Aliaa Dan Gaza

Aliaa Dan Gaza
Episode 4


__ADS_3

Penjara IDF, 21 January 2018.


 “Sudah ku katakan pada kalian berulang kali, aku tidak ikut dalam bentrokan apapun! Aku hanya seorang jurnalis! Teman temanku mengatakan ada bentrokan, makanya aku merekam di sana.” kata Aliaa.


  Air mata muslimah itu mengucur deras. Sudah 7  jam Aliaa diinterograsi pihak IDF.  Tanpa makan, tanpa minum. Begitu mengerikan. Di mana seorang muslimah di interograsi sendirian tanpa ditemani mahramnya.


  “BOHONG!” bentak laki laki itu.


 “Ya Rabb, ya Allah, mesti ku katakan apa lagi kepadanya??” lirih Aliaa pelan.


  Laki laki itu memukul Aliaa. Darah mengucur dari tubuh muslimah berusia 21 tahun itu. Ia hanya meringis kesakitan, tak berani mengangkat suara sedikitpun.


  “Masukkan dia ke penjara! Biarkan ia berkumpul dengan teman temannya!”


  Aliaa di masukkan ke dalam sel yang isinya ada 10 orang mulai dari usia 12 – 30 tahun.


 “Ya Allah, kenapa aku mesti ditangkap??”


 “Bersabarlah. Kita semua tak tahu kenapa kita ditangkap.” Ujar gadis yang di samping Aliaa.


 “Lihat gadis yang asyik bermain itu? Dia baru berusia 12 tahun.”

__ADS_1


 “12 tahun?”


 “Ya. Dia ditangkap akhir tahun 2017.”


 “Oh ya, aku Layla. Usiaku 22 tahun.”


 “Aku Aliaa, 21 tahun.” Kata Aliaa sambil tersenyum.


 Aliaa merenung. Kesalahan apa yang dia perbuat sebagai seorang jurnalis?


 “Bagaimana kamu bisa ditangkap Aliaa?”


 “Entahlah. Mereka tiba tiba menarikku.”


 “Kalian bebas!” ujar seorang IDF pada Aliaa dan dr. Reihana.


  Kawan kawan 1 sel memeluk Aliaa dan dr. Reihana. Aliaa dan dr. Reihana digiring menemui teman /  keluarga yang menjemput mereka.


 “Nadiaah? Aisyaa? Ke mana kakimu yang kiri Aisyaa?” tanya Aliaa sambil memperhatikan Aisyaa yang berdiri di bantu tongkatnya.


 Muslimah itu memeluk Aisyaa. Sementara Aisyaa hanya tersenyum simpul.

__ADS_1


“Ke mana kak Jannah? Ke mana kak Shafa? Ke mana Khadiija?”


  “Mereka sudah kembali ke Egypt pada awal February. Aku baru keluar dari rumah sakit 2 hari usai mereka pulang. Mereka di desak pulang ke Egypt. Tapi tenanglah, mereka akan kembali ke Gaza insyaa Allah awal bulan Ramadhan.”


  “Jangan khawatir Aliaa. Kamu bisa tinggal di rumahku.” Seloroh Nadiah sambil membantu Aisyaa berjalan keluar dari bangunan menyebalkan itu.


  Wajah Aliaa tampak ragu ragu. Jujur saja, sebenarnya Aliaa ingin pergi meninggalkan tempat ini. Banyak alasannya. Entah karena banyak darah yang berceceran lah, atau penangkapannya pada bulan January


lalu. Tapi, dikarenakan Aliaa tak ada pilihan lain, ia terpaksa tinggal di Gaza sampai Ramadhan mendatang.


   “Apa kamu tidak keberatan Nadiaah?” tanya Aliaa dengan ragu.


   “Tentu tidak. Tidak ada Nahdiyah di rumahku semenjak ia sibuk di medan juang. Rumahku sepi. Aku hanya tinggal ber5.” Kata muslimah yang sebaya dengan Aliaa itu.


   Aliaa dan teman temannya tiba di rumah Nadiah dan temannya. Rumah itu seolah diisi 3 negara. Palestina, Indonesia, dan Egypt. Ada seorang paramedis di rumah Nadiah. Yasmeen namanya.


     “Tanggal 30 Maret akan ada great return march di perbatasan. Ku pikir kita membutuhkan tim medis. Kau mau ikut?” tanya Yasmeen pada Nadiah.


    “Aku? Itu pertanyaan yang membingungkan sekali. Aku terakhir mempelajari P3K itu pada usia hampir 12 tahun.” Kata Nadiah sambil tertawa.


    “Ikut saja dulu. Kau bisa jadi petugas lapangan kan?” kata Yasmeen

__ADS_1


    “Ya sudah, aku ikut ke perbatasan. Aliaa, kamu mau ikut? Di sana kamu tidak akan ditangkap. Aku yakin banyak jurnalis lain yang ada di sana.” Canda Nadiah.


    “Emm. Baiklah akan aku coba.” Kata Aliaa dengan sedikit ragu.


__ADS_2