Aliran

Aliran
Tigadua


__ADS_3

Hai


Selamat Datang di Dunia Storywd


Berselancar di tengah ombak yang pasang


Happy Reading


***


Pada hari yang cerah ini Bila mengambil jadwal les siang hari karena ia berharap akan bertemu Alika disana.


"Heyyy, tunggu!!!!!," teriaknya kepada seseorang yang sedang berlalu dari hadapannya.


"Raffa!! please stop!," ucapnya setengah berteriak.


Raffa menghentikan langkahnya.


"Ya?," tanyanya singkat, padat dan jelas.


"Kenapa di panggil malah nyelonong terus sih, cape gue teriak," kesalnya.


"Gue punya nama," jawabnya lagi.


"Nangis batinku.... ya maksudnya kan kita itu kenal gitu, seenggaknya say hi," Bila memaki Raffa dengan omelannya seperti ketika berhadapan dengan Alika.


"Oh kita kenal ya, hi," sapa Raffa.


"Dah lah cape gue, btw ada yang mau gue tanyain ke lo,"


Raffa mulai fokus dan hanya mengisyaratkan untuk segera bertanya.


"Ketemu Alika gak? kabar dia gimana? sehat?," tanya Bila.


"Gue bukan pengasuhnya," jawab Raffa.


"Dih ya kan lo kenal sama dia malah deket, gimana sih!," ketusnya.


"Alika..." Raffa hendak meloloskan kalimat yang bisa membuat Bila khawatir, untung saja mulutnya bisa di rem.


"Baik-baik aja, kemarin gue sempet gak sengaja ketemu dia,"


"Gue kangennn banget sama dia" ucap Bila.


sama.


"Hubungi aja, tanya dia kenapa, bilangin jangan pernah takut karena she still have you as a friend," ucap Raffa teduh.


Nih anak tadi judes sekarang hangat dah ke oven kalo ada aliran listrik baru dah tuh hangat. Ajaib.


Bila membayangkan Alika saat ini kemudian secara tak sadar menceritakan wataknya kepada Raffa.


"Alika mudah banget jatuh cinta, dia selalu membuat orang lain bangga padanya, Dia pendengar yang sangat baik, apapun keluh kesah gue selalu dia dengerin tanpa adanya penilaian yang menjatuhkan, "terang Bila.


" Alika mudah feel in love? ko bisa?," tanya Raffa.


" Ih maksudnya dia mudah buat sayang sama orang disekitarnya, dia selalu menganggap mereka keluarga, emang sih banyak juga temen cowok yang ada disekitarnya tapi cuma ada satu laki-laki di hatinya," ucap Bila semakin membuat Raffa penasaran.


"Siapa?," tanya Raffa.


"Eh kok lo kepo sih atauuu...." Bila mengerjai Raffa.


"Gak, biasa aja" jawab Raffa dengan raut wajah yang santai.


"Noval, ya dia sangat menyayangi Noval but ternyata gue bikin dia melupakan noval secara paksa, gak tau diri ya? enggak kok, justru awalnya gue kira Alika rebut Rama tapi ternyata Rama yang suka Alika bukan sebaliknya," ucap Bila.


"Rama suka sama Alika?," ucap Raffa menuntut penjelasan.


Bila memahami situasi sekarang ini dan ternyata Raffa tertarik dengan Alika meskipun tidak pernah secara langsung terucap seperti Rama yang menyukai Alika terang-terangan.


"Lo bisa bersaing dengan orang yang menyukai Alika tapi sampai kapanpun lo gak bisa menyaingi orang yang selama ini Alika sukai, untung aja Alika udah gak mau lagi mikirin itu semua sekarang," jawab Bila.


Sekarang giliran Raffa yang mendeskripsikan sosok Alika.


"Kepribadiannya aneh, dia bisa jadi gadis ekstrovert dan introvert. Alika mudah tertawa tapi juga mudah sedih. Perasaannya gak bisa terduga, tanyain langsung kalau lo ingin tahu apa yang ada di dalam hatinya. Senyumnya ibaratkan emas, semua orang ingin melihat senyumnya. Tapi satu hal yang gue inget, dia paling anti dan gak bisa main alat musik, " ucap Raffa sambil tersenyum diakhir kalimatnya.


"Dia perempuan yang baik, perhatian, imut, manis, dan pintar." lanjut Raffa dalam hatinya.


"Woyy!!! ngapain senyum-senyum gitu," Bila menjentikan jarinya di depan wajah Raffa.


