aliaa atuh mahh!! Kayak kejadian di bunker XY itu..."
"Tapi tetap... Kami akan pertahankan Al Aqsha sampai titik darah penghabisan. Kami tak akan menyerahkan Masjidil Aqsha begitu saja! Kita ini ummat Islam. Sudah sewajarnya kita mempertahankan Al Aqsha mati matian."
Aliaa terdiam. Benar apa yang dikatakan Hafsha.
"Bagaimana Ramadhan mu di Indonesia Aliaa?"
"Not bad. Orang Indonesia ramah ramah. Mereka ada kebiasaan takbir keliling. Idul Fitri nya Alhamdulillah baik."
"Enak ya... Kalau kami terkadang shalat ied dan shalat idul adhanya dibubarkan. Dengan gas air mata lah, tembakan lah. Bahkan, ada anjing para penjajah itu yang diajarkan untuk menggangu dan menerkam orang shalat."
Esok harinya, mereka berangkat ke lokasi. Sedikit menegangkan (itu bukan sedikit woy!!! Itu sangat sangat menegangkan!!), tapi mau tak mau Aliaa harus berangkat ke sana. Suara tembakan dan juga dentuman berkali kali terdengar. Hufft... ini benar benar membuat Aliaa merasa nyawanya akan berakhir di tempat itu.
"Segera tinggalkan area 9!! Pesawat sedang menuju ke sana!!"
Aliaa bergegas meninggalkan area itu. Ia berpindah ke area 7, yang merupakan area Hafsha.
"Menegangkan sekalii 😧😧😧." Batin Aliaa.
Baku tembak terjadi. Benar benar rasanya para penjajah itu ingin merenggut nyawa mereka satu satu. Atau mungkin... sekaligus? Suasananya ribut sekali (ya eyalahh!! Namanya aja perang ye kan 😒). Satu persatu mulai ada yang terluka.
__ADS_1
DOR DOR!! Beberapa peluru dilepaskan dari senapan. Peluru itu mengenai tubuh Aliaa. Muslimah itu terjatuh dengan senapannya. Khaulah dan Izzati segera menolongnya. Khaulah mengeluarkan perban yang ada di tasnya.
"Semoga perban ini dapat mengurangi pendarahan mu Aliaa."
"Bawa dia ke bawah. Di sana lebih aman." kata Qonitah sambil membidik musuhnya.
Khaulah dan Izzati membawa Aliaa ke bawah.
"Bagaimana ini? Pendarahannya banyak sekali. Perban kita pun tak mempan untuk mengurangi pendarahannya."
Hafsha datang menghampiri mereka.
"Bagaimana?"
"Kondisinya sangat sangat buruk. Pendarahannya sangat banyak. Bisa bisa ia kehilangan banyak darah jika begini terus."
"Khaulah, panggil Nahdiyah. Ia bagian medis."
Khaulah segera melesat menuju tenda medis.
"Ya Rabb... Jangan sampai peluru yang menembus kulitnya adalah butterfly bullet." Batin Hafsha.
"Aliaa, you can hear me??" Tanya Izzati.
"Itu orangnya!!" Teriak Khaulah.
__ADS_1
"Dia tertembak dan mengalami pendarahan. Segera bawa ke tenda dan tangani. Khaulah dan Izzati, kembali ke atas, tangani musuh yang sudah menggila itu!"