
HADIR LAGIIIIIII
Haiiii Y'all Readers ALIRAN, udah lama nih gak up cerita, terbengkalai deh lapak ini, eitss tapi sekarang udah come back haha caelah udah kayak artis aja.
HAPPY READING
___________________
"Selama keputusan masih bisa di ubah maka perbaikilah"
...
"Lo berdua pacaran?," tanya Aji heboh.
"Barusan sih niatnya iya tapi gak jadi," jawab Rama.
Aji kebingungan dengan maksud Rama.
"Jadi kalian pacaran atau enggak nih?," tanya Aji menyakinkan.
Rama merangkul pundak Alika, "Tanya Alika dia mau gak pacaran sama gue,"
"Hehe enggak deh batal, makasih gak jadi," ucap Alika sembari menyingkirkan tangan Rama dari pundaknya.
Aji merasakan kejanggalan diantara mereka masa tadi tiba-tiba ada adegan nangis-nangisan sampe kayak romantis tapi ujungnya malah tetep aja gak akur.
"Gamau di boongin asli ini mah," jawab Aji.
"Awalnya gue minta Rama jadi pacar 'pura-pura' tapi gue sadar itu bukan keputusan yang tepat, gak ada niatan deh buat mempermainkan hati," jawab Alika.
"Eh guys gue pulang duluan ya," lanjut Alika.
Rama dan Aji tak mungkin membiarkan Alika pulang sendirian secara puncak dan rumah Alika jaraknya cukup jauh bahkan sangat jauh.
"Gue anterin ya," saran Rama.
"Harus banget ya? enggak deh Ram, makasih banyak loh udah nawarin," jawab Alika kemudian berpamitan meninggalkan taman di dekat vila yang di sewa oleh keluarga Raffa.
Alika berjalan menyusuri taman kemudian satu tangan merampas pergelangannya sehingga aktivitas berjalannya terhenti.
" Ada apa?, "tanya Raffa.
" Hmm itu apa..."
" Apa Al? kenapa?, " tanya Raffa.
" Oh enggak kok, emangnya kenapa lo nanya gitu? ada yang salah ya?, "tanya Alika.
" Banyak, "
" Iya sih gue emang terlalu banyak salah," Jawab Alika.
Raffa tertegun, mengapa wanita satu ini sulit sekali, kadang ingin menjadi sahabatnya yang selalu ada tapi sadar kalau sekedar sahabat gak seharusnya terlalu dekat.
" Bisa gak jangan terus menerus menyalahkan diri sendiri?, " ucap Raffa dengan nada sehalus mungkin.
Alika tak kuasa menahan sesak didadanya. Bagaimana rasanya di suruh menjauhi orang yang selalu berdiri dihadapannya dalam keadaan apapun?
Permasalahan orang tua memang tak bisa di ubah, apalagi Alika sudah merasakan sendiri sakitnya tidak dipedulikan, menjadi sepi di tengah ramai adalah hal yang lumrah untuknya tapi tidak untuk Raffa.
__ADS_1
Melihat Raffa adalah anak semata wayang, hal itu memperkuat tekad Alika untuk menjauh.
Raffa memang pernah hadir disaat Alika terluka tetapi jika Raffa terus menyeka luka yang dimilikinya maka kemungkinan besar Raffa untuk terluka cukup besar.
"Bisa asalkan kita jangan pernah deket-deket lagi ya," Alika jujur dengan ucapannya.
"Oh yaudah kalau itu mau lo, bahagia ya sama Rama," ucap Raffa.
Loh kok jadi Rama?
"Makasih ya Raff, jangan pernah lagi ninggalin Lia, gue pulang dulu ya," ucap Alika.
"Kenapa harus Lia yang lo sebut?," tanya Raffa penasaran.
"Ya karena apapun keputusan terbaik orang tua lo adalah jalan yang bisa di pilih kalau gak mau jangan berontak ada cara lebih ampuh selain itu," ucap Alika.
"Omongan lo udah ngaco, gue gak paham, bisa gak di permudah kata katanya? biar gue bisa ngerti," jawab Raffa yang sedang menahan emosinya.
Raffa pasti kesal ketika dirinya tiba-tiba diminta menjauh padahal tidak merasa salah apapun, diminta dekat dengan orang lain padahal kedekatan yang ia inginkan tidak untuk orang lain.
Apakah perempuan harus seegois itu dalam ber-argumen?
Mengapa mereka tak coba mendengar sedikit dari sudut pandang lain?
Terlalu takut yang Alika alami malah membuat Raffa kebingungan.