"Udahlah kita masuk bentar lagi mulai les," ajak Raffa.


"Lo gak khawatir sama Alika?," tanya Bila.


"Gak," jawab Raffa singkat.


Namun jawaban Raffa terdengar oleh Alika yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka.


Ada rasa sedih dalam hatinya karena ternyata Raffa tidak benar-benar merasa khawatir dengan keadaannya.

__ADS_1


"Alikaaaaaaaaaa sayangggggg," teriak Bila kemudian berlari memeluk Alika.


Alika memang tak membalasnya.


"No hug me please, engap nih gue," jawab Alika tersenyum.


Everyone wants to hug you dan senyummu memberikan keteduhan, sayangnya dibalik itu penuh luka. gumam Raffa.


"Kebiasaan deh lo,Heh! dari mana aja?! kabarin ke!," ucap Bila.


Alika hanya tersenyum mendengarnya.


"Yang penting gue sekarang ada disini," jawab Alika.


"Alika baru sampe udah lo marahin, ajak masuk, suruh duduk dulu ," sindir Raffa.


"Gak perlu, makasih," Alika balik menyindirnya.


Ia kesal dengan ucapan Raffa tadi yang ternyata ke khawatirannya palsu.


"Awalnya gue kesini karena katanya ada yang nunggu tapi ternyata palsu," ucap Alika.


Raffa adalah laki-laki dan dia kurang peka dengan ucapan Alika jadi dirinya tak paham.


Raffa menarik tangan Alika.


"Yu makan," ajaknya.


"Makasih, gue udah gak laper," jawabnya.


"Belum makan kan lo?," tanya Raffa.


Alika memutar malas bola matanya.


"Raffa yang baik hati dan tidak sombong, itu barusan miss udah masuk kelas jadi, mending kita masuk juga ya jangan jadi anak nakal yang membolos," ucap Alika.


Kemudian Raffa melepaskan tangan Alika dari genggamannya.


Di kacangin again nih gue-guman Bila.


Sampai detik ini Bila belum tau alasan Alika menghilang selama 5 hari.


"That's all for today... Pertahankan apa yang kalian inginkan tapi jangan terlalu menaruh harapan, perjuangan kalian akan setimpal dengan apa yang kalian dapatkan nanti, semangat menjalani ujian, cita-cita kalian akan semakin dekat," ucap sang guru les di akhir sesi.


Gue pengennya ngambil psikologi langsung gak ke kedokterannya tapi mamah sama ayah kekeh banget. - batin Alika.


"Hey!" Bila mengejutkan Alika.


"Ehmm.. Sorry," ucap Bila.


"Untung gak jadi nyungsepnya," lanjutnya.


"Lain kali jangan ngagetin dia," tutur Raffa.


Hadeuhh kena semprot deh gua.


"It's okay, yu pulang," ajak Alika.


"Waitt a minute..."


"Apaan lagi? ," tanya Alika


"Mie mang karta," jawab Bila.


"Ayam geprek aja," saran Raffa.


Alika dan Bila dibuat bingung.


"Ikutin gue," ucap Raffa.


Keduanya hanya mengekori Raffa.


Sesampainya di kedai ayam geprek, mereka segera duduk dan memesan makanan.


"Tiga ya, yang satunya jangan terlalu pedes minumannya teh manis aja, yang dua pake es dan sisanya enggak," Raffa memesan makanan.


"Lo gak suka pedes?," tanya Bila.


"Raffa itu udah gak suka pedes, suka aneh berubah-ubah kayak power ranger," jawab Alika.


"Bwahahahha Lik lo tau gak?," ucap Bila.


"Engga bege kan Anda belum bicara," jawab Alika.


"Tadi pagi Raffa ngatain lo cewek aneh dan senyuman lo...." Bila menggantungkan perkataannya kemudian melirik Raffa yang santai kayak di pantai.


"Senyuman lo kayak emas katanya, bisa bikin teduh," lanjutnya.


Hati Alika bercampur aduk tak karuan, di satu sisi dia merasa takut untuk menerima kenyataan bahwa hatinya ia jatuhkan untuk Raffa tapi disisi lain, Raffa adalah salah satu anugerah yang bisa menerimanya dengan banyak kekurangan.

__ADS_1


" Ngarang lo," jawab Alika tersipu namun selalu tak percaya.


Raffa melirik Alika kemudian menatap bola matanya.


"Bila gak bohong, senyuman lo manis. tapi jangan tersenyum cuma untuk nutupin sakit" ucapan Raffa berhasil membuat Alika tersentuh.


