
Happy Reading Y'All
"Tidak perlu membandingkan sesuatu yang tak pernah sebanding kaki kanan sama kaki kiri aja yang hidupnya sama-sama dipanggil kaki tetap beda, masa dua manusia yang secara keseluruhannya terpisah ruh masih aja dibandingkan,"
__________________
Oh gini rasanya jadi second lead dalam kisah orang lain. Tokoh yang mencintai sosok cinta pertamanya namun ternyata malah berakhir dengan orang lain, kadang pula second lead di nilai buruk karena mengganggu kisah asmara first lead.
Alika lah yang dimaksud second lead, peran pembantu dalam drama percintaan orang lain merasakan sakitnya dikecewakan sahabat sendiri karena dianggap mengganggu.
Tenang saja Alika masih jadi tokoh utama dalam dunianya.
Seandainya gue tokoh utama dalam suatu cerita, gue gak mau jadi pemeran protagonis yang lemah.
***
Alika mengejar Rama yang berusaha keluar lebih dulu dari restoran.
"Ramaa tungguin kali, main pergi gitu aja gak sopan tau," ucap Alika menetralkan langkahnya.
Rama berhenti untuk mensejajarkan langkahnya dengan Alika.
"Gue gak mau emosi, daripada tambah kesel mending cabut,"jawab Rama tak acuh.
Alika menatap lekat kedua bola mata Rama yang tengah menatap lurus kejalanan.
"Dasar pecundang,"ucap Alika.
Rama menghentikan langkahnya. "Maksud lo apa ngomong kayak gitu,"kata Rama tak suka.
"Coba hadapi masalah, selesaikan yang ada, kalau lo kabur-kaburan gini bisa saja bokap lo langsung nikah,"Alika memberikan sarannya untuk Rama.
"Nih ya pala batu dengerin gue, kalau lo nolak kayak gitu tanpa alasan udah pasti bokap lo gak mempertimbangkan keinginan lo,"ucapan Alika berhasil menarik perhatian Rama.
Rama menarik Alika untuk duduk di sebuah taman, karena dari tadi mereka menghalangi jalan.
Rama masih dengan argumennya yang kuat,"Lo gak tau gimana susahnya gue Al, sikap apa yang harus gue tunjukin didepan papa,"
"Lu pikir yang ngerasain susah Cuma lu aja Ram?," Alika memalingkan wajahnya.
"Gue tau orang yang susah itu banyak tapi tolong kali ini aja, ada yang bisa ngertiin gue," jawab Rama tulus.
Selama ini Alika merasakan hal yang sama seperti Rama, dirinya tak pernah dimengerti oleh siapapun, banyak yang bersedia menjadi payung saat badai tetapi perasaan tak mau menyusahkan orang lain selalu terlintas di kepalanya.
Gue harus bersyukur masih diberikan kekuatan untuk bertahan.
Apakah Alika akan melibatkan dirinya terlalu jauh? Namun menyakitkan jika harus meninggalkan ia sendirian, setidaknya Alika bisa mengubah pandangan Rama terhadap wanita.
Jadilah obat untuk luka seseorang meskipun itu hanya sebagai pereda sakit bukan untuk menghapus bekasnya.
Alika mendekatkan dirinya kemudian menepuk-nepuk pelan punggung Rama berusaha memberikan ketenangan.
"Maafin ucapan gue, pasti perkataan tadi malah nyakitin perasaan lo,"ucap Alika.
Rama tak berniat melirik Alika, bukan karena marah namun sedang mencoba menetralkan raut wajahnya.
"Gue ngerti gimana rasanya sendirian ditengah keramaian, mengandalkan orang lain bukan solusi yang tepat karena mereka bisa aja gak menempatkan diri dari sudut pandang lo, termasuk gue dan apa yang udah gue ucapin tadi murni dari alam bawah sadar buat ngatain diri gue sendiri, maaf," Alika menjelaskan agar Rama mengerti.
Lagi-lagi Rama tak merespon perkataan Alika.
Demi apapun tolongin gue dong, respon kek meskipun Cuma ngedip.