"Gini deh, untuk malam ini lo masih bisa stay disini kita kumpul bareng ya meskipun gue emang bukan satu sekolah sama lo tapi kan kita saling kenal, jangan pulang karna udah terlanjur izin, susah loh ngomongnya gua gugup, abis ini gue bakal jauh dari lo,"
"Enggak mau Raff," jawab Alika.
"Boleh gak gue minta stay buat sebentar ?," ucapan Raffa seakan menyejukan.
"Hmm... yaudah deh tapi ya jaga jarak sih, jangan sampai Lia nyangka macam-macam,"
"Cause she is your gf right?," tanya Alika.
"Ngaco, udah yuk balik lagi, perkara lo pacaran sama Rama bodoamat, yang penting gue gak akan ngizinin lo kabur hari ini,"
"Enak aja Rama bukan pacar gue,"
Alika berhasil dibujuk oleh Raffa.
Alika tidak luluh begitu saja tapi asalkan kalian tahu kalau Alika itu termasuk sosok penurut.
Berpikir dengan mempertimbangkan resiko itu penting, jangan gegabah mengambil kesimpulan.
Rama mengerti bagaimana cara Alika berpikir, karena segala kepura-puraan bisa menanamkan luka yang dalam.
Momen saling diam antara Alika dan Raffa sangat mengganggu, tapi apa boleh buat karena itu permintaan Alika.
"Aliikaa..." sapa Rama.
"I'm here," jawab Alika asal.
Kedua insan itu tak pernah ada kata canggung diantaranya, selain kejadian saling diam beberapa waktu yang lalu karena emosi yang tidak terkendali.
"Nanti temenin gue ketemu bokap," tutur Rama.
"Ada apa lagi?," tanya Alika.
__ADS_1
"Masalah waktu itu," jawab Rama.
"Yang mana? kok gue gak inget ya,"..
"Yang bokap gue bilang mau jadiin lo mantunya," ucap Rama.
Alika melempar Rama dengan kain lap yang sedang dipegangnya sedangkan Rama hanya tertawa puas oleh reaksi Alika.
Sekarang mereka semua sedang melakukan acara bakar-bakar makanan (BBQ).
Kebetulan Novan dan Bila pun setia berjauhan karena tidak ingin ketahuan. Bila masih merasa ragu apakah Novan juga tidak tertarik dengan Alika? entahlah dunia ini rasanya hanya terfokus pada Alika, apakah peran utama nya Alika? Bila juga sedikit heran semuanya hanya tentang Alika. Beruntung banget jadi Alika, pikir seseorang yang tidak tahu curamnya kehidupan sang gadis itu.
"Nih ambil," Raffa menyodorkan makanan yang sudah ia panggang tadi.
"Buat gue?," tanya Alika.
"Buat pak Karta," jawab Raffa singkat.
Alika yang mudah percaya mempertanyakan mengapa memberikan makanan pak Karta kepadanya, "Ih seriusan? nanti basi loh,"
Raffa hanya mengacak-acak puncak kepala Alika.
"Lain kali mikirnya realistis dan logis," ucap Raffa kemudian berlalu begitu saja.
Alika dibuat bingung bahkan ia tak sadar kalau barusan Raffa memberikan perhatian kepadanya.
Mereka berani berbincang karena situasi mendukung, tanpa adanya mata yang memandang interaksi keduanya.
Alika berjalan menghampiri Novan dan Bila.
"Pacaran kok kayak orang musuhan, deketan kek" ucap Alika.
"Siapa?," tanya Bila tak paham.
"Lo dan Lo," tunjuk nya kdepean wajah Novan dan juga Bila.
Sontak Bila dan Novan saling menatap.
"Al..." ucap Bila.
"Eh bye gue mau kesana dulu..." jawab Alika dingin dan acuh.
Bila takut Alika marah besar kepadanya, persahabatan kedua cukup terljalin lama.
"Gue bisa jelasin.....," ucap Bila yang tak di hiaraukan oleh Alika.
Raffa melihat sikap Alika yang sudah mulai berani mengekspresikan dirinya cukup kagum. Meskipun Raffa tau kalau ada gurat bersalah di mata Alika karena bersikap acuh.
"Good girl..," ucap Raffa lagi-lagi menepuk-nepuk puncak kepala Alika.
"Tangan lo maen nyamber aja," sindir Alika.
"Maaf reflek," jawabnya.
Seketika ada Lia yang menghampiri keduanya dengan penuh kekesalan.
"Oh hi Alika..., mantan teman..." sapa Lia.
-TBC-----------------
__ADS_1
That's All guys, I'm sorry, coz it' so late🙏
I Hope you're happy ❤️🌛