
Happy Reading <3
Tak ada perdebatan dan tak ada bentakan membuat Alika tenang menikmati indahnya ciptaan Tuhan. Ia merasa tenang dengan keindahan alam sehingga bisa membuatnya terbebas dari beban yang sedang ia pikul.
"Bil makan mie ayam mang Karta yuk," ajak Alika.
"Enggak deh, males,"jawaban Bila membuat Alika semakin yakin ada yang sedang Bila sembunyikan.
"Ayolah Bil, gue pengen kenalan sama mang Karta, masa iya gue gak kenal sama orang yang buat Alika bahagia," ucap Rama.
Alika meliriknya. "Sejak kapan gue bahagia karna mang Karta RAMAA!!!!,"
"Iya typo ni mulut, maksud gue mie bikinan mang Karta bisa bikin lo bahagia,"
"Bukan mie nya kali tapi orang yang sering lo temui di tempat mie," ucap Bila.
"Siapa?,"tanya Rama sedangkan Alika mengerutkan keningnya bingung.
"Raffa,"jawabnya.
"Oh Raffa, seneng gak seneng sih, yang ada malu," jawab Alika.
Rama menatapnya serius. "Udah jangan bahas orang yang gak ada disini,"
"Kata siapa gak disini, tuh orangnya," Bila menunjukan keberadaan Raffa yang sedang duduk di posko.
Alika heran mengapa bisa ada Raffa, buru-buru ia menghampiri Raffa.
Rama mengisyaratkan rasa kesalnya.
"Sabar ya Ram, ini baru permulaan," Aji dan Esa menepuk pundak Rama bersamaan dengan mengikuti kepergian Alika menemui Raffa.
"Al buku diary lo ketinggalan, nih ambil," Raffa menyerahkan buku yang ia bawa kepada sang pemilik.
Si Raffa kenapa sih jadi kaku gini, kesel sumpah kenapa sih harus jadi sok dingin-pikir Alika.
Alika berusaha tersenyum.
Kenapa harus senyum sih, padahal gue lagi sok cool gini- pikir Raffa.
Rama hanya memperhatikan adegan mengesalkan didepan matanya.
"Udah kan? Yuk pulang," ajak Rama.
"Duluan sana, kita aja berangkatnya gak barengan," jawab Alika.
__ADS_1
Ucapan Alika tak di indahkan oleh Rama karena dengan sigap ia menarik lengan Alika menuju keluar dari rimbunnya pepohonan pinus dan sejuknya udara disana.
"Ih gue belum ngobrol sama Raffa,"ucap Alika kesal.
"Izin sampe jam berapa ? Bokap nyokap lo bisa marah," ucap Rama.
Kok Rama bisa tau ya-pikir Alika.
Raffa melintas di keduanya yang sedang berdebat. "Lain kali jangan asal tarik orang,"
Oke mulai sekarang lo saingan gue-pikir Rama.
"Kita nonton aja pertunjukan indah ini akan berakhir sampai dimana," ucap Aji.
"Berakhir di gue sih pasti," jawab Esa.
"Lo berdua gak se level sama Rama apalagi anak itu," jawab Noval.
"Tau dari mana kamu?," tanya Bila yang sudah mulai menepis jarak antara dirinya dan Noval.
"Rama unggul di non akademik sedangkan Raffa unggul di akademik, keduanya sama-sama berprestasi dengan jalan yang beda, Alika pasti mempertimbangkan semua itu gak mungkin bisa suka tanpa sebab," jawab Noval seakan tau apa yang sedang Alika rasakan.
Dibandingkan dengan Raffa, Noval lah yang telah mengenal Alika lebih dulu dan saat itu di kelas 3 akhir Noval menyaksikan sendiri keadaan Alika yang sudah mulai memburuk, ia bisa menangis sangat lama tepat di belakang kelas kemudian Alika pernah di bully oleh teman-teman SD nya.
"Cuma sama lo kali yang suka tanpa sebab," sindir Bila.
"Ji mulut lo perlu di lakban deh kayaknya," ucap Bila.
"Jangan lah, mulut suci nan seksi ini tak boleh di hancurkan," jawab Aji.
"Udahlah lo berdua sama aja ribut mulu." Noval merangkul pundak Bila kemudian mengajaknya menuju parkiran.
Apakah Noval benar-benar tak ada rasa sama sekali kepada Alika? Atau justru itu hanya peralihan tentang perasaannya agar tak berdebat dengan Rama, sekarang bagaimana Rama ? seperti apa sebenarnya perasaan Raffa kepada Alika padahal dia sendiri mempunyai gebetan? Entahlah yang tau Cuma diri mereka masing-masing.