Alika kembali berbicara, "Liat gue sini, sejauh apapun lo pergi bayangan gak akan pernah ninggalin lo Ram, jadi gue pamit ya ngomong aja sono sama bayangan,"sindir Alika kemudian berdiri dari duduknya.
Rama menahan tangan Alika kemudian menariknya untuk duduk kembali.
"Gue Cuma suka aja dengerin lo ngomong, ayo lanjutin,"ucap Rama melirik Alika sekilas.
"Di kiranya gue radio kali ya, malesin,"jawab Alika.
"Iya iya maaf, makasih," ucap Rama kembali hangat.
Sepertinya Alika melupakan sesuatu yang penting, ia seharusnya sudah pulang dari beberapa menit yang lalu.
Alika sedikit tergesa berpamitan, "Rama lanjut nanti aja ya, gue wajib pulang sekarang, kalau butuh bantuan call me ok,,"ucap Alika meninggalkan Rama dan pikiriannya.
"Lo masih belum ngerti gue, tapi gue nyaman dengan kehadiran lo,"ucap Rama menatap kepergian Alika.
Rama membayangkan Alika yang tengah berkendara dengan kecepatan penuh, rasanya ia ingin menjual motor Alika dan menyuruhnya diam, namun bukan ranah Rama melakukan itu semua.
Sekarang Alika tengah berada didalam rumah yang luas namun terasa sesak.
"Darimana aja lo, capek banget baru pulang gak ada makanan," ucap Alina.
Alina sudah keterlaluan bukan hanya tak sopan tapi ia tak memperlakukan kakaknya dengan baik.
"Bisa sopan dikit gak?,"ucap Alika dengan sinisnya.
Sudah dibilangkan Alika itu tak mau jadi peran protagonis yang lemah, tak mudah untuk ia ditindas, apalagi bisa dengan mudah menjatuhkan mental lawannya dengan senyuman miliknya.
"Akhir-akhir ini kok lo sering banget jalan sama kak Rama, pacaran ya?," tanya sang Adik.
Alika menjawabnya malas, pasalnya ia dituduh atas hal yang tidak ia perbuat.
__ADS_1
"Dia Cuma teman gue, wajar aja sering ketemu, seangkatan, sejurusan pula," jawab Alika.
"Kalau beneran pacaran gue aduin ke mama sama ayah biar lo di kurung seharian,"ucap sang Adik.
"Oh kalau gitu gampang sih, gue tinggal kasih bukti kalau lo punya pacar simple gak ribet," jawab Alika tersenyum penuh kemenangan.
Alika tak perlu khawatir karena dirinya tak memiliki hubungan apapun dengan Rama sedangkan Alina memang benar-benar punya pacar dan saksinya juga banyak.
Alina menghentakan kakinya kesal, "Males banget sumpah kalau gue berurusan sama lo, kesel gue sama lo di lingkungan sekolah gak ada yang gak kenal sama lo, semua orang tau siapa Alika, dikelas gue dibandingin sama lo, kesel sumpah," Alina berbicara dengan kejujurannya.
Sudah dibilang dari awal Alina tak pernah bisa menyembunyikan perasaannya sedangkan Alika dapat dengan mudah menutup rapat masalah tanpa celah.
"Siapa yang berani-beraninya bandingin lo sama gue?," ucap Alika menuntut jawaban.
Alika dan Alina memang terbilang jarang akur tapi bisa dipastikan Alika adalah kakak yang sangat menjaga adiknya.
"Temen kelas gue, kenapa sih gue gak sehebat lo? Kenapa otak gue gak sepinter lo? Kenapa?," ucap Alina kesal.
Setiap manusia hidup dengan porsinya masing-masing, belum tentu Alina bisa bertahan jika berada di posisi Alika begitupun sebaliknya.
"Gue sama lo itu beda, meskipun kita sedarah tapi kita juga manusia yang diciptakan Tuhan dengan kedaaan yang berbeda, Lo emang gak pernah jago dalam hal akademik tapi buktinya dari kecil semua hal yang berhubungan dengan seni dan olahraga paling jago kan? Jangan lagi merasa kalau lo gak bisa apa-apa, bahkan nilai olahraga gue gak pernah lebih dari 80, sedangkan lo bahkan sampe 95, udah ya," ucap Alika memberikan penjelasan kepada sang adik.
