
Aliaa menatap muslimah yang tengah melepas niqabnya itu. Mengetahui Aliaa sedang memperhatikannya, muslimah itu menjulurkan tangannya.
"Assalamu'alaikum. Namaku Khaulah." kata muslimah itu sambil tersenyum.
"Walikumussalam waramatullah. Namaku Aliaa."
"Nama yang indah."
Tak lama kemudian, Hafsha dan Izzati kembali. Bersama 3 temannya yang bernama Nur, Qonitah, dan Zuhair.
"Aliaa. Kamu bisa mulai latihan hari ini."
"Hah?"
"Yapz. Hahaha, sebenarnya, aku meminta Zuhair untuk mengajarimu. Tapi dia menolak karena dia masih berusia 16 tahun. Jadi, aku yang akan melatihmu."
"Baiklah. Tapi aku meminta izin dulu pada orang tuaku."
Aliaa menelepon orang tuanya. Orang tua Aliaa tahu, Aliaa kini sedang terjebak di Gaza. Tak ada yang tahu ajal Aliaa kapan selain Allah taala. Sehingga, orang tua Aliaa 'harus' merelakan jika Aliaa syahid di Gaza.
__ADS_1
Telepon berakhir. Aliaa hanya tersenyum. Ia memberitahukan pada Hafsha jika dirinya direlakan jika syahid di Gaza. Usai 7 hari 7 malam latihan di rumah Hafsha, Aliaa kembali menjalankan tugasnya sebagai jurnalis. Dan Alhamdulillah, Asima sudah keluar dari rumah sakit. Mereka diantar Sama menuju Jalur Gaza.
"Sejak kapan kamu memakai niqab Aliaa?" tanya Aisyaa
"Sejak 7 hari yang lalu. Kamu mau Aisyaa?"
Aisyaa mengangguk. Begitu pula Asima. Oh ya, sebelum kembali ke rumah Hafsha, Hafsha membelikan Aliaa lebih dari 3 helai niqab.
"Apa kabar Sama?"
"Alhamdulillah. Ayo Asima, kita kembali ke rumah kakakmu." kata Sama sambil menggandeng Asima.
"Kak Aliaa hanya datang menjengukku 1 kali saja! Padahal aku tahu kak Aliaa ada di Jabalia." Kata Asima sambil memasang wajah kesal.
"Tampaknya, semua skill mengomel perempuan keluar disaat ia sedang marah." batin Aliaa sambil tersenyum.
"Kak Alaa di mana? Kak Nadiaah sehat kan kak?"
"Alaa sudah meninggal 4 hari setelah kamu masuk rumah sakit Asima."
__ADS_1
"Lalu kak Nadiaah?"
"Dia meninggal 2 hari usai Alaa meninggal."
Asima terdiam seribu bahasa. Muslimah berusia 12 tahun itu menatap sedih wajah Aliaa.
"Jangan khawatir, kakak akan menjagamu."
Ya. Selama Yasmeen masih berada di luar Jalur Gaza, Aliaa akan menjaga Asima. Meski, sebentar lagi ia akan ikut Hafsha melancarkan aksinya. Kalian tahu maksudnya? Yaitu mengikuti PEPERANGAN. Hal yang sangat beresiko kematian, dan Aliaa harus meninggalkan kameranya saat melancarkan aksi. Tapi Aliaa tetap mengkutinya. Ia berharap, Allah meridhai pilihannya.
Dibalik keteguhan Aliaa mengikuti latihan, siap turut ikut di peperangan, tentunya pasti ads godaan. Salah satunya nanti pada saat bulan Ramadhan. Yahh~ kelihatannya ia harus berpikir 2 kali untuk menetap di Gaza atau meninggalkan Gaza. Aisyaa. Bagaimana dengan Aisyaa? Apakah ia akan pulang ke Egypt? Ahh! Lupakan apakah Aisyaa akan pulang ke Egypt atau tidak. Aliaa teringat Hafsha, yang memberinya tanggung jawab yang besar. Ia juga sudah pernah berkata pada Hafsha bahwa ia akan menetap di Gaza.
"Kita sudah sampai?"
"Hah?"
Aliaa terpanjat. 20 menit hanya dipakai untuk memikirkan apakah ia pulang ke Egypt atau tidak 😂😂?? It's very amazing 😂😂!! Ya, tapi ini memang perkara serius sih.
"Doakan Alaa diterima di sisi Allah Sama. Jangan putus asa generasi pembebas Al Aqsha."
__ADS_1
"Jazakumullah khairan katsiran."
Sama memeluk Aliaa dan Aisyaa, lalu berpamitan. Dunia semakin tua. Satu persatu teman Aliaa di Gaza pergi. Ada Alaa, muslimah berscraf putih yang meninggal karena tertembak saat hendak diselamatkan dan Nadiah, paramedis yang ditembak saat menyelamatkan korban. Ini benar benar membuat Aliaa sedih.