Aliaa Dan Gaza

Aliaa Dan Gaza
Episode 11


__ADS_3

 Aliaa menatap wajah Alaa. Tampak tenang, meski jilbabnya telah berlumuran darah. Ini traveling Aliaa bersama Alaa yang terakhir kalinya.


  “Ia sudah meninggal.”


 “Aku harus membawa jasadnya ke Jabalia. Permisi.”


 “Memangnya kamu bisa menyetir?”


  “Tidak.”


 Akhirnya, Aliaa membawa jasad Alaa ke Jabalia.


 “Ya Allah, mengapa harus Alaa yang meninggal?”


 “Berhentilah meratap! Apakah kau tak tahu Allah melarang kita meratap?!” bentak seseorang di depannya.


  “Hei! Mengapa engkau membentakku?”


 “Apa kau tak tahu, bahwasanya mayat mayat di siksa akibat ratapan keluarganya?! Aku bukannya tak berperasaan, tapi berhentilah meratap! Mau ia pergi bersamamu hari ini atau tidak, ini sudah menjadi takdir Allah.”


   “Apakah ‘yasinan’ diharamkan juga oleh Allah?” tanya Aliaa.


  Nadiah, Nahdiyah, Zayu, dan teman teman Aliaa yang dari Indonesia mengatakan bahwa jika ada orang meninggal, maka mereka akan membaca surat Yasin.


  “Entahlah. Aku belum pernah mendengar kata kata itu.”


  Aliaa memilih bungkam seribu bahasa. Orang itu benar benar membuatnya mati kutu.


                                                                               ****

__ADS_1


  “Sudah ku katakan, tak ada yang aneh. Jika kakak mau informasi tentangnya, tanyakan saja pada Nadiaah. Kata Yasmeen, ia bersahabat dengan Aliaa sejak 2011.”


  “Kau menyuruhku bertanya pada perempuan? Hafsha, aku tak ingin menjatuhkan kehormatan seorang muslimah! Lagi pula aku tak kenal dengannya!”


  “Kakak selalu menyuruhku pulang sebelum Maghrib! Tentu saja aku harus meminta waktu jika ingin menginterograsi Nadiaah! Dia sibuk kak. Kakak seperti tak tahu saja bahwa banyak korban yang berjatuhan


di perbatasan.”


  “Tapi kau bisa bertanya padanya saat tak ada bentrokan.”


   “Ya ya ya. Baiklah. Aku akan ke Jalur Gaza besok.”


                                                                    ****


   “Soal Aliaa? Dia sedang berada di Jabalia sejak kemarin. Mengurus pemakaman Alaa. Ada apa?”


   “Aliaa masuk Gaza sekitar akhir January 2018. Ia seorang jurnalis. Ia ditangkap IDF sekitar 1 hari kemudian, dan baru dibebaskan 24 Maret 2018. Ia memang tak tahu daerah daerah di Gaza, karena sejujurnya, ia ingin pergi dari Gaza dan kembali ke Egypt. Ia hanya tahu Jalur Gaza, Jabalia, Khan Younis, dan Nuseirat. Tak lebih.”


   Nadiah menceritakan soal Aliaa.


   “Ia mengerti isyarat?”


   “Ya.”


  “Katakan padanya: ‘Jangan bocorkan tempat gelap’. Katakan saja dari orang yang mengantarnya ke Gaza.”


     Saat Aliaa pulang ke Jalur Gaza, Nadiaah menghampirinya, lalu menyampaikan pesan dari Hafsha. Aliaa hanya mengangguk.


                                                                    ****

__ADS_1


   “Aku seperti melaksanakan tugas militer. Seperti yang dia bilang, ia tak tahu di mana ini. Dia hanya tahu Jalur Gaza, Khan Younis, Nuseirat, dan Jabalia.”


  “Tak ada informasi lain?”


  “Ehmm, ya~ katanya ia tak ingin masuk ke Gaza, ia ingin kembali ke Egypt. Ia tak punya keluarga di sini.”


  “Hanya itu?”


  Hafsha mengangguk.


  “Untuk apa mencari informasi tentang Aliaa? Ia bukan dari kubu musuh.”


  “Hanya ingin memastikan, ia tak tahu tempat ini.”


  “Ya. Mungkin ia tak tahu di mana ini, tapi~ kemungkinan ia akan tahu siapa kalian.” Kata Hafsha.


  “Sahabatnya Aliaa dan Nadiaah sekubu dengan kalian sejak 2016. Yaa~ tentunya yang bagian muslimah.”


  “Dari mana kau tahu?”


  “Nadiaah. Nadiaah kemungkinan besar tahu siapa kalian hanya dari ikat kepala kalian. Ketika ku tanya mengapa tak ikut sahabatnya, katanya militer bukan ranahnya.”


 “Jadi kemungkinan ia tahu tempat ini?”


 “Entah. Dia sudah 5 tahun di Gaza. Mungkin ya.” jawab Hafsha.


 “Bisakah kau pastikan ia tak membocorkan tempat ini?”


 “Aku yakin ia tak mungkin membocorkannya. Ia sehari hari sibuk di perbatasan.”

__ADS_1


__ADS_2