
Happy Reading Y'all
baru sempet publish lagi
Sesampainya di rumah, Alika belum melihat kedatangan kedua orang tuanya sedangkan Alina sudah ada di kamarnya namun tak berniat menyapa sang kakak.
"Aman," ucap Alika.
Alika membersihkan dirinya dan segera menyiapkan makanan.
"Darimana aja baru pulang jam segini?," tanya sang ibu.
"Kalau mau ada kegiatan tolong kasih tau dulu," ucap sang ayah.
Alika mengira tak akan di tanya ini namun ternyata perkiraannya salah setelah kedua orang tuanya tiba.
"Alina bilang kamu baru pulang beberapa menit lalu sedangkan jadwal les kamu sudah berakhir dari beberapa jam lalu," lanjut sang ibu.
"Alika udah ngirim pesan tapi ternyata pesan itu gak terkirim, maaf," jawab Alika.
"Kemana ? Main?," tanya ibunya.
"Alika ada ujian praktek jadi latihan dulu, latihannya di rumah temen les Alika mah," jawab Alika.
"Bohong!," ucap sang ibu.
Tak bisakah sekali saja diberikan kepercayaan, toh selama ini Alika tak pernah berbohong apapun pada kedua orang tuanya selain mencari alasan tentang part time itu pun karena mereka tak pernah mempermasalahkannya.
Rasanya sakit ketika orang tua yang paling dekat justru tak menaruh kepercayaan sama sekali.
"Alika gak bohong mah," lirihnya.
"Apa pantas kamu seharian di luar rumah? Alina aja selalu nurut masa kamu gak coba buat ngertiin situasi," ucap sang ayah.
Awalnya Alika bisa menerima bahwa dirinya tak di percaya tetapi ketika sang ayah membandingkan dirinya dengan orang lain hatinya hancur.
"Aku sama orang lain itu beda yah, aku tau aku bukan anak baik tapi seenggaknya jangan hancurin aku dengan cara seperti ini," batinnya meringis.
"Aku tau itu salah maafin Alika, tadi Alika udah makan jadi izin buat nganterin bukunya Bila soalnya besok ada tes kasian kalau dia gak belajar." Ia beranjak ke kamarnya untuk membawa buku, kunci motor dan helm nya.
Ayah dan ibunya Alika membiarkan Alika pergi karena mengerti situasi Bila, takutnya Alika jadi penghalang bagi orang lain mendapatkan nilai.
Alika tak bisa lagi terus menerus memendam semua ini.
Keluar untuk mencari udara segar mengendarai motor sendirian adalah cara yang tepat untuk meluapkan emosi bagi Alika.
Alika POV
Aku tau aku salah, tapi bisa tidak jangan berteriak untuk mengingatkan kesalahan ku?
Aku lemah yah, aku lemah mah, aku gak kuat, aku ingin menangis di depan kalian
Tapi aku tau kalian tak akan menyukai tangisanku
Ketika aku menangis kalian tak pernah membuat tangisan itu mereda
Seakan tak pernah mengizinkan ku untuk mengeluarkan emosi dalam diri
Mungkin aku tertekan karena diriku sendiri
Aku tak pernah mau menyalahkan kalian atas apa yang aku rasakan
Tapi sekali saja berikan kepercayaan itu padaku
__ADS_1
Sekali saja berhenti membentak
Sekali saja berhenti membandingkan ku
Hargai pencapaian ku
Dan satu lagi izinkan aku untuk sekedar mengisi hari ku dengan pengalaman
Jika kalian tak mau, untuk apa aku masih ada di kehidupan kalian
Sayangi aku dengan semestinya, aku tak mau merasa terpenjara
Alika POV End.
Sambil berkendara Alika larut dalam indahnya malam hari dengan udara yang menusuk, ia berkendara di salah satu jalanan yang tak ramai pengendara, entah apa yang membawanya untuk berkeliling di sekitar sini.
Alika berniat menyalip mobil di depannya namun ia tak fokus pada satu pengendara motor di belakangnya yang tiba-tiba menyalip, ia menjadi tak stabil dan membantingkan stir nya ke arah kiri akhirnya terjatuh.
BRAK!!!!
Motornya jatuh menindih satu kakinya namun tak terlalu parah, tapi sayangnya tangan kirinya berdarah karena menahan stir. Beruntung ia tak jadi menyalip mobil di depannya jika ia berusaha melakukan itu dapat dipastikan Alika akan terpental dan entahlah ia tak akan mungkin selamat.
Ia bersyukur masih bisa selamat.
Alika menahan sakit tangannya karena rasa sakit itu tak bisa menutupi rasa kecewanya. Ia mencoba mengeluarkan kakinya yang sedikit terjepit namun tak membenarkan posisi motor yang tergeletak. Yang ada di pikirannya saat ini bukan kesehatannya melainkan rasa takut jika kedua orang tuanya tau kalau dia kecelakaan.
Ia menundukan kepala di lututnya kemudian menangis tersedu-sedu, sekali lagi ia tak menangis karena kejadian barusan namun masih kecewa dengan perkataan orang tuanya sebagai anak ia tak bisa melawan.