"Nih gue kasih cokelat biar lo gak kesel, mau makan apa? Biar gue masakin,"Alika pergi kekamarnya untuk menyimpan tas kemudian kembali ke dapur agar segera menghidangkan masakan.
Alina merenungkan ucapan kakaknya, "Nah kan apa gue bilang lo itu hebat kak, makasih ya," Alina bergumam. Gengsi baginya mengatakan itu kepada sang kakak.
Pilih kasih dengan anak memang sering terjadi, bahkan orang tua terkadang berpikir mereka sudah adil namun ternyata hanya mengunggulkan salah satunya dan mematikan yang lain.
Namun pada dasarnya manusia tidak sempurna dan tak mungkin bisa adil dengan sempurna wajar untuk memakluminya.
"Alika," panggil tente Mira yang tiba-tiba sudah ada dirumahnya.
Tak ada jawaban dari Alika.
"Alika!! Jawab kek kalau ada yang manggil itu kuping gunain," teriak tante mira yang menerobos masuk kerumahnya.
"Iya tan maaf Alika gak denger, kok tante ada disini?," tanya Alika.
Mira duduk di sofa ruang tamu. "Emang gak boleh ya kalau main kesini? Yaudah kalau gitu mau pulang lagi," ucap Mira beranjak pergi.
Sabar Al kalau lo emosi malah jadi masalah.
"Boleh banget, tente mau ketemu mama sama ayah kan?," tanya Alika ikut duduk dihadapan Mira.
"Anterin tante ketemu Fira di salon sekarang," ucap Mira.
Alika heran tantenya ini sering sekali meminta tolong Alika bertemu seseorang, padahal Mira kan bisa aja pergi bersama kekasihnya.
"Tapi mama sama ayah nyuruh aku dirumah aja, ada ujian juga buat besok," ucap Alika.
"Belajar kan bisa malam, ini baru jam 5 sore nanti tente minta izin sama mereka," ucap Fira beranjak membawa Alika keluar.
Alika yang baru saja tiba dari luar dan belum makan harus berangkat lagi, lelah sekali rasanya.
Buat orang yang masih bisa rebahan tanpa dimarahin beruntung banget mereka.
Alika bolak balik melihat interaksi manusia melalui sosial medianya, bosan sekali.
Merasakan ada yang duduk di sampingnya Alika segera menoleh.
"Hai," sapanya.
"Raffa?." Alika sedikit terkejut dengan kehadiran Raffa.
"Iya itu nama gue," jawab Raffa.
Alika heran Raffa sering ada disaat dirinya butuh seorang teman. Kemarin dibioskop sekarang di salon udah kayak cenayang aja nih anak.
"Kok lo bisa ada disini?," tanya Alika heran.
"Nyalon,"jawab Raffa.
Alika membekap mulutnya sendiri, "Raf lo gak belok kan?," ucap Alika.
Raffa menggeplak kening Alika pelan, "Otak lo keseringan traveling," .
"Lo sendiri ngapain disini?," tanya Raffa.
Alika menetralkan wajahnya.
Pertanyaannya terlalu basi buat basa basi.
"Lagi ngubah oksigen jadi karbondioksida sambil duduk gabut nungguin orang yang nyalon," jawab Alika.
Lagi-lagi Raffa dibuat heran dengan ucapan Alika. "Bilang nafas aja ribet," jawab Raffa.
"Memanfaatkan otak lo, siapa tau aja gak ngerti," jawab Alika.
Sama-sama pintar, kira-kira kalau mereka berdua menikah pasti anaknya lebih pintar lagi.
"Makan yuk," ajak Raffa.
Alika menyambutnya dengan antusias namun ia lupa jika tantenya ratu ngomel pasti ia tak diizinkan keluar.
__ADS_1
"Udah makan," jawab Alika bohong.
Raffa bukan orang yang mudah dibohongi.
