Aliran

Aliran
sebelas


__ADS_3

HAPPY READING Y'ALL


VOTMENT NYA YA


Alika menahan marahnya ia tak boleh emosi kepada orang yang lebih tua, meskipun sikap tantenya keterlaluan.


"Jangan liatin gitu, yaudah lanjutin aja makannya," sang tante ikut duduk untuk makan bersama namun Alika tak mungkin bisa berlama-lama berada di sekitar Mira, ia segera menjauhkan dirinya dan mengurungkan niatnya untuk makan, ia mengepalkan tangannya kuat kemudian tersenyum.


"Tan Alika sakit perut mau beli barang dulu sekalian mau beli makanan buat nyemil tenang aja nanti Alika beliin makanan kesukaan tante, Alika pamit ya, nanti kesini lagi," ucap Alika menjauh dari meja makan, ia segera mengambil helmnya.


Sebelum ia pergi dari pekarangan rumah sang nenek ia melampiaskan amarahnya pada dinding yang tak bersalah, tangannya kembali memar, namun ia puas karena emosi yang seharusnya ia keluarkan melalui ucapan bisa ia lontarkan melalui tindakan.


"Mie ayam mang Karta aja deh, kalau gue ke taman nanti ketemu kang kebun duh di omelin lagi pasti." Ucap Alika mengendari motornya dengan kecepatan penuh.


Sesampainya di warung mie mang Karta ia melihat Raffa yang sedang makan juga di sana. Tebakan Alika salah sepertinya laki-laki itu berkeliaran di sekitar sini jika malam hari.


"Duh udah kayak hantu aja berkeliaran di malam hari," ucap Alika.


Raffa menyadari kehadiran Alika. Wanita itu selalu memakai hoodie dengan setelan celana tidur beserta sandal jepit.


Pakaiannya random di mulai dari hoodie yang berwarna ungu, celana tidur yang berwarna hijau dan sandal jepit yang berwarna biru, tak lupa cassing handphone nya berwarna kuning.


"Mau manggung dimana lo," sapa Raffa.


"Dih gue kesini mau makan," jawabnya.


Alika belum sadar jika dirinya warna warni seperti pelangi, untung saja motornya berwarna putih jika berwarna merah lengkap sudah pelanginya.


" Dari atas sampai bawah udah kayak pelangi aja, berwarna," ucap Raffa.


Akhirnya Alika sadar dan memperhatikan dirinya dari pakaian hingga semua aksesoris yang melekat di tubuhnya.


"Duh tiap ketemu Raffa gue malu-maluin mulu deh"-pikirnya.


Alika tak mau ambil pusing ia cuek saja dengan keadaan sekitar. Toh udah malam jadi tak perlu juga ia berdandan rapih lagi pula setiap hari pun ia selalu wangi.


Penampilan itu sebenarnya penting, bukan seberapa mahal baju yang di pakai tapi serapih apa penampilannya juga kebersihannya yang jadi hal utama apalagi kalau tercium segar dan wangi pasti orang-orang sekitar merasa nyaman dan menarik.

__ADS_1


"Gak apa-apa biar gue yang paling bersinar di malam hari," sinisnya.


Raffa tertawa dengan penuturan Alika, ia sukses membuat Alika kesal lagi dan lagi.


"Pemecah teori pelangi hanya muncul setelah pembiasan cahaya," ucap Raffa memperhatikan Alika.


Alika memiliki ide membalas ledekan Raffa, tak apalah dirinya di sebut narsis toh sering malu-maluin kalau di depan Raffa.


"Siapa tau aja gue bidadari yang kehilangan selendang dari ujung pelangi ya gak" Alika duduk tepat di depan Raffa.


Mendengar hal itu Raffa kembali tertawa.


" Yaampun neng Alika kan INFLUENZA kenapa bisa jadi bidadari," ucap mang Karta mengantarkan pesanan Raffa.


Raffa tertawa dengan penuturan sang penjual mie ayam, bagaimana bisa Alika di katain penyakit.


"Duh mang niatnya Alika mau narsis eh malah di ungkit-ungkit," ucap Alika pasrah.


Raffa memperhatikan Alika, ia berusaha menahan tawanya.


"Kenapa mang Karta bisa ngomong gitu?," tanya Raffa sedikit penasaran meskipun bukan hal yang penting.


"Kemarin-kemarin gue bilang kalau followers instagram gue banyak terus mang Karta malah bilang gue INFLUENZA bukannya INFLUENSER," ucapnya.


Raffa membekap mulutnya sendiri, lucu saja melihat Alika seperti ini.


Alika beranjak mengambil minum untuk dirinya dan Raffa namun di cegah oleh Raffa.


"Sakit Raff," Alika meringis kesakitan.


Raffa mencurigai tangan Alika memar lagi. Sebelum lukanya di lihat oleh Raffa ia buru-buru mengambil minumannya.


"Aduh gue gak mau Raffa terus-terusan melihat luka ini, bisa-bisa dia penasaran sama keluarga gue,"- pikir Alika.


"Alika sering banget luka, gue harus bantuin dia,"- pikir Raffa.


"Nih minumnya, lain kali abisin dulu makannya oh iya lo kan calon dokter jangan makan mie terus jaga tuh kesehatan," ucap Alika.

__ADS_1


"Jaga kesehatan bukan Cuma untuk calon dokter aja tapi untuk semua orang Namira," ucap Raffa.


Lagi-lagi Raffa memanggilnya Namira.


"Alika ih, gue tuh Alika, jangan panggil Namira atau gue jitak lo," ucap Alika.


Mereka berdua menyantap makanan dengan lahap, terlebih Alika belum sempat makan di rumah neneknya.


Raffa memperhatikan Alika yang sedang makan dengan lahap, ia menyimpulkan bahwa Alika baru saja makan dan ia melewatkan makan siang.


Beruntung Alika tak malu-malu makan dengan siapa pun tetepi tetap saja tatakrama saat makan selalu ia patuhi, ia tak pernah makan terburu-buru dan selalu berusaha menghabiskan makanannya.


"Kenyang gak?" tanya Raffa.


"Iya," jawab Alika.


"Kalau belum kenyang beli aja makanan lain tapi jangan mie," ucap Raffa.


"Perut gue gak bisa nampung makan banyak, bisa-bisa muntah," ucap Alika.


Raffa hanya mengangguk mendengar penuturan Alika.


Sebelum Alika pergi Raffa berhasil menarik hoodie yang menutupi tangannya.


"Sini gue obatin," ucap Raffa.


"Mang minta air hangat masukin ke botol ya sekalian kainnya," ucap Raffa yang masih memperhatikan lebam di tangan Alika.


Alika pun memperhatikan gerak-gerik Raffa. Keduanya saling bertatapan namun hanya beberapa detik saja karena Mang Karta datang memberikan botol yang sudah diisi air hangat.


Tak ada kain lagi, karena semua kain yang Mang Karta miliki tak layak untuk di berikan kepada mereka, alhasil Raffa mengeluarkan kain merah dari sakunya.


"Bisa-bisanya lo kembaran sama upin-ipin punya sapu tangan merah," ucap Alika yang msaih memperhatikan gerak-gerik Raffa.


Raffa tak menggubris ucapan Alika.


TBC......

__ADS_1


__ADS_2