
Sepi... senyap... malam ini begitu sepi. Mungkin hanya ada suara beberapa laki laki yang sedang berjaga. Aliaa dan Hafsha dalam ancaman. Mereka sedang diburu para penjajah kurang ajar itu. Mereka harus tetap siaga dengan senapannya.
"Ini memang resiko kita Aliaa. Mati memanglah resiko terberat yang harus kita ambil." Kata Hafsha sambil merangkul Aliaa.
"Selama belum tiba masanya, nyawa kita tidak akan direnggut."
"Buktinya, sejak aku lahir sudah perang. Namun aku masih hidup sampai hari ini. Hehehe."
Bunyi semak semak terdengar. Aliaa mengerutkan dahinya. Sesosok lelaki bersenjata muncul meski tampak samar samar. Beraninya ia memasuki camp perempuan!
Aliaa mulai membidik musuhnya. Ia bersiap menarik pelatuk senapannya. JDOR! Sebuah peluru menembus tenda nyaris mengenai kepala Hafsha. Sudah berkali kali para penjajah itu menargetkan serangannya pada Hafsha. Mulai dari mengebom rumahnya, mengebom terowongan, hingga menembaknya.
"Astagfirullah. Ya Rabb. Ada musuh."
Aliaa menarik pelatuknya. Bunyi tembakan terdengar hingga 2 kali.
"Akhh!!"
Suara itu kemudian menghilang.
"Suara apa itu?? Malam ini ribut sekali. Terhitung 3 kali bunyi tembakan dan 1 kali bunyi jeritan."
"Sepertinya datangnya dari camp muslimah."
"Mungkin adikmu Qassam. Coba cek dulu."
Qassam masuk ke camp.
"Hafsha, kemarilah!"
Hafsha keluar dari tenda.
"Siapa yang kamu tembak?"
__ADS_1
"Bukan aku. Tapi Aliaa."
"Ahh!! Terserah! Siapa yang ditembak?"
"Musuh. Ia hendak menembak kepalaku." Jawab Hafsha.
"Ia berada di sana." Tunjuk Hafsha.
Qassam keluar dari camp. Ia menghela nafas kasar.
"Mereka memburu adik adik kita lagi."
"Para penjajah itu?"
"Ya. Dia sudah membunuh adikmu. Sekarang tinggal 5 orang lagi sasaran mereka."
"Ada baiknya mereka tak usah ditugaskan sementara waktu."
Pagi harinya, mereka bersiap kembali ke markas masing masing.
"Enggak. Hehehe. Aku lagi halangan." Kata Aliaa.
"Huhhh!! Kebiasaan makan di depan orang puasa!" Kata Hafsha kesal.
Aliaa hanya tertawa mendengar itu. Ia menatap wajah 2 tawanan IDF yang berhasil dibebaskan. Masih anak anak. Usianya mungkin sekitar 10 - 12 tahun.
"Siapa namamu?"
"Aku Sofia. Dia Samah."
"Wajah dan kakimu terluka Sofia. Sebentar. Aku akan mengambil obat dulu."
Aliaa mengembil perban di tasnya.
__ADS_1
"Apa yang dilakukan para penjajah itu padamu?" Tanya Hafsha.
"Kakakku tentara pembebas Palestina sejak 2016. Beberapa waktu lalu, kami ditangkap. Kami ditanya apa rencana ***** selanjutnya. Sudah ku katakan aku tak tahu, karena aku bukan bagian dari itu. Mereka tak percaya padaku." Jelas Sofia.
Samah jauh lebih pendiam dibandingkan Sofia. Hahaha. Itu wajar. Perempuan memang lebih cerewet dibandingkan laki laki. Khaulah hanya tersenyum sendiri melihat Sofia. Begitu pula dengan Hafsha.
"Siapa nama kakakmu Samah?"
"Nur. Nur Fawwaz Ummah." Jawab Samah.
Aliaa terdiam. Nur Fawwaz Ummah. Muslimah yang kemarin meninggal karena tertembak saat belajar Sirah Nabawiyah. Lidah Aliaa kelu untuk berucap. Ia tak tahu reaksi Samah jika tahu kakaknya telah meninggal.
####
"Gagal lagi????!!!"
"Bagaimana kalian ini?? Sudah total 2 utusan yang Hafsha tembak!"
"Maaf pak. Kami tak tahu Hafsha dan adiknya sedang berjaga."
"Tapi tembakannya meleset kan??"
"I-iya pak."
"Ahh!! Sudahlah! Keluar kalian!!"
####
Samah tersenyum simpul.
"Hehehe. Aku dengar kabar soal kak Nur kok. Kak Nur meninggal karena ditembak, kan?" Kata Samah sambil tersenyum.
"Aku ingin keluar, tapi kak Aftah melarang karena sedang terjadi baku tembak." Lanjut Samah.
__ADS_1
Aliaa tak tahu lagi harus berkata apa. Ya Rabb. Aliaa telah kehilangan banyak temannya sejak ia berada di Gaza. Mulai dari Alaa, kemudian Nadiah, Yasmeen, dan juga Nur.
Tapi, ingatlah. Janji Allah itu nyata. Mengapa harus takut menghadapi kematian (eh eh, tapi bukan berarti kalian naik motor gak pake helm ya -__-. Pakai helm itu bentuk ikhtiar kita menjaga keselamatan)? Nyawa kita ada di Allah. Selama belum waktunya, rezeki kita akan dijamin, dan juga kita akan tetap hidup.