"Yaudah kalau gitu, gue mau makan chicken spicy pake saus keju sambel tomat," goda Raffa. Kemudain Raffa beranjak pergi.
Ngiler kan lo-pikir Raffa.
Bener-bener cenayang si Raffa- pikir Alika.
Alika berpikir sebentar kemudian menarik tangan Raffa untuk menunggunya.
"Tunggu, gue izin dulu," ucap Alika.
Raffa berjalan lebih dulu menghadap ke Mira untuk meminta Izin.
"Tantenya Alika kan? Izin kita mau cari makan sebentar," ucap Raffa.
Alika kembali menghampiri Raffa yang dengan beraninya bertemu Mira.
Ah cari masalah nih bocah.
"Sekalian izin juga ya bun," ucap Raffa.
Alika baru sadar ternyata Mira bertemu dengan bundanya Raffa.
"Eh Ada Alika, yaudah sana jangan kabur lama-lama," ucap Fira bunda Raffa.
Sedangkan Mira mau tak mau mengiyakan saja daripada di cap sebagai tante yang tidak berperikemanusiaan.
Mereka berpamitan kemudian keluar.
"Nyari makannya dimana?,"tanya Alika.
"Di tempat makan sih pastinya," jawab Raffa.
Sudah lapar malah dipermainkan dasar Raffa.
"Ya maksud gue tempatnya dimana begee," ucap Alika.
Raffa membekap mulut Alika, "Kalau ngomong gak usah pake embel-embel kasar,".
"Itu udah halus ih," Alika melepaskan tangan Raffa dari mulutnya.
Wangi banget sih tangan lo.
Dengan mengendarakan mobil mereka pergi menjauh dari lingkungan salon. Tak perlu khawatir lama karena sudah pasti kegiatan nyalonnya ibu-ibu sangat lama.
"Tumben bawa mobil,"ucap Alika memecahkan keheningan.
Raffa masih fokus kejalan. "Ya pikir aja sendiri masa emak gua disuruh duduk di motor kasian," ucap Raffa.
Alika mengangguk saja dan tak lagi mengeluarkan suara.
Raffa melirik Alika sekilas, mengapa wanita satu ini tidak bawel seperti biasanya dan hanya diam tenang menatap kejalanan.
"Kok diem," sindir Raffa.
Alika tak menjawab, namun matanya sudah berkaca-kaca.
Raffa mengetahui itu kemudian memberhentikan sebentar perjalanan mereka.
"Nih tisu," menyodorkan tisu yang sedang Raffa pegang.
Alika menerimanya kemudian segera menghapus air matanya. Lagi-lagi Alika terlihat lemah dihadapan Raffa.
"Kenapa?," tanya Raffa lembut.
"Enggak kok Cuma cape aja," jawab Alika.
Raffa menarik pundak Alika agar mereka berhadapan.
"Dengerin gue, ceritakan apapun yang lo rasain berbagi cerita gak akan mungkin membebani orang Al," jawab Raffa.
Alika memalingkan wajahnya. "Haha apasih Raff, gue Cuma capek aja," Alika beralasan.
"Kenapa?," tanya melembutnya nada suaranya untuk membuat Alika nyaman.
Semakin ditanya kenapa, rasanya semakin ingin menangis kencang.
Alika tak bisa lagi menahannya ia meneteskan satu demi satu bulir air mata.
Raffa mendekatkan dirinya kemudian mengelus kepala Alika untuk menenangkannya.
Ia tau cara membuat perempuan nyaman, tapi ia tak tau cara jatuh cinta dan ia adalah Raffa.
"Udah lama gue gak keluar bareng sama keluarga, kangen banget rasanya jalan sama kakek keliling naik mobil, tadi gue Cuma ngerasain de javu aja Raff, gue gakpapa kok," Alika menghentikan tangisannya kemudain mengubahnya dengan senyuman yang terukir manis diawajahnya.
Raffa teduh memandang senyuman yang sudah kembali terbit di wajah manis milik Alika.
Aduh kok disenyumin gini sih.
To be continued...........
__ADS_1
Makasih udah baca makasih udah paham makasih ya makasih makasih makasih <3
Berikan dukungan <3