Aliaa Dan Gaza

Aliaa Dan Gaza
Episode 28


__ADS_3

"Hafsha."


"Ya?"


"Kamu tahu rumahnya Tahriir, adiknya Nur?"


"Ada di Nuseirat. Kenapa?"


"Samah tadi tertembak. Ia memintaku memberikan bunga ini pada Tahriir."


"Baiklah. Ayo kita pergi ke sana!"


Hafsha dan Aliaa segera pergi ke rumah Tahriir.


"Memang zionis itu sangat kurang ajar. Untuk apa ia menembak Samah yang berusia 12 tahun itu?"


"Jangankan anak anak Aliaa. Bayi pun mereka bunuh." Kata Hafsha sambil terus menyetir.


"Mereka tak peduli mereka melakukan pelanggaran. Bagi mereka, mereka tak akan dihukum."


"Kamu tahu pembunuhan Nadiaah dan 1 paramedis lainnya? Itu sudah melanggar aturan gencatan senjata. Bahkan jika aku boleh katakan, melukai jurnalis juga termasuk pelanggan. Kalian memiliki kebebasan pers. Maka bisa dikatakan, kalian seharusnya dilindungi."


"Ehmm... Setahuku juga harusnya orang asing dilindungi. Kalian tak boleh dibunuh sih setahuku."


Mereka tiba di rumah Tahriir.


"Assalamualikum Tahriir."


"Waalaikumussalam warahmatullah."


"Emm... Ada apa ya?"


"Samah menitipkan bunga ini untukmu."


"Jazakumullah Khairan. Lantas, di mana Samah sekarang?"

__ADS_1


"Emm..."


Tetangga Tahriir, yaitu Shafiyah menghampiri Tahriir.


"Tahriir, kamu harus pergi ke rumah sakit di Jalur Gaza sekarang!"


"Mengapa?"


"Ikut saja dulu."


"Kak Hafsha sama temannya kakak ikut?"


Hafsha hanya mengangguk. Notabene: karena Aliaa anggota baru, jadi Tahriir tidak mengetahui namanya Aliaa 😂. Tiba di suatu tempat (belum sampai rumah sakit ceritanya), Aliaa dan Hafsha mendapati sebuah kerumunan. Seorang anak menangis mendapati kakaknya tergeletak tak bernyawa di sisi reruntuhan.


"Jangan pisahkan aku dari kakakku!!"


"Tidak tidak. Kami akan membawa kakakmu ke rumah sakit."


Aliaa menggendong anak itu. Tampak muslimah itu merasakan mual.


Aliaa segera membuka tasnya dan mengeluarkan kantong plastik. Kebiasaan yang sudah berjalan selama ia tinggal di Indonesia ternyata bisa berguna.


"Muntahkan di sini."


Aliaa teringat sebuah kisah di Indonesia. Sebagai anak rantau yang tak memiliki siapapun di Indonesia, ia harus menerima kenyataan seperti anak kuliahan pada umumnya. Dompet yang mulai kering. Ia sekamar dengan Nadiah, Nahdiyah, dan Naura (ngekos :v).


"*Ga enak ya jadi kita. Makanannya martabak - mie - martabak - mie. Paling paling kalau selain itu juga jarang banget."


"Kata siapa hidup kita nggak enak? Harusnya kamu bersyukur. Mending kita kan dari pada kakak kakak kita yang kuliah. Banyak yang makan mie terus."


"Emm... Lagi pula saudara seiman kita di Palestina dan Suriah banyak yang nggak makan. Allah masih sayang sama kita."


"Buktinya?"


"Tiap hari kita makan :v."

__ADS_1


"Yaeyalah!! Maksudku apa nggak ada bukti yang lain??"


"Dengerin gw ya Aliaa, mana buktinya Allah gak sayang sama kita? Kita sampai sekarang sehat sehat aja Alhamdulillah. Masih idup pula. Meski kita makannya itu itu aja :v." Balas Nahdiyah*.


Mereka benar. Apa yang pantas dikeluhkan? Toh diluar sana banyak bet orang orang yang kelaparan. Masih mending kita kan, makan tiap hari :v.


Usai mengurus kakak dari anak yang tadi, Aliaa menghampiri Tahriir di lobby rumah sakit.


"Kakak ke mana saja? Kenapa lama sekali?"


"Hehehe. Maaf. Tadi masih ada urusan sebentar. Ya sudah, yuk kita masuk."itu


Tiba di sebuah kamar, ada banyak orang yang mengerumuni sebuah ranjang.


"Semoga kamu tabah ya Tahriir."


"Kenapa? Ada apa?"


"Adikmu meninggal tadi dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ia tertembak pada saat sedang melempar batu ."


"Hasbunallahu wani'mal wakiil. Ya Rabb."


Tahriir menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Shafiyah mengantarkan Tahriir ke ranjang adiknya. Di saat itu pula tangis Tahriir pecah. Ia harus kehilangan adik dan juga kakaknya dalam jangka waktu beberapa bulan.


"Aliaa, kamu dipanggil ke markas utama bersama Hafsha. Ada hal yang perlu dibicarakan dengan komandan."


"Hafsha, kita dipanggil ke markas utama."


Hafsha hanya mengangguk singkat.


"Tahriir, maaf aku harus pergi dulu. Yang sabar ya. Semoga Allah menjagamu. Tetap berjuang, buatlah kakakmu bangga. OK?"


"Baik kak Hafsha. Jazakumullah Khairan."


Aliaa pergi dari tempat itu. Hhhh... Ya Rabb. Apa yang akan dikatakan oleh komandan mereka itu?

__ADS_1


__ADS_2