Aliran

Aliran
delapanbelas


__ADS_3

Happy Reading Y'all


👊


"Gue perlu hubungin keluarga lo,"


"Raf gue mohon jangan, mereka pasti marahin gue, mereka gak akan peduli dengan kesalahan ini, mereka akan menyalahkan diri gue Raf, jangan ya please," Ucap Alika memohon.


Raffa mengerti yang Alika sampaikan saat ini. "Terus mereka gak akan nyariin lo?,"


"Mereka tau kalau gue lagi ke rumah Bila,"


"Lo bohong?," tanya Raffa.


"Jangan bilang kalau lo juga gak percaya sama gue, sekali aja di hidup gue ada yang percaya, mustahil!," Alika kecewa.


"Gak gitu maksud gue Al," ucap Raffa kemudian Alika menepis tangan Raffa yang hendak menghapus air matanya.


Alika turun dari bangsal kemudian berjalan keluar dari UGD.


"Mau kemana?," tanya Raffa yang memperhatikan Alika pergi menjauh.


"Ke rumah Bila, biar lo percaya gue gak bohong,"


Raffa mengacak-acak kasar rambutnya, ah wanita satu ini membuatnya terheran-heran dengan sikapnya.


Raffa menahan tangan kanan Alika. "Iya gue percaya, maaf kalau pertanyaan gue nyinggung hati lo," ucap Raffa tulus.


"Lo gak salah, yang salah itu gue karena terlalu dramatis jadi orang,yaudah makasih ya gue pamit mau ngambil motor, nanti biaya rumah sakitnya gue ganti kok tapi gak bisa sekarang soalnya dompet gue jatoh di tempat tadi," ucap Alika melepaskan tangan Raffa agar tak menghalanginya pergi.


Lagi-lagi Raffa bingung bagaimana menghadapi Alika.


"Dengan kondisi lo yang kayak gini masih mau pergi?." Raffa menghalangi akses agar Alika tak keluar.


Alika mengangguk.


"Gue anterin dan untuk motor lo nanti gue akan suruh satpam di bawa ke rumah," ucap Raffa.


"Nanti orang tua gue nanyain motornya Raff," ucap Alika.


"Bilang aja mogok terus nitip di rumah pacar,"


"Hah?" Alika dibuat tekejut dengan kata terakhir yang Raffa ucapkan.


"Bercanda gue astaga pake budek segala," ucap Raffa.


Mereka berdua meninggalkan rumah sakit semoga saja tak ada lagi tragedi kecelakaan.


Alika hanya di antar sampai depan komplek karena tak mau menimbulkan stigma negatif dari orang rumah.


Esok adalah hari minggu, biasanya Alika hanya berdiam diri di rumah atau tidak menyibukan diri dengan kegiatan sekolah ataupun kerja part time nya.


Chat dari Raffa.

__ADS_1


Kang kebun


Gimana kondisi lo?


Besok kata bunda main lagi ke rumah, no debat!


Baik


Takut izinnya Raf ☹️


Coba aja dulu kasih penjelasan sama bukti


Iya deh, gue ajak Bila lagi ya


Ok


Apakah keluarga Raffa masih mengizinkan anaknya  berteman dengan anak yang memiliki tekanan batin. Fira mungkin tak mengetahui kondisi Alika yang sering sekali menyakiti dirinya sendiri jika ia tahu kemungkinan Raffa tak lagi di izinkan untuk menemui Alika.


Malam itu orangtua Alika tak bertanya apapun bahkan tak terlalu memperdulikan motornya namun esok harinya di hari minggu yang sangat cerah ini dirinya di sudutkan dengan banyaknya pertanyaan.


"Motor kamu mana Namira?," tanya sang Ayah.


"Kok bisa pulang gak bawa motor? Kalau ada yang nyuri gimana?," ucap sang ibu.


Alika benar yang ibunya khawatirkan hanya kendaraanya, mungkin ia pikir jika anaknya hilang satu masih tersisa satu lagi padahal nyawa itu lebih berharga daripada harga sebuah motor.


Sudah sakit fisik ditambah lagi sakit batin pula.


Ia tak pernah berniat untuk melakukan perlawanan pada orangtuanya setelah semalam ia sedikit membentak.


Sedang duduk di ruang tamu menunggu sang tuan rumah tiba. Bila bersedia menemani Alika karena mereka berniat jalan-jalan ke sebuah hutan pinus mencoba menenangkan diri dari penatnya aktivitas.


