Aliaa Dan Gaza

Aliaa Dan Gaza
Episode 5


__ADS_3

Nadiah mengajak Aliaa berkeliling kota Gaza. Maklum saja, selama 2 bulan Aliaa di Gaza, ia menghabiskan waktunya di penjara. Tak lupa, Nadiah membawa Quds, adik Yasmeen yang paling kecil. Tiba di suatu tempat, Aliaa memoto beberapa anak kecil yang ayik bermain. Aliaa menyejajarkan tubuhnya dengan anak itu.


“Kalian sedang bermain apa?” tanya Aliaa sambil tersenyum.


“Kami sedang bermain syahid syahid-an kak.” Jawab mereka.


Aliaa berdiri lalu membiarkan anak anak itu  bermain. Umur mereka mungkin masih sekitar 4 – 5 tahun.


“Apa pemandangan itu biasa terlihat di sini Nadiaah?” tanya Aliaa.


“Entahlah. Aku juga bingung.” Jawab Nadiaah sambil terus menggendong Quds.


“Heeh. Kebiasaan ini Nadiaah kalau sudah pakai earphone -__-.” Kata Aliaa kesal sambil mencabut kabel earphone Nadiah dari Hpnya.


“Hehehe. Maaf maaf. Aku baru pertama melihat ini.” Kata Nadiah sambil tertawa.


Memang, gadis asal Indonesia itu terasa asing di mata Aliaa. Pasalnya, nilai nilai adab masyarakat Indonesia yang diajarkan turun temurun itu sangat melekat di diri muslimah itu. Tentunya budaya budaya yang tidak pernah diajarkan kepada Aliaa. Contohnya saja salim kepada orang yang lebih tua (pastinya yang mahram lho yaa), atau sedikit membungkuk ketika jalan di depan orang yang lebih tua / orang yang sedang duduk. Hal itu yang membuat Aliaa menyukai Indonesia.


“Kamu lihat reruntuhan itu? Itu dulunya bangunan sekolah.” Kata Nadiah sambil menunjuk sebuah puing puing bangunan.

__ADS_1


Aliaa hanya ber-oh ria.


“Tempat mana yang belum kamu kunjungi Aliaa?”


“Baitul Maqdis.”


“Baiklah. Tapi kamu tak bisa pergi sekarang. Aku tak tahu daerah sana. Bahkan shalat di Masjidil Aqsha pun belum pernah. Karena memang, dari Baitul Maqdis ke Gaza, itu sangat terlarang.”


“Masyarakat Gaza tercekik blockade. Bahkan, setahuku, jika seorang lelaki ingin melamar wanita Gaza, maharnya sekitar 3000 dolar.”  Jelas Nadiaah.


Aliaa hanya terdiam. Ia tak tahu bahwa dari Masjidil Aqsha ke Gaza itu sangat terlarang.


“Kamu pernah ditangkap Nadiaah?” tanya Aliaa.


“Tidak.” jawab Nadiah simpel.


“Apakah kehidupan di Gaza begini begini saja?” tanya Aliaa.


“Aliaa, ini baru hari ke 3 kamu hidup di Gaza di luar penjara. Nanti ketika great return march kamu akan menemukan hal yang berbeda.” Kata Nadiahh

__ADS_1


Tiba di jalan, Aliaa melihat pembunuhan 3 anak Palestina dengan mata kepalanya sendiri. Nadiaah dan Aliaa  bersembunyi di balik tembok tinggi.


“Nadiaah, tolong alihkan pendanganku dari pembunuhan itu.” Ujar Aliaa.


Muslimah berusia 21 tahun yang memiliki nama samara HFI itu tak menggubris perkataan Aliaa. Ia justru menangis.


“Nadiaah? Are you ok? Kenapa kamu menangis?” tanya Aliaa.


“Aku tidak menangisi mereka. Tapi sesungguhnya aku menangisi diriku sendiri. Mereka diwafatkan oleh Allah di usia muda karena amal mereka sudah cukup. Ada 1 diantara mereka yang merupakan adik tetanggaku. Mereka adalah penghafal al Quran 30 juz. Sementara aku? Apa yang telah aku lakukan di usia mudaku?” isak muslimah itu.


“Nadiaah, para zionis itu sudah pergi.” Ujar Aliaa pelan.


Esoknya, Aliaa berkunjung ke rumah tetangganya.


“Hasbunallahu wani’mal wakiil.”


“Alhamdulillah, dari keluarga kami ada yang diangkat menjadi syuhada fii sabiilillah.”


Aliaa tertegun. Di saat saat seperti ini masih sempat sempatnya bersyukur dan memuji Allah? Aliaa tertarik dengan keimanan penduduk Palestina. Ia ingin tinggal di Gaza lebih lama. Aliaa yakin, pada great return march nanti, Aliaa akan mendapati keajaiban yang belum pernah ia lihat.

__ADS_1


__ADS_2