
Esoknya, sebelum Yasmeen berangkat ke perbatasan, Aliaa sudah bersiap untuk berangkat bersama Alaa ke Jabalia. Yasmeen yang sedari tadi memerhatikan Aliaa hanya tersenyum sendiri.
“Jangan khawatir Aliaa. Mungkin ia akan datang sekitar jam 7 – 8. Jika kamu ingin membawa Aqsha (atau Quds diambil dari Al Quds atau Al Aqsha) atau Asima silahkan untuk membantu Aisyaa menjaga mereka. Oh ya, Aisyaa, adiknya Alaa akan menemanimu di rumah.” Kata Yasmeen.
Asima, adik Yasmeen yang sudah berusia 12 tahun itu menatap Yasmeen, kakak satu satunya.
“Kak Yasmeen, bolehkah aku ikut kak Aliaa?” tanya Asima.
“Baiklah, tapi hati hati. Kita masih dalam kondisi seperti ini.” Jawab Yasmeen.
Sepertinya, Aliaa mulai terasa sendiri di Gaza. Nadiah dan Yasmeen pergi ke perbatasan. Nahdiyah sibuk di medan tempur sejak tahun 2016. Kini teman Aliaa di Gaza hanya Aisyaa dan Alaa.
“Aku pamit dulu ya. Assalamualaikum.”
“Walikumussalam warahmatullah.”
1 jam Aliaa menunggu, Alaa datang bersama adiknya, Sama.
“Assalamualaikum.”
“Walikumussalam warahmatullah.”
“Apa kabar Asima?”
“Alhamdulillah baik baik saja.”
“Saya Alaa. Kamu Aliaa kan? Yasmeen memberitahuku bahwa kamu ingin pergi ke Jabalia.” Kata Alaa sambil menjabat tangan Aliaa.
Alaa. Muslimah berhijab berscraf putih itu mengajak Aliaa menuju Jabalia.
__ADS_1
“Alaa, kamu pernah ditangkap?” tanya Aliaa.
“Ya. Ketika aku berusia 16 tahun.”
Usai sampai di Jabalia, Aliaa turun di sebuah tempat. Ada banyak anak anak kecil bermain di sana.
“Ini anak anak di sini. Mereka baru selesai mengaji.”
“Aku jadi teringat Indonesia.”
“Kamu dari Indonesia?”
“Tidak. Aku dari Egypt. Sahabatku yang tinggal bersama Yasmeen itu orang Indonesia. Hanya saja, aku tinggal di Indonesia dari tahun 2011 – 2014. Banyak taman pendidikan Al Qur’an di sana.” Jawab Aliaa.
“Berapa usia mereka?”
“Mungkin sekitar 4 – 7 tahun.”
“Dibunuh atau ditangkap. Banyak anak anak Palestina yang yatim piatu. Tak sedikit yang orang tuanya ditangkap atau bahkan di bunuh.” Jawab Alaa.
“Kamu ingin ke mana Aliaa?”
“Ehmm, berkeliling Jabalia. Apakah kamu mau mengantarku?”
“Tentu saja. Tak masalah.” Jawab Alaa sambil tersenyum.
Mereka melanjutkan perjalanan berkeliling Jabalia.
“Aliaa, kita menepi dulu ya. Aku akan shalat dulu sebentar.”
__ADS_1
Baru Alaa berjalan mendekati masjid, sebuah bom meledak. Alaa terpental akibat ledakan itu. Aliaa menghampiri Alaa yang tergeletak di sisi jalan.
“Alaa? Kamu baik baik saja?” tanya Aliaa.
“Alhamdulillah.” Jawab Alaa sambil memegangi kepalanya yang sedikit sakit.
Alaa bangkit menghampiri 2 perempuan yang berdarah darah. Mungkin usianya 15 dan 5 tahun, lalu membawa mereka ke kendaraan dibantu dengan Aliaa.
“Tampaknya kita harus membawa mereka ke rumah sakit dulu Aliaa.”
Aliaa hanya mengangguk. Mau tak mau, Aliaa harus ikut Alaa pergi ke rumah sakit.
“Asima, kamu bisa berbagi tempat dengan mereka kan?” tanya Alaa.
Gadis itu hanya mengangguk. Sejak kecil Asima sering mengikuti Yasmeen ke rumah sakit. Tangan remaja berusia 15 tahun itu bergerak.
“Tampaknya mereka masih hidup kak Alaa.” Kata Asima.
“Alhamdulillah.”
Alaa segera tancap gas tanpa memedulikan rasa sakit di kepalanya. Seolah olah rasa sakit itu berkurang perlahan. Aliaa tiba di rumah sakit. Usai 2 muslimah tadi mendapat penanganan, Aliaa menghampiri remaja yang seusia dengannya saat pertama kali menapak kaki di Indonesia. Aliaa memang takut akan darah, tapi setidaknya ia masih memiliki hati nurani.
“Siapa namamu?”
“Fathiya.”
“Kamu memiliki keluarga di Jabalia?”
“Aku memiliki kakak.”
__ADS_1
“Kamu memiliki nomernya?”
Fathiya memberikan nomer kakaknya. Aliaa segera menelepon kakaknya. Usai kakaknya Fathiya datang, Aliaa melanjutkan perjalanannya.