
Hafsha mendapati seorang muslimah tersungkur di depan Aleesha (Aleesha dan Aliaa menjaga bagian belakang).
"Aliaa. Ya Rabb Ya Allah. Zuhair, tolong bantu Aliaa sampai di kendaraan!"
Zuhair memapah Aliaa. Mereka beberapa kali terjatuh.
"Ahh. Ya Allah." Aliaa memegangi daerah tubuhnya tertembak.
Ia menahan rasa sakit yang teramat.
"Ya Allah. Maafkan aku."
"Kak Hafsha, bagaimana ini? Kami beberapa kali terjatuh. Aku tak ingin kak Aliaa merasakan sakit yang berlebih."
"Nahdiyah. Tolong bantu!" Pinta Hafsha.
Aliaa tiba di kendaraan. Mereka membaringkan Aliaa setibanya di kendaraan (tapi mereka tetap berangkat lho ya). Wajah Aliaa begitu pucat. Muslimah itu berasa sudah tak memiliki tenaga lagi. Terlebih lagi, jalan jalan yang Aliaa lewati sudah tercecer darahnya.
"Ahh!! Mengapa mereka menembaknya tepat di bagian fatal sebelah kiri??" Kata Nahdiyah frustasi.
Fatal. Mengenai bagian jantungnya (harusnya sih). Kemungkinan selamat sangatlah tipis. Tapi bagaimanapun juga, Nahdiyah harus tetap berjuang menyelamatkan nyawa Aliaa.
__ADS_1
"Tangani saja dulu Nahdiyah. Kita akan berusaha tiba di rumah sakit secepat mungkin." Kata Hafsha.
"Ia bisa kehilangan banyak darah lagi jika seperti ini Hafsha!!" Kata Nahdiyah sambil berusaha mengobati Aliaa.
Tempat di mana Aliaa dibaringkan berlumuran darah segar. Darah itu terus menerus mengalir dari tubuh Aliaa hingga tangan Nahdiyah berlumuran darah. Namun Nahdiyah tidak bisa meminta kendaraan agar melaju lebih cepat lagi. Kendaraan sudah melaju dengan super cepat (mungkin kalau di Indo udah ditilang kalau kendaraan biasa). Tepat ketika itu, Asima yang Hafsha baringkan di samping Aliaa terbangun. Nahdiyah disibukkan oleh 2 muslimah itu.
"Jangan banyak bergerak dulu Asima. Berandarlah. Minum dulu." Ucap Nahdiyah sambil mengeluarkan sebotol air mineral dari tasnya.
"A- aku tak ingin minum. Aku ingin bertemu kak Aliaa."
"Minumlah dulu meski hanya seteguk." Bujuk Nahdiyah pada Asima.
Asima meraih air mineral yang Nahdiyah berikan. Ia meneguk air mineral itu.
"..."
"Kak Aliaa??"
Ia spontan memeluk Aliaa. Aliaa mengelus pundak Asima.
"Baca saja ini..." Kata Aliaa lirih sambil mengambil sebuah kertas di sakunya.
__ADS_1
Wasiat. Hal itu membuat Nahdiyah terkejut. Nahdiyah menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Ini terlalu cepat! Bertahanlah Aliaa!"
"Nadinya mulai melemah! Bagaimana ini?"
"Kecepatan kita sudah maksimal. Bertahan sebentar! Kita sudah memasuki wilayah Gaza!"
"I wan't to die with Syahadat." Ucap Aliaa.
Nahdiyah menuntun Aliaa bersyahadat untuk yang terakhir kalinya. Aliaa tersenyum, lalu memejamkan matanya. Nahdiyah mengecek nadi Aliaa.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Hasbunallahu wani'mal wakiil. Ya Allah. Ya Rabb... Mengapa semua meninggalkanku??" Tanya Nahdiyah sambil menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya.
"Jangan bilang kalau..." Kata Hafsha.
Hafsha menutup wajahnya menggunakan tangan. Ia harus berusaha tegar dan kuat. Yahh~ meski itu mungkin takkan berhasil. Ia kehilangan 5 orang paling berharga di dalam hidupnya. Kakaknya, Aliaa, Nur, Izzati, dan Khaulah.
Mereka tiba di rumah sakit meski sudah terlambat. Setidaknya, Asima bisa mendapatlan perawatan di sini. Usai Nahdiyah memberitakan ke keluarga Aliaa di Egypt, Nahdiyah menghampiri jasad Aliaa yang tengah tersenyum itu.
"Indah sekali senyumanmu Aliaa. Semoga Allah merahmati kematianmu dan juga melapangkan kuburmu." Batin Nahdiyah.
__ADS_1
Hafsha memeluk jasad Aliaa dan menatap wajah Aliaa untuk yang terakhir kalinya. Indah sekali. Ya. Indah sekali kematian para syuhadaa itu.
"Semoga Allah merahmatimu Aliaa. Aku akan terus berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan Al Aqsha."