Jangan ada perasaan sesal memilih atau sesal tak terpilih karena pilihan mencintai tidak ada di tangan orang yang dicintai, mereka hanya pihak yang tak tau menau tentang hebatnya perasaan yang kita miliki untuknya, tanpa di sadari orang yang kita cintai menerima banyak kasih sayang dengan bentuk yang amat beragam.
Bertepuk sebelah tangan bukan artian yang menandakan tak adanya kesempatan tetapi tujuannya memang untuk menyadarkan bahwa meencintai itu tak harus dicintai pula, cukup rasakan dan nikmati betapa bahagia disertai rasa sakit.
Semenjak Alika pulang bermain minggu sore itu, kedua orang tuanya tak menyapanya sama sekali.
KENAPA NILAI IPA KAMU JELEK! MAIN TERUS, GIMANA MAU MASUK KEDOKTERAN!- bentak sang ibu.
"Nilai-nilai dan nilai hidup yang monoton!," ucap Alika.
Alika sudah memutuskan keinginanya untuk tidak terlalu fokus pada kesempurnaan nilai karena yang ia harapkan bukan mendapatkan pujian tapi diakui oleh kedua orang tuanya, segala pencapaian ia lakukan demi di hargai tetapi tuntutan mereka terlalu kuat sehingga hanya tekanan yang didapat.
__ADS_1
Hari senin ini Alika bersiap menghadapi ujian praktek Biologi bersama pak Hari dan teman sekelompoknya, yang ia harapkan semoga hari ini berjalan lancar tanpa hambatan sedikitpun.
"Bisa gak sih hari ini di skip aja," ucap Alika memohon.
Ia berangkat cukup pagi sebab tak ingin pikirannya terganggu dengan tuntutan sempurna di pagi hari. Namun Alika tak pernah melupakan pamit pada kedua orang tuanya meskipun selalu ada rasa kesal dan takut.
Menjadi anak pertama selalu dituntut sempurna tanpa tuntunan sehingga banyak jalan buntu yang tak dapat di lewati.
"Bil lo kenapa sih hari ini?," tanya Alika.
"Biasa aja,"jawabnya.
Alika nampak perubahan dari sikap Bila yang biasanya tak pernah berhenti bicara tiba-tiba saja diam seribu bahasa, yang Alika takutkan Bila sedang menghadapi masalah besar.
Memang pada dasarnya sikap Bila tak salah, tetapi letak kekuranganya ada pada hal komunikasi. Sampaikan saja jika Bila menjalin hubungan dengan Noval entah atas dasar apa mereka berdua menjalin sebuah hubungan. Cinta? Apakah mungkin sebuah cinta jika datangnya tiba-tiba sesaat setelah memiliki perasaan pada orang lain?
Sikap Alika pun tak sepenuhnya salah, ia hanya membantu Rama dengan kemampuan yang ia miliki sayangnya Alika tak mampu memahami sikap dan tutur kata orang dihadapannya.
Beralih dari kekesalan Bila.
Pak Hari datang dengan sikap yang menakutkannya.
Rasanya tak perlu ada hantu disini karena guru killer sudah sangat mengerikan untuk dilihat. Namun mereka tak mengetahui bagaimana hangatnya seorang guru killer saat mereka di rumah bersama keluarganya.
Semua kursi dan meja sudah di setting sedemikian rupa agar ujian praktek dapat berjalan sesuai prosedur yang telah di tetapkan di dalam laboratorium SMA.
"Semoga usaha ini gak sia-sia,"
Sebelum Alika memulai tes ini ia tak lupa mengirim sebuah pesan kepada Raffa.
Kang kebun
_________
Doain lancar ujiannya, bilangin sama pak Hari jangan lupa senyum
Sekian dan terima kasih dari Alika N.
______Justread____
Tak ada balasan apapun dari Raffa namun tak perlu diambil pusing karna perkara chat.
Masalah dibalas atau tidaknya itu adalah hak penerima.
Bersambung.........
__ADS_1
"Jika pesan saja tak terbaca kemungkinan hati pun tak dilihat"
Haiiiiiii Readers, kenalin aku manusia, aku berpikir, dan aku sedang menulis, tidakk lebih tepatnya mengetik, mungkin saat aku akhiri dengan tanda titik itu adalah pertanda cerita ini telah di publish dan sekarang tulisan ini sedang dibaca.