Aliaa Dan Gaza

Aliaa Dan Gaza
Episode 17


__ADS_3

Waktu cepat berlalu. Yasmeen juga pergi meninggalkannya. Yasmeen syahid pada saat rumah sakit tempat Yasmeen bekerja di bom oleh para penjajah itu.


Kini, ummat Islam sudah memasuki bulan Ramadhan. Rombongan jurnalis + relawan dari Egypt datang. Mereka membawa kaki palsu untuk Aisyaa. Yaa~ alasannya sih, supaya Aisyaa bisa segera bekerja lagi.


"Assalamualikum Aliaa! Apa kabar?"


"Walikumussalam warahmatullah. Almdulillah sehat."


"Kita di sini hanya 2 pekan. Jadi, kamu bisa segera kembali ke Egypt."


Aliaa terdiam. Ia sudah tak ada niatan kembali ke Egypt. Ia harus menetap di Gaza. Bahkan, bertemu keluarga pun sudah tak ada di benak Aliaa.


"Hmmm. Ok. Kita pikirkan itu saja nanti. Kini kita akan menuju ke perbatasan."


Aliaa hanya tersenyum, sambil menahan tangisnya. Tragedy kelam 2 hari usai Alaa wafat yang terjadi di perbatasan masih tersimpan jelas di otak Aliaa.

__ADS_1


"Aliaa. Ada apa?" tanya Khadiija.


"Nothing."


"Baiklah. Kita berangkat sekarang."


Aliaa berbalik untuk menghapus air matanya. Sebanyak apapun latihan yang diberikan Hafsha padanya, setangguh apa pun Aliaa, tetap saja ia manusia biasa. Bisa merindukan seseorang yang sudah tiada. Ia merindukan Nadiaah, sahabatnya yang amat menyukai politik. Rindu masa masa SMA ketika Nadiaah bercerita politik kepada Aliaa yang tak mengerti politik.


Andai saja~. Ahh! Sudahlah! Aliaa ingat, kata kata 'andai' dapat membuka celah bagi setan. Jika Aliaa terus menerus bersedih, kapan ia bisa bangkit untuk berjuang?


Ketika Jannah sedang mewawancarai seorang demonstran, IDF menembak mulut orang tersebut. Sontak Jannah berteriak histeris menjauhi tempat yang kini menjadi sasaran gas air mata itu.


"Kak Jannah kan sudah pernah ke Gaza. Harusnya sudah terbiasa dong -,-." kata Khadiija.


"Khadiija, selama apa pun aku di Gaza, aku tak bisa menghindari refleks ku -__-." Kata Jannah.

__ADS_1


Aliaa hanya terdiam. Penangkapan, penembakan, itu sudah biasa menghiasi hari hari Aliaa di Gaza. Terlebih berbagai macam latihan yang diberikan Hafsha padanya.


Ketika hendak pulang dari perbatasan, mereka melihat pengeboman tepat di depan mereka. Suara bom menggelegar. Beberapa bangunan runtuh seketika. Laju kendaraan mereka seketika berhenti.


"Putar balik saja. Cari jalan yang lain." usul Khadiija yang sudah benar benar lelah itu.


"Allahu akbar!!"


Khadiija menyenderkan pundaknya di kursi yang empuk.


"Ya Allah, kondisi Gaza tiap harinya seperti ini?"


"Lalu bagaimana kondisi negara yang sedang dijajah seharusnya? Aman? Damai? Tenang? Selama penjajahan belum diusir dari negri itu, maka kondisinya akan tetap menegangkan dan mencekam."


Pertama kalinya Aliaa angkat bicara setelah terdiam cukup lama. Shafa menatap Aliaa. Kejadian tertinggalnya Aliaa di Gaza benar benar merubahnya. Sementara Jannah hanya tersenyum. Ia paham maksud Aliaa berbicara demikian.

__ADS_1


Ya~ yang dibilang Aliaa nggak salah sih. Kalau negara sedang perang ya wajar sih ada pengeboman, ada penembakan, ada penangkapan, dan suasana mencekam. Emangnya ada negara yang lagi perang tapi santuy santuy aja? Kagak ada pengeboman atau minimal penangkapan atau penembakan emang ada gitu? Kalau misalnya nggak ada, itu mah udah DAMAI kalii -__-.


Itu hanya sebagian kecil pemikiran yang diberikan Hafsha padanya. Meneguhkan Aliaa supaya tak usah tercengang pada kondisi yang ada di Gaza. Karena ya memang kondisi negara yang sedang perang seperti itu. Prinsip Aliaa: ia tak akan pernah berdamai dengan negri khayalan itu. Harus ada salah satu pihak yang kalah.


__ADS_2