
Happy Reading Y'all
_________________
Cuaca Pagi ini memang cukup terik tapi hal itu tak membuat semua siswa bosan.
Acara ulang tahun sekolah adalah hal yang paling menyenangkan karena akan ada acara acara menarik yang menanti.
"Eh Al lo kenapa? may I help you?," tanya Raffa kebetulan berdiri dibarisan yang sejajar dengan Alika.
"Gakpapa, gue ke kelas dulu bilangin sama Bila ya kalau dia nyariin," jawab Alika.
Alika menuju ke kelasnya mengambil sebuah pil obat untuk diminumnya.
Tiba-tiba saja badannya lemas dan mengalami sesak di dadanya.
"Tetap tenang Al," ucap Alika menenangkan dirinya sendiri.
"Gak kuat sesak banget rasanya," ucap Alika.
Ia mencari ponsel untuk menelpon orang tuanya namun sayangnya tidak ada jawaban, mungkin sedang sibuk apalagi masih pagi.
Alika hanya menelpon random saja di riwayat chat nya dan kebetulan yang di telpon adalah Raffa.
" Hallo Al, " ucapnya di sebarang sana.
"Alika?,"
"Namira? are you okay?," suara dari ponselnya.
Rama datang menghampiri Alika yang sedang tidak tenang karena rasa sesaknya.
"Al gue mohon tetap tenang, gue bawa lo ke rumah sakit sekarang," ucap Rama.
Telpon dari Raffa tak di hiraukan lagi, hingga akhirnya meninggalkan ponselnya di ruang kelas karena Rama tidak sempat memikirkan hal lain.
"Pah bisa tolongin Rama?," tanya Rama kepada papa nya melalui sambungan telpon.
"Boleh kenapa?," tanya sang papa.
"..........." Rama menjelaskan kondisi yang sedang terjadi, kemudian mereka sama-sama bergegas ke rumah sakit.
Untungnya Rama membawa mobil hari ini jadi kendaraan itu siap tanpa perlu menunggu angkutan umum.
Sesampainya di rumah sakit, Alika segera di tangani oleh dokternya.
Rama panik, ia bahkan tidak memikirkan untuk menghubungi siapapun lagi selain papah nya.
__ADS_1
"Kamu udah hubungi orang tuanya.?,"
"Rama gak punya nomornya, handphone juga ketinggalan di mobil," jawab Rama.
"Yaudah nanti kita hubungi keluarganya kalau udah ada info dari dokter,"
"Pah titip jaga disini ya kalau ada apa apa kabarin Rama, mau ngambil handphone dulu ke parkiran sekalian coba ngabarin keluarganya sama temen-temen," ucap Rama.
"Iya nak tenang aja biar papa yang disini,".
Rama berjalan buru-buru ke parkiran untuk mengabari sahabatnya.
"Noval tolong kasih tau ke Bila kalau Alika masuk rumah sakit barusan, sekalian kabarin juga orang tuanya soalnya gue gak punya nomor mereka," ucap Rama saat menelpon Noval.
"Alika sebenarnya kenapa Ram?,"
"Udah lo kabarin aja dulu, suruh mereka kesini nanti gue share alamatnya,"
"Iya, kalau ada kabar terbaru jangan lupa cepet kasih tau," ucap Noval.
Sambungan terputus.
Rama kembali ke UGD menemui sang ayah yang sedang menunggu kabar dari dokter.
Sekitar 15 menit setelah mengabari Noval akhirnya mereka datang juga termasuk kedua orang tua Alika.
Noval memeluk erat Bila yang sedang kalut, ia tidak tahu kalau sahabatnya merasakan sakit. Ia malah meninggalkan Alika pagi tadi.
"Val, Alika kok gak bilang kalau dia itu kesakitan, padahal gue udah larang dia buat ikut senam tadi pagi, maafin gue Al," ucap Bila dengan gemetar lemas.
"Anak kita kenapa?," tanya Manda ibunya Alika.
"Kakak tiba-tiba sesak nafas tadi pagi," jawab Alina.
"Kalian kenapa gak ngasih tau kita kalau Alika sakit! ," sentak sang ayah.
"Maaf ya kita hanya menolong anak anda jangan menyalahkan siapapun disini," jawab Papah nya Rama.
Semuanya kembali tenang karena mereka larut dalam pikiran masing-masing.
Kabar terbaru baru saja disampaikan oleh dokternya, bahwa Alika sudah tidak bernafas lagi, denyut nadinya telah berhenti.
Mendengar semua pernyataan itu Rama langsung membeku.
gue tahu ini bohong
ini pasti mimpi
__ADS_1
telinga gue pasti bermasalah
Gak mungkin itu terjadi
Rama diam melemah, ia tak tahan akhirnya perlahan mengeluarkan air matanya yang terasa pedih.
Sebagai orang tua mereka mengecek keadaan yang sebenarnya di ruangan bersama dokter yang tadi menangani anaknya.
Rama tak berani sedikit pun melangkah ke arah ruangan itu yang didalamnya ada Alika.
Alika yang sudah bukan ada di dunia ini lagi sedang tertidur pulas diatas bangsal.
Adik satu satunya yang bernama Alina dia sudah menjerit histeris karena kabar kakaknya yang sangat mendadak ini.
Dadanya bagai di hujam oleh sebuah batu besar yang menyesakkan.
"Kakak Alina sayang kakak, kak ini pasti bohong kan? Alina lagi mimpi kan?," ucap Alina.
Dengan tatapan yang kosong Rama segera pergi dari rumah sakit. Ia mencoba menghindar dari kenyataan yang baru saja menghancurkan dirinya.
Ayahnya melarang Rama untuk pergi tapi Rama berusaha menyakinkan sang ayah kalau dia tidak akan macam-macam.
Semuanya terjadi begitu cepat sehingga sulit sekali untuk dicerna.
"Hallo, ini Raffa kan?," ucap Rama melalui sambungan telpon.
"Iya dengan siapa ya?,"
"Gue Rama,"
"Oh, ada apa?," tanya Raffa melalui telpon.
"Lo bisa gak datang ke pemakaman hari ini juga?," ucap Rama mencoba untuk menetralkan kekacauan yang ada di pikirannya.
"Siapa yang meninggal?," tanya Raffa.
"Gue mohon jangan banyak tanya, tolong datang aja nanti gue share alamatnya,"
"Hari ini gue ada jadwal," ucap Raffa.
"Gue gak mau lo menyesal, datang aja jam 3 sore ini," balas Rama final, kemudian mematikan sambungan telponnya.
Mungkin disebrang sana Raffa sedang kebingungan, entah siapa yang meninggal hari ini tapi perasaannya tidak enak. Apalagi sejak tadi pagi Alika tidak sama sekali menjawab panggilnya.
To be continued......
Thank you readers
__ADS_1
sampai jumpa lagi