Aliaa Dan Gaza

Aliaa Dan Gaza
Episode 6


__ADS_3

  Great return march dimulai. Aliaa yang didampingi Nadiah dan Yasmeen datang ke perbatasan. Banyak jurnalis lain yang datang ke tempat itu. Darah darah dari para korban mulai menghantui pikiran Aliaa. Memang, Aliaa belum terbiasa melihat darah. 1 hal yang membuat Aliaa takjub, suara takbir serasa tak henti henti dilafalkan para demontstran.


  “Bagaimana hari ini Aliaa?” tanya Nadiah yang memang menjadi petugas lapangan.


   Fokus Aliaa menjadi teralihkan melihat baju Nadiah yang mulai terciprat darah.


   “Emm. Apa yang sedang kamu lihat Aliaa?” tanya Nadiah


  “Ehh, tidak tidak. Sepertinya aku tak terbiasa melihat darah. Bagaimana denganmu?”


   “Cukup sibuk. Banyak korban yang berjatuhan. Apalagi Yasmeen. Mungkin jika bisa menyelonjorkan kaki 5 menit saja itu sudah sangat bersyukur.”


  “Nadiaah, bolehkah aku bertanya?”


   “Ya.”


  “Apakah mereka sudah terbiasa melafalkan dzikir di mana pun mereka berada? Apakah mereka terbiasa melafalkan ‘Hasbunallahu wani’mal wakiil’ ketika ditimpa kesedihan? Apakah mereka terbiasa bersyukur dengan mengucap ‘Alhamdulillah, dari keluarga kami ada yang diangkat menjadi syuhada fii sabiilillah’ ketika ada dari keluarga mereka yang meninggal?” tanya Aliaa bertubi tubi.

__ADS_1


  “Yapz.” Jawab Nadiah singkat.


  “Sebegitu kuatnya iman mereka?” tanya Aliaa.


   “Aku tak tahu pasti iman mereka. Yang tahu hanya Allah ta’ala. Tapi ya, mereka juga manusia. Mereka pasti juga merasa kehilangan.”


  “Emm. Kalau kau mau bertanya lebih banyak, catat di HPmu dan tanyakan pada Yasmeen saat di rumah.” Kata Nadiah lalu pergi menghampiri korban yang terluka.


  Pada saat demonstran sudah membubarkan diri, Aliaa pulang ke rumah.


  “Hari ini melelahkan sekalii.” Ujar Aliaa sembari menyelonjorkan kakinya.


  “Wahh. Tampaknya great return march menyenangkan sekali. Tampaknya jika kakiku masih sempurna aku bisa hadir di sana.” Kata Aisyaa sambil tersenyum.


  “Maaf Aisyaa. Aku tak bermaksud…”


  “Ya. Aku tahu. Tak apa. Ini bukan salahmu. Setidaknya aku masih hidup usai insiden itu. Mungkin, dengan cara ini, masih ada yang menjaga Asima dan Qudsi.”

__ADS_1


  Aliaa masuk ke kamar. Ia menatap foto foto sebelum ia ditangkap. Mengingat kejadian penangkapan pada saat January lalu benar benar mengiris hatinya.


  “Kau tahu Aliaa? Di Palestina banyak anak anak penghafal Al Qur’an. Ada yang masih berusia 4 tahun hingga 5 tahun.” Kata Yasmeen.


  “Oh ya? Aku tak tahu apa yang aku lakukan di masa masa itu.” Kata Aliaa.


  “Berapa yang tewas hari ini Yasmeen?”


  “Cukup banyak. Lebih dari 5.” Jawab Yasmeen.


  Aliaa merenung sejenak di kamar tempat ia dan Yasmeen tidur (beda ranjang tapi lho yaa). Acara great return march itu sangat menarik baginya. Sayangnya, Aliaa masih belum terbiasa melihat darah dan penembakan secara langsung. Mendengar penuturan Yasmeen saja sudah membuatnya bergeridik ngeri. Ia ingin pergi ke Jabalia, Gaza Utara. Aliaa tahu, Nadiah tidak sering dari rumah. Ia hanya keluar rumah maksimal 4 kali dalam 1 pekan bila tidak ada kepentingan yang mendesak. Apalagi, kini Nadiah menjadi petugas medis. Tentunya Aliaa tak ingin merepotkan sahabatnya.


    “Yasmeen, aku ingin pergi ke Jabalia. Kamu mau mengantarku?” tanya Aliaa.


   “Aliaa, besok aku harus bekerja.” Kata Yasmeen.


     Ini pertanyaan paling konyol yang pernah dilontarkan Aliaa. Ia lupa bahwasanya Yasmeen berbeda profesi dengannya.

__ADS_1


  “Tapi tenang saja, besok kamu masih bisa pergi ke Jabalia. Aku punya teman yang tahu daerah sana. Namanya Alaa. Besok, kau tunggu di depan rumah, ia akan datang menemuimu.” Kata Yasmeen.


   “Baiklah, terimakasih Yasmeen.”


__ADS_2