"Bila mau minta izin ngajak Alika ngelanjutin penelitiannya kemarin yang tertunda, oh iya satu lagi Bila juga mau ngajak Alika ke Pinus, sekali aja soalnya Bila sama Alika gak pernah main bareng selain di lingkungan sekolah," ucap Bila tulus.


"Kalian ini bukannya belajar buat ujian, yasudah tante izinin tapi dengan syarat gak boleh pulang malem," ucap ibunya Alika.


Bila mewanti-wanti penolakan dari ibunya Alika sebab ini baru pertama kalinya Bila berkunjung ke rumah Alika setelah kenal selama 3 tahun.


Alika kagum dengan ibunya yang bersikap baik pada sahabatnya sedangkan padanya hanya bisa teritung jari.


Untung ibunya tak bertanya mengenai motor, sebab ia belum sempat berunding dengan Bila bahwa semalam dirinya menitipkan kendaraan itu di rumah Raffa.


"Al motor lo mana?," tanya Bila.


"Ketinggalan di rumah Raffa," ucap Alika.


Bila terkejut bukan main, sebab kemarin keduanya pulang larut , itu artinya Alika bertemu Raffa tadi malam.


"Lu berdua abis ngapain?," tanya Bila.


"Ambigu banget sih pertanyaan lo," ucap Bila sinis.


"Ya maksud gue ngapain malem-malem ke rumah Raffa ?," tanya Bila.

__ADS_1


Alika tak berniat memberitahu Bila tentang kejadian kecelakaan semalam. Ia tak mau dikasihani bahkan di khawatirkan oleh orang lain untuk sekarang ini ia hanya ingin orangtuanya peduli dengan hidupnya.


"Abis malam mingguan," jawab Alika seraya menghidupkan motor milik Bila.


"Anjirr si Alika bucin, gak gue gak terima dengan kenyataan ini, jangan ditinggal jomblo sendiri dong Al," Bila merengek.


"Cepet naik," perintahnya.


"Gue aja deh yang bawa motornya, masih sayang nyawa soalnya," jawab Bila.


Alika tak menghiraukan perkataan Bila sedangkan Bila pun hanya bisa pasrah duduk di belakang.


Setelah Alika melajukan kendaraannya dan beberapa kali juga ia menyalip kendaraan yang ukurannya besar-besar.


"Duh Al santai aja si, kita gak lagi di kejar zombie beneran deh," ucap Bila.


Sampai didepan rumah Raffa, di teras mereka berdua disambut oleh pak Hari yang sedang membaca sebuah koran sambil menikmati kopi sedangkan ibunya Raffa sedang menyirami tanaman yang sengaja dibuat taman di dekat teras dan Raffa yang sedang bercengkrama dengan sang ibu.


Alika melihatnya iri, kapan terakhir kali dirinya berbincang santai dengan keluarga tanpa adanya embel-embel bentakan dan kata-kata lain yang menyakitkan. Sepertinya menjadi anak tunggal menyenangkan.


Mereka semua tersenyum ramah .


"Ayo sayang masuk," ujar Fira.


Alika dan Bila mengangguk.


Raffa buru-buru menarik tangan Alika dan menggulung sedikit baju lengan panjang yang menutupi luka Alika.


Bila menyalahartikannya. "Kalau mau bucin jangan didepan jomblo."


Alika menatap Bila tajam, duh malu mengapa Bila membuatnya jengkel.


"Jangan nutupin lukanya, bisa tambah parah, terus kenapa lo buka semua perban itu?," ucap Raffa bertubi-tubi.


Alika meletakan telunjuknya dibibirnya.


"Sttt diem, Bila gak tau gue kecelakaan," ucap Alika pelan.


Raffa menjitak kening Alika.


"Sakit, ih parah lo, udah jangan ngungkit kecelakaan kemarin, tutupi kalau bisa," pinta Alika.


Bila memperhatikan interaksi antara Alika dan Raffa. "Kalian berdua please jangan giniin gue," ucap Bila tak tahan dikacangin dari tadi.


Alika dan Raffa menghampiri Bila yang sudah geram dari tadi.


"Eh kalian berdua semalem abis ngapain?," tanya Bila.


Raffa diam, tak mengerti maksud Bila.


"Gu-gue?," tunjuk Raffa pada dirinya sendiri.


TBC....

__ADS_1


ayo kalian kenalan dulu sama Raffa dan Alika ya sebelum mereka pisah


__ADS_2