
HAPPY READING Y'ALL
Alika bingung bagaimana menceritakannya lagi pula mereka orang asing jadi tak sepatutnya Alika menceritakan lebih dalam tentang dirinya.
"Hmm.. Alika gak bisa cerita tan maaf ya," Lebih baik Alika mengatakan ini daripada harus mengeluarkan lagi alibi.
Fira mengerti dengan sikap Alika dan ia tau bagaimana cara agar Alika bisa bercerita tetapi ia rasa kali ini tak akan ikut campur dengan urusan anak-anaknya.
"Jangan sungkan untuk cerita, tapi kalau kamu gak bisa menceritakan gakpapa, untuk menghilangkan rasa takut itu yang pertama kamu lakukan adalah menjernihkan pikiran dan membayangkan kalau hewan di depan kamu itu bukan apa-apa atau bisa saja kamu anggap hewan itu bukan ikan sementara untuk membiasakan diri setelah itu kamu akan sadar sendiri bahwa hal yang menurutmu menakutkan ternyata biasa saja." Ucap sang ibu.
Alika mengangguk paham, ia seperti terhipnotis dengan penuturan yang baik dari ibunya Raffa. Bila pun kagum dengan ibunya Raffa yang berpenampilan rapih dan elegan benar-benar terlihat seperti wanita berkelas.
"Makasih banyak tan, Alika akan coba tapi mungkin sekarang belum waktunya," ucap Alika.
"Yaudah Al besok coba lagi," saran Bila.
"Besok lo kesini aja," ucap Raffa.
"Enggak deh Raff jadinya ngerepotin, mungkin gue bisa belajar di rumah aja," jawab Alika.
"Tak apa sayang besok kan minggu jadi kalian libur sekalian aja ngisi waktu libur untuk kegiatan yang bermanfaat tapi jangan terlalu fokus, waktu libur kalian manfaatin juga buat istirahat atau sekedar jalan-jalan," ucap Fira.
Bagi Fira waktu libur sang anak sangat berharga, sebisa mungkin hari weekend harus mereka habiskan dengan beristirahat memulihkan diri dari penatnya kegiatan di hari produktif.
"Yang dikatakann bunda itu betul sayang kalian jangan terlalu memaksakan diri, semuanya harus sesuai tak perlu berlebihan." Ayahnya Raffa baru saja tiba.
Alika dan Bila terkejut dengan ayahnya Raffa. Mereka berdua tersenyum malu-malu, Bila menatap Alika dibalas oleh Alika sepertinya mereka berdua sedang bercengkrama melalui telepati.
"Ayah baru pulang?," tanya sang anak.
"Ternyata Alika sama Bila temennya Raffa ya, bapak kira Raffa gak punya temen," ucap sang ayah.
"Hehe iya pak," Alika dan Bila tersenyum kikuk di depan Pak Hari guru Biologi mereka.
__ADS_1
Dunia ini sempit ternyata anaknya pak Hari adalah Raffa. Tadi siang Alika sempat curhat tentang pak Hari kepada anaknya sendiri.
"Duh gue takut Raffa ngadu yang enggak-enggak lagi," batin Alika.
Raffa tersenyum memperhatikan Alika, tebakannya tepat pasti Alika sedang memikirkan curhatannya tadi siang.
"Ayah tau gak ada murid yang takut sama ayah terus dia..." Alika menatap tajam ke arah Raffa seakan mengisyaratkan untuk tutup mulut.
"Kenapa dek?," tanya sang Ayah.
"Eh enggak deh, ayah kan udah kenal sama mereka jadi Raffa gak perlu ngenalin lagi ya, "
"Iya, mau masak? Kok ada ikan disini?," tanya Pak Hari.
Alika dan Bila mngenal pak Hari adalah sosok yang misterius dan menakutkan tetapi ternyata adalah sosok yang lembut dan penuh perhatian mungkin mereka saja yang tak dapat mengenal pak Hari dengan baik.
Alika dan Bila belajar bahwa mengenal dulu seseorang baru tau bagaimana sikap yang sesungguhnya. Karena manusia bisa saja memakai topengnya untuk menutupi jati dirinya atau bisa juga brtindak seolah orang jahat tetapi baiknya luar biasa tanpa di tunjukan ke dunia bahwa dia baik.
"Alika lagi kenalan sama ikan yah," jawab Raffa.
Bila lupa jika hari ini ia harus mengantar ibunya ke butik sedangkan dirinya masih di luar, bisa-bisa sang ibu menyusulnya kesini.
"Mohon maaf sebelumnya, Bila pamit dulu ya mau nganter mamih ke butik," Bila tak mengajak Alika ia segera berpamitan kepada Fira dan Hari serta Raffa.
Alika tak tenang di tinggal sendirian oleh Bila jadi ia ikut-ikutan pamit.
"Alika juga pamit, nanti orang rumah nyariin kalau kelamaan di luar," ujar Alika.
"Mau gue anterin?," Raffa menawarkan tumpangan.
"Iya nak boleh tuh, siapa tau Bila di tunggu sama ibu nya,"ujar Fira.
"Enggak tan, Alika pulang sama Bila aja." Raffa tak mungkin membiarkan Alika begitu saja namun setelah Alika menatap Raffa dan mengisyaratkan untuk tetap diam akhirnya Raffa memilih diam.
__ADS_1
Keduanya pamit pulang.
Setelah di cek pesan yang Alika kirimkan ke grup keluarganya ternyata tidak terkirim. Hari sudah mulai gelap firasatnya sudah tidak enak sejak keluar dari rumah Raffa.
Di perjalanan Bila banyak bertanya mengapa Alika bisa begitu dekat dengan Raffa, namun Alika tak mungkin menceritakan keseluruhannya sebab tak mau masalahnya di ketahui Bila.
"Jangan di tutup-tutupin cerita saja semuanya sama gue Al, please lo itu sahabat gue," ujar Bila.
Alika tampak berpikir lebih baik ia tak menceritakan kebiasaannya ketika sedang kesal, Alika tak mau Bila bersahabat hanya karena kasian "Enggak bil, gue sering ketemu Raffa di kelas dan kebetulan sering jajan mie Ayam mang Karta pas malem jadi sering ngobrol juga akhirnya akrab deh," jawab Alika.
"Lo suka sama Raffa?," tanya Bila tiba-tiba.
Alika menyangkalnya karena pada dasarnya Alika tak memiliki rasa untuk Raffa sedikitpun tetapi ia merasa nyaman di dekatnya, perhatian yang Raffa berikan seakan mengobati sedikit luka yang ia miliki.
"Enggak lah, mana mungkin gue suka sama cowok modelan kayak gitu," ucap Alika.
"Dih modelan yang lo suka tuh kayak temennya Rama yang playboy kan," Bila mencibir Alika.
Temannya Rama bernama Noval adalah satu-satunya orang yang Alika sukai dari pertama masuk SMA.
Terkadang Alika dekat dengan Rama hanya karena ingin melihat Noval, niat hati mengakrabkan diri dengan Noval malah terjebak di Rama.
"Jangan ngatain Noval, dia tuh sebenernya baik Bil, Cuma kelakuannya aja yang perlu di ubah," jawab Alika.
"Serah lo deh, tiap lo bilang mau move on dari noval tapi akhirnya tetep aja suka, pertanyaan gue Cuma satu, jadian kagak