"Novalll come here.... gue terjebak di sini diantara dua orang yang saling tatap tatapan,"


Seketika Alika dan Raffa mengalihkan pandangannya.


Gak Raff lo belum cinta sama Alika, jangan bikin dia berharap. - gumam Raffa dalam hatinya.


"Boleh tuh panggil aja cowok lo pasti secara otomatis antek-anteknya pada ngikut ya kan, sejenis Rama, Aji,dan si Esa." ucap Alika kembali fokus ke handphone nya.


"Kebanyakan orang, nyempitin," jawab Raffa ketus.


"Heh lo astaga, gak rela banget kayaknya liat gue ketemu Noval, padahal lo bisa ajak Lia," Bila keceplosan soal ini.


Aduuhhh ni mulut kaga punya rem.


"Ya maksudnya kan lo juga kenal sama Lia," Bila meralat ucapannya tentang Lia.


"Iya tuh Raff biar asik kalo banyakan," ucap Alika.


Raffa mengalihkan topik pembicaraan. "Al pulang sendiri kan? gue anterin, jangan bilang gak mau," jelas Raffa.


Mau tidak mau pun Alika menerimanya.


Ayam geprek yang mereka nikmati cukup membuat perut terisi dan kembali pulih untuk melakukan kegiatan.


"Ngantuk.." ucap Alika ketika hendak naik motor bersama Raffa.


"Kebiasaan deh kalo abis makan jangan langsung tidur biar gak ngantuk jadinya kebiasaan buruk," Raffa mengomeli Alika dan kesehatan nya.


"Iya iya...." jawabnya malas.


"Bisa gak naiknya? atau mau naik angkot aja?," tanya Raffa.


Alika tak mau merepotkan Raffa karena pada kenyataannya laki-laki satu itu pasti  ikut juga naik angkot dan malah meninggalkan motornya disini.


"Gapapa, gak ngantuk banget ko tadi cuma omong kosong," jawab Alika.


"Kebiasaan ngomong gakpapa nya juga kurangin," jelas Raffa.


Lama-lama nih cowok jadi temennya ibu-ibu deh kerjaannya ngomel mulu.


"Iya iya, udah yu berangkat,"


Di perjalanan keduanya tidak saling diam karena memang Raffa bisa membuat Alika nyaman untuk menceritakan apapun, Raffa ibaratnya good listener untuk Alika.


"Gue takut lo masih sembunyi," ucap Raffa.


"Nyatanya lo bilang gak khawatir," ucap Alika pelan.


"Helm nya ada pendeteksi suara, sekecil apapun itu ucapan gue ataupun lo akan kedengeran," ucap Raffa.


Ahhhh berarti barusan Raffa denger dong.


"Loh ko bisa?," tanya Alika.


"Karena gue tau kalau lo agak kurang bisa mendengar yang baik dan benar kalau di motor," jawab Raffa.


Itu artinya Raffa sengaja membeli alat itu hanya untuk di gunakan Alika, Eh tapi masih ada Lia dan jangan sekali pun melupakan Lia karena posisinya di hati Raffa masih tinggi selain karena keluarganya mengenal Lia juga karena Raffa sendiri yang menjadikan Lia teman dekatnya saat itu.


"Boleh cerita?," ucap Alika ragu.


"Boleh,"


"Kalau jadi dokter harus sehat banget ya?," tanya Alika.


"Gak harus banget tapi ya diutamakan sehat gak cuma kalau mau jadi dokter aja," jawab Raffa.


"Gimana caranya sembuh?," tanya Alika.


Raffa menghentikan motornya tiba - tiba.


"Tolong jangan ngagetin,", ucap Alika.


"Gue punya riwayat penyakit dan gue takut gak bisa diterima jadi dokter tapi kenyataannya gue di suruh masuk kedokteran, gue takut gak sanggup," ucap Alika dengan tangan yang gemetar.


Nenek I wanna hug you rn. -


Raffa membuat Alika mengeratkan pegangannya.


"Lo akan sembuh, percaya ya," jawaban Raffa tak menghakimi dan tak mencoba untuk mencari tahu apa yang sedang Alika rasakan.


Bersambung.....


Aga panjang ya part ini🐻

__ADS_1


yasudah mari kita akhir saja nanti kita bertemu lagi jika saya ingin 🙂


Terima kasih telah membaca dan memaksakan diri untuk uwu padahal tidak punya pasangan


__ADS_2