Aliaa Dan Gaza

Aliaa Dan Gaza
Episode 19


__ADS_3

Hafsha menelfon Aliaa. Ia bilang, sebentar lagi mereka beroprasi. Aliaa menyejajarkan tubuhnya dengan Asima.


"Asima, aku pergi dulu ya. Ada masalah yang harus diselesaikan."


"Aku ikut."


"Baiklah."


Aliaa akan menitipkannya di rumah Sama. Aliaa menitipkan kunci rumah Yasmeen pada tetangganya. Baru beberapa langkah Aliaa berjalan, Hafsha muncul di hadapannya.


"Aliaa! Cepatlah!"


"Tapi Asima..."


"Asima, Aliaa akan pergi dulu bersamaku. Kamu diam di Jalur Gaza dulu ya ^-^."


"Tidak! Aku ingin ikut berperang."


Hafsha memandang Aliaa. Aliaa hanya mengangkat bahunya. Hafsha membawa Aliaa pergi beberapa meter dari Asima.


"Tampaknya ia bisa ikut temanku. Ada temanku yang bertugas menjaga camp. Kita bisa menitipkannya di sana. Zuhair juga membawa adiknya. Adiknya Zuhair berusia 12 tahun juga." Kata Hafsha.


"Baik. Tapi bagaimana dengan kakakmu?"


"Nanti aku akan jelaskan padanya."

__ADS_1


Hafsha membawa Aliaa ke markas kakaknya. Usai menjelaskan perihal Asima, mereka mematangkan kondisi selama 3 hari. Usai siap bertempur, pasukan pun berangkat. Memasuki sebuah wilayah terpencil. Di sana mereka mendirikan camp. Mereka beristirahat sejenak.


"Kapan kita akan beroprasi Qassam?"


"Besok malam. Paginya kita mematangkan strategi dulu."


Aliaa yang mendengar itu hanya terdiam. Senjatanya sudah ada di sampingnya kalau kalau ada musuh datang menyerang. Ummi Kultsum Nurul Ain. Kakak Aliaa. Aliaa sangat merindukannya. Hafsha datang dan merangkulnya. Malam ini giliran Aliaa, Hafsha, Zuhair, dan Izzati yang berjaga (note: untuk laki laki berjaganya di luar tenda sementara perempuan berjaga di pintu tenda.)


"Kamu kecewa atas keputusan kamu tinggal di Gaza Aliaa?"


"Tidak. Aku hanya merindukan kakakku."


"Tenanglah. Kami semua begitu."


"Kamu salah satu otak di balik aksi kita besok malam Hafsha?"


"Tapi besok malam ini cukup berbeda." kata Hafsha tanpa menoleh sedikitpun.


"Maksudmu?"


Hafsha menoleh ke arah Aliaa.


"Aku sudah 2 kali ikut beroprasi. Tugas kami sangat berbahaya pada saat itu. Tapi besok malam, tugas kita memang berbahaya, tapi jauh lebih berbahaya yang sebelumnya."


"Mengapa begitu?"

__ADS_1


"Karena si perwira penjajah itu. Kamu tahu? Jika sudah seperti itu maka kemungkinan besar tempat pelaksanaan perencanaan kakakku akan di bom. Kakakku tak mau mengambil resiko. Itulah sebabnya kita diberi tugas yang lebih ringan."


Esok malamnya, usai shalat witir, pasukan bersiap siap berangkat. Aliaa menggandeng tangan Asima yang sudah mulai kelelahan. Begitu pula dengan Zuhair. Ia menggandeng tangan adiknya yang sudah mengantuk. Aliaa menyembunyikan senapannya di balik pundak.


"Kakak ingin ke mana?" tanya adik Zuhair, yaitu Mubarak bersamaan dengan Asima


"Kami akan pergi sebentar. Jangan khawatir, kami akan segera kembali. Tidurlah ini sudah malam." jelas Hafsha yang muncul tiba tiba


Aliaa bergegas menutup pintu tenda. Ia menghampiri Aftah yang sedang memastikan tak ada yang mengikuti mereka.


"Aftah. Ku titip Asima ya."


Aftah hanya mengangguk.


"Mengapa kamu mengatakan kita akan segera kembali?" tanya Aliaa.


"Tentu saja. Jika kita tidak kembali ke sini, maka kita akan kembali ke rahmatullah."


Rombongan pasukan segera berangkat. Seperti biasa, yang perempuan berada di posisi paling belakang. Hafsha berada di depan selaku ketua rombongan yang perempuan, sementara Izzati di belakang guna menjaga temannya dari serangan musuh. Mereka masuk ke sebuah tempat. Penjara di tempat yang diclaim milik negri khayalan itu. Tujuan utama mereka adalah membebaskan beberapa ( 2 / 4) tahanan. Kelompok bersenjata dibagi 2. Bagian utara dan selatan. Aliaa, Zuhair, Khaulah dan Nur berada di selatan.


"Apakah aman Izzati?"


"Ya. Penjaganya sedang tidur. Anjing penjaga juga sudah tak ada."


Hafsha menjalankan aksinya. 2 tahanan yang dijaga ketat terbebas.

__ADS_1


"Jaga baik baik. Bawa dia ke camp terlebih dahulu. Nanti insyaa Allah aku akan menyusul." kata Hafsha.


__ADS_2