Setiap hari Raffa pulang melewati jalanan yang sepi pengendara karena merupakan satu-satunya jalan menuju perumahan yang ia tinggali. Konon katanya jalanan tersebut angker terkadang ditemukan mahkluk aneh disana menurut pengendara yang pernah melihat itu.
Raffa melihat ke arah trotoar di sebelah kiri nya.
"Apaan tuh,"
"Aduh mana sepi banget lagi, bisa gak sih jangan muncul sekarang." Raffa melajukan kendaraannya pelan.
"Manusia bukan sih," Raffa berkutat dengan pikirannya sendiri.
"Serem nih jalanan." Raffa berniat melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh namun entah mengapa ia merasa kalau itu bukan mahkluk halus.
"Tapi itu kayak kecelakaan, tolongin gak ya, eh tapi kalau beneran bukan manusia gimana," gumamnya.
"Dah lah tolongin aja kalau bukan manusia itu urusan belakangan mending gue turun dulu." Raffa turun dari motornya dan mengampiri gadis yang ia sangka hantu jalanan.
"Jangan nangis dong merinding gue, aduh mana tangannya berdarah lagi semoga aja manusia, yuk bisa jadi manusia yuk." Perlahan mendekati motor gadis yang sedang menangis.
"Kok bisa kembaran sama Alika motornya," perasaan Raffa mulai risau jangan-jangan itu Alika.
Setelah di perjelas ternyata itu hoodie yang selalu Alika kenakan.
"Namira," panggil Raffa.
Alika mengangkat kepalanya kemudian menghapus sisa air matanya.
"Astaga Alika, lo kenapa? Tangan lo berdarah," ucap Raffa panik kemudian memegang tangan Alika yang berdarah.
Alika menarik tangannya. " Gakpapa kok Raff biasalah kalau di jalan pasti ada aja musibah nya," ucap Alika santai.
"Ikut gue ke rumah sakit!," Ajaknya.
"Enggak deh, ini Cuma berdarah doang kok di bersihin pake air pasti ilang," jawab Alika.
Raffa tak habis pikir masih saja Alika menolak.
__ADS_1
"Cuma berdarah! Bisa kena infeksi Al, gak mau tau pokoknya lo harus di bawa ke rumah sakit," tegasnya.
Raffa membawa Alika dan memapahnya.
"Lo bisa kan naiknya? Atau gue bawa dulu mobil tunggu sebentar," ucap Raffa.
"Udah gak usah Raff, gue masih bisa toh yang berdarah kan tangan gue bukan kaki," jawab Alika.
"Kenapa sih Al nolak mulu," Raffa lelah menghadapi Alika yang selalu merasa tidak enak.
Sesampainya di rumah sakit Alika di tangani dengan cepaat dan beberapa lukanya segera di bersihkan hingga perban melekat pada bagian yang cukup parah.
Raffa duduk di samping Alika yang tengah berbaring.
"Al mana handphone lo, gue hubungi keluarga lo," ucap Raffa.
"Jangan!," ucap Alika.
Raffa sudah menduga jawaban Alika.
"Kenapa?,"tanya Raffa sedangkan Alika diam tak menjawab.
Raffa hendak berdiri kemudian keluar dari UGD untuk mengambil handphone nya.
Alika menahan tangan Raffa agar tak pergi. "Please jangan pergi," bujuknya.
"Gue mau ngambil handphone di jaket tadi ketinggalan di parkiran, sekalian mau nelpon satpam biar ngambil motor lo, rawan begal Al," Raffa menjelaskannya pada Alika.
Alika menggeleng. "Gak usah diem disini temenin gue."
"Kenapa ? takut?." Tanya Raffa.
"I-iya serem Raf,"
"Lebih serem liat lo nangis pinggir jalan gue kira lo itu hantu," jawab Raffa.
Alika mencubit tangan Raffa, masa dirinya dikatai hantu. "Dih."
"Bentar ya Al,"
"Gak boleh," ucapnya kemudian Raffa menuruti keinginan Alika.
"Kenapa masih aja keluar malem, gak ada masalah kan?," tanya Raffa.
Kali ini pertanyaan 'kenapa' yang keluar dari mulut Raffa berhasil membuat Alika terdiam menatap kosong kedepan. Tentu hal itu tak luput dari pandangan Raffa.
Raffa mendekatkan dirinya, ia mencoba memeluk Alika dari samping. Raffa mengelus kepalanya Alika.
"Ada gue Al, ," ucap Raffa.
Kini Alika menangis di dalam pelukan Raffa.
Semakin erat Raffa memeluk Alika untuk menyalurkan energi yang ia miliki.
'Nyaman' satu kata yang Alika rasakan.
"Maaf gue selalu ngerepotin lo, maaf karena selalu melihat keadaan gue yang gak baik, maaf karena gue nunjukin sisi buruk gue di hadapan lo, maaf karena semua yang lo liat adalah diri gue yang lagi kacau," ucap Alika.
Raffa melepaskan Alika dari hangatnya pelukan yang Alika rasakan.
"Denger gue Al, lo gak perlu minta maaf dan gue gak peduli dengan diri lo yang seperti ini, gak perlu terlihat baik-baik aja di depan gue," ucapan Raffa seakan menghipnotis pendengarnya.
"Makasih," balas Alika.
__ADS_1
"Gue perlu hubungin keluarga lo,"
TBC.......