Aliaa Dan Gaza

Aliaa Dan Gaza
Episode 3


__ADS_3

  20 January 2018


  Malam malam buta, Aliaa bersama 9 jurnalis lainnya berhasil melewati perbatasan Mesir – Gaza. Karena, jika Aliaa dan tim jurnalis masuk ke Palestina melalui Yordania, mereka tidak akan sampai ke Gaza, tapi sampai ke Masjidil Aqsha, di mana ke Gaza melalui Masjidil Aqsha itu dilarang keras.


  “Hufft~ biasanya malam malam buta begini ada yang ngejaga di sini.”


 “Siapa?” tanya Aliaa.


  “Itu~ ada kelompok bersenjata yang jaga di sini.”


  Laju mobil mereka dihentikan. Jannah turun dari mobil.  Usai percakapan yang cukup panjang, mereka berhasil melewati tempat itu.


 “Kak Jannah sih~ ngapain coba ye kan masuk Gaza malem malem. Serem tau T_T. Berasa mau diapain gitu.”


  Usai beristirahat semalaman (Masuk Gaza sekitar jam 10 malam waktu Gaza), Aliaa menjalankan tugasnya di lokasi bentrokan. Gadis berusia 21 tahun yang baru saja lulus kuliah pada tahun 2017 itu tercengang ketika melihat darah darah yang berceceran akibat bentrokan.


    “Aisyaa, mau sampai kapan kita berada di Gaza?” tanya Aliaa sambil meringis.


    “Dalam jangka waktu yang cukup lama. Tapi tak sampai seperempat tahun.” Jawab Aisyaa santai.

__ADS_1


    Tiba tiba, entah kenapa, para IDF itu menargetkan serangan ke kaki Aisyaa. Aisyaa meringis, memegangi kakinya yang tertembak. Kalau ditanya sakit sih, sudah jelas iya. Tim medis mengevakuasinya ke ambulans. Kini giliran Aliaa, jurnalis muda yang baru berusia 21 tahun itu. Beberapa IDF mendekatinya, menariknya, dan tak tanggung tanggung, mereka menyeret Aliaa ke sebuah gerbang. Aliaa menghilang di balik gerbang berwarna merah kecoklatan itu.


                                                                                      *****


Gaza, 25 January 2018


   Shafa, selaku wakil ketua rombongan masih mencari keberadaan Aliaa. Ini sudah hari ke 5 Aliaa menghilang di balik pagar berwarna merah kecoklatan itu.


   “Ada yang tahu, waktu Aliaa ke sana sama siapa?” tanya Shafa menyelidik pada 7 anggota jurnalis (Aliaa hilang, Aisyaa di RS).


   “Dia sama Aisyaa dan Khadiija.”


   “Aisyaa di mana?”


  “Khadiija, ke mana Aliaa?”


  “Dia ditarik beberapa IDF, lalu menghilang di balik pagar. Sudah ku coba hentikan, tapi tak bisa.” jawab Khaadija pelan.


   Suasana hening seketika. Hingga akhirnya, ketua rombongan itu angkat bicara.

__ADS_1


  “Dia ditangkap. Tapi Allahu a’lam dia diapakan di sana.”


  “Dari mana kamu tahu Jannah?”


  “Aku pernah di tangkap saat sedang merekam di tahun 2015 lalu.” Jawab Jannah sambil terus mengutak atik handphonenya.


   “Aliaa itu seorang jurnalis. Aku yakin kita bisa membebaskannya dengan berdalih bahwa Aliaa adalah seorang jurnalis.”


   “Tidak semudah itu Shafa! Itu sangatlah susah. Relawan kemanusiaan pun bisa mereka tangkap seenak jidat mereka! Penjara itu sangat menyeramkan. Aliaa bukan satu satunya korban. Masih banyak jurnalis


lain yang di bunuh. Tak terhitung berapa banyaknya korban jiwa yang sudah dilayangkan akibat siksaan.” Jelas Jannah.


  “Dia menghilang di balik pagar merah kecoklatan yang berhimpitan dengan tembok tembok tinggi kan?”


   "Iya." jawab Khadiija


   “Bagus! sekarang Aliaa ditangkap! Mereka bahkan bisa menangkap kalian dengan dalih ‘mencurigakan’. Kamu tidak akan tahu kapan Aliaa di bebaskan. Aliaa sendiri pun tidak akan mengetahui kapan ia akan dibebaskan oleh pihak IDF. Bahkan, allahu a’lam Aliaa masih hidup atau tidak.”


     “Jadi gimana sekarang?” tanya Shafa yang mulai resah.

__ADS_1


    “Jangan lupa, kita masuk ke Gaza, itu artinya kita sudah menyetujui segala resiko resiko yang telah disiapkan di sini. Aku tak tahu bagaimana caranya membebaskan Aliaa. Kita cuma bisa pasrah dan berdoa pada Allah, semoga Aliaa segera di bebaskan.” Jawab Jannah.


 Berhasil memasuki Gaza, itu artinya Aliaa sudah menyetujui resiko resiko yang ada. Diantaranya adalah tidak bisa keluar dari Gaza, ditangkap, terluka, kehilangan anggota tubuh, dan yang paling sadis adalah MENINGGAL.


__ADS_2