
Khaulah dan Izzati kembali ke medan pertempuran. Mereka harus mati matian mempertahankan Gaza yang kini tengah diperebutkan dan Al Aqsha, yang kini tengah dijajah.
"Aliaa... You can hear me???"
Nahdiyah mengangkat Aliaa ke tandu. Ia menatap tangan Aliaa yang berdarah - darah. Ia harus segera dievakuasi sebelum kekurangan darah. Yaa... yang pastinya bisa menyebabkan meninggal dunia.
'Kami akan berjuang sampai titik darah penghabisan' ; 'Aku akan tinggal di sini' ; 'Meninggalnya bareng aja. Kalau bisa sih...' ; Semua rasanya berputar di kepala Aliaa.
"Ya Allah, apakah sudah tiba waktuku??"
Genggaman tangan Aliaa terlepas.
"Ia sudah tak sadar! Cepat, bawa pergi dari sini!!"
Nahdiyah mempercepat tindakannya. Ia harus segera tiba di tenda medis sebelum kata kata 'maaf' itu dia ucapkan pada keluarga Aliaa di Egypt. Hanya 1 harapannya. Aliaa bisa terselamatkan dan tak ada korban jiwa lagi.Ia terus berlari bersama teman temannya tanpa mempedulikan ini sedang konflik. Memang, ada beberapa bom dijatuhkan. Bar bar sekalee bukan? Yah... Alhamdulillah sih nggak kena.
Aliaa terbangun di sebuah tenda putih. Anggota tubuhnya masih lengkap. Hanya saja, dia tak memakai cadar. Perban membalut luka tembak di tubuhnya. Dan tak lupa, selang infus tertancap di tangannya.
"Uhh... ke mana cadarku??"
"Nahdiyah!! Tampaknya ia sudah sadar!!"
Nahdiyah menghampirinya dengan lambang bulan sabit merah di lengannya. Yapz. Nahdiyah kuliah jurusan kedokteran.
__ADS_1
"Eh tenang dulu. Jangan banyak bergerak. Kamu sedang berada di tenda medis. Tak apa apa. Kamu lebih baik beristirahat sejenak dulu. Perempuan semua di sini."
Aliaa menyenderkan bahunya di bantal.
"Tapi bagaimana dengan konflik yang sedang terjadi ini?"
"Jangan memaksakan diri. Aku tau jika kamu harus menjadi pribadi yang kuat. Tapi tidak begini juga caranya. Kalau misalnya seseorang tertembak, lalu mengalami pendarahan, bukan berarti kamu lemah OK?Jangan banyak bergerak dulu bisa kan?"
"Hafsha ke mana? Ada korban jiwa?"
"Emm... korban jiwanya hanya Aftah. Hafsha masih menangani penjajah penjajah yang ingin merebut Gaza dan Al Aqsa itu. Kamu tertembak kemarin. Kamu mengalami pendarahan hebat. Tapi Alhamdulillah, stok darah masih banyak."
Aliaa menoleh ke sekitar. Memang ada sih, yang terluka parah seperti dirinya. Tapi tak banyak. Nahdiyah duduk di samping Aliaa. Sedang tak ada korban. Ia bisa beristirahat sejenak.
"Lalu jika di kepala??"
"Pertanyaan macam apa itu Aliaa 😑?? Apakah kita harus mengamputasi kepala? Lama lama kamu tertular Naura juga 😒."
"Nahdiyah!! Ayo kita shalat!!"
"Aliaa..."
"Aku sedang haid. Pergilah." Kata Aliaa.
__ADS_1
"Kamu bisa mengantarku ke kamar mandi?"
"Sebentar. Aku panggil Najjar dulu."
Nahdiyah memanggil temannya. Najjar membantu Aliaa pergi ke kamar mandi.
Nahdiyah segera mengecek apakah ada darah haid yang berceceran atau tidak. Alhamdulillah, tak bocor. Sepertinya yang keluar tak banyak. Beberapa hari kemudian, banyak muslimah berniqab yang membawa senapan masuk ke tenda medis. Aliaa yang melihat itu kaget sekaget kagetnya.
"Kamu sudah sembuh Aliaa? Sayang kamu tak melihat penjajah itu pergi dari Gazam" Tanya Hafsha sambil tersenyum
"Ya. Itu karena Nahdiyah! Dia tak mengizinkan aku mengikuti perang!"
"HEI?? Apa pulak kau bawa bawa aku? Kau ni baru transfusi darah sudah minta ikut perang! Macam mana kau ni?" Kata Nahdiyah kesal sambil membereskan peralatan medis.
"Apa yang dia ucapkan Aliaa?" Tanya Hafsha bingung.
"Dia berkata bahwa aku baru saja transfusi darah langsung minta ikut perang. Hehehe."
"Pantas lah 😒. Aku akan melarangmu juga mengikuti perang jika seperti itu."
"Oh ya, Ada apa ini? Mengapa kalian datang ke sini?"
"Karena Alhamdulillah kita sudah mengusir penjajah itu dari Gaza. Mereka tak bisa mengambil Gaza. Tinggal 1 lagi yang harus dibebaskan. Al Aqsha."
__ADS_1
Peperangan ini tak alan berakhir. Sebelum para penjajah itu menyerahkan Al Aqsha, dan tidak mengganggu ibadah ummat Islam di Masjidil Aqsha.