Aliran

Aliran
duabelas


__ADS_3

Happy Reading Y'all


Mang Karta bertanya mengapa Alika bisa luka-luka seperti itu.


"Alika ini orangnya aneh masa marah sama tembok, kasian benda mati jadi korban udah mati eh di pukulin lagi," jawab Raffa.


Mang Karta hanya tersenyum tak mau lagi bertanya, sedangkan Alika tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Raffa.


"Lagi-lagi yang tau rasa sakit gue adalah Raffa," pikir Alika.


Alika melamun beberapa detik namun setelah itu Raffa membuyarkan lamunannya karena khawatir Alika di rasuki jin.


"Maneh saha?," ucap Raffa.


Alika tertawa, ia tak mungkin di rasuki jin tadi ia hanya memikirkan cara agar Raffa tak menanyakan hal lebih jauh lagi tentang dirinya.


"Tangan lo gede banget Raf, muka gue kusut nanti," Alika menepis tangan Raffa dari wajahnya.


"Dikiranya pakaian kali kusut," jawab Raffa.


"Nam," panggil Raffa.


Alika segera mengalihkan pembicaraan.


"Eh gue kira lo itu gak bisa di ajak bercanda terus hidup lo monoton dan gak mau berinteraksi sama orang, apalagi nanti kayak di cerita-cerita kalau sikap lo dingin kek kulkas minus derajat," Alika mengalihkan pembicaraan.


Raffa menyadarinya namun ia tetap menanggapi Alika.


"Dih kebanyakan baca fiksi sih lo, udah yuk sadar mungkin karakter itu Cuma di bangun dalam tulisan gak mungkin juga jadi nyata," ucap Raffa.

__ADS_1


Alika membenarkan ucapan Raffa karena jatuh cinta pada tokoh fiksi lebih mengerikan di bandingkan jatuh cinta pada manusia yang tak pernah membalas cintanya.


"Dengerin gue baik-baik Alika Namira, ini terakhir kalinya lo kayak gini kalau gue liat lagi lo terluka akan gue pantau 24/7 ," ucap Raffa.


"Dih serem juga," Alika menggedikan bahunya.


"Yuk pulang gue anterin sampai depan gerbang rumah lo atau enggak depan kamar lo," ucap Raffa.


"Pertanyaan gue Cuma satu, mau jadi sate jenis apa lo?," ucap Alika.


Kali ini Raffa benar-benar berniat mengantar Alika. Tak rela jika Alika terluka lagi apalagi kecelakaan.


"Oh iya bisa-bisanya lo gak pake Photo Profil, ribet kan waktu gue cari kontak lo," ucap Raffa.


"Heh itu PP akan muncul kalau lo udah jadi kontak gue, bukan punya masalah idup," ucap Alika.


Alika mencari nomor Raffa di grup les nya dan segera menyimpan kontak Raffa.


" Lo namain kontak gue apaan?," tanya Raffa.


"Raffa Les," jawabnya singkat.


"Gak asik, masa gue mas-mas les sih," ucap Raffa.


"Oke gue ganti," jawab Alika.


"Raffa kang kebun," Raffa membacanya dari handphone Alika.


"Duh nama yang sangat indah ya," ucap Raffa menyindir.

__ADS_1


Tak lagi menghiraukan pembahasan tak penting, Raffa dan Alika pun pergi dari warung mang Karta, Alika menuruti permintaan Raffa mengantarnya.


Raffa menyalip Alika yang membawa motor dengan kecepatan penuh.


"Alika jangan bawa motor kayak gitu atau gue begal motor lo terus gue anterin pulang pake motor gue aja," ucap Raffa.


"Enggak deh, iya iya gue pelan-pelan,"


Kemudian Alika melajukan motornya dengan kecepatan 20.


"Lo lagi balapan sama bebek? Gak gini juga maksud gue," ucap Raffa di pinggirnya.


Alika puas mengerjai Raffa, lagian sih kalau urusan bawa motor gak usah di hiraukan sebab Alika tidak akan mencelakai dirinya sendiri dengan motornya kecuali kalau takdir mengharuskan ia kecelakaan.


Sampai di rumah sang nenek tak ada yang menyambutnya, Alika tak berani membiarkan Raffa mengantarnya ke depan pekarangan rumah sang nenek.


Bisa-bisa sang tante meledeknya habis-habisan dan melaporkannya kepada Manda dan juga sang ayah.


Peraturan pertama di keluarga Alika adalah tak boleh pacaran jika ketahuan punya pacar akan segera mereka nikahkan itulah ancamannya, Alika dan Alina masih tak terpikirkan masalah pernikahan jadi dari pada mereka berdua punya pacar lebih baik menjomblo.


Lagi pula tak ada yang membuat Alika tertarik belakangan ini, sedangkan Alina sudah mempunyai gebetan seangkatannya, Alina tak merahasiakannya dari sang kakak tetapi Alika tetap tak bisa membiarkan adiknya pacaran apalagi tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya.


Suka sama orang boleh-boleh saja asalkan jangan sampai berlebihan.


Pagi hari Alika menemani sang nenek, ia banyak bercerita mengenai sekolahnya bahkan teman-temannya sedangkan Mira sudah pulang dari pagi karena ada perkumpulan dengan teman-temannya.


"Sayang tangan kamu kok memar, kenapa?," tanya sang nenek.


TBc.....

__ADS_1


__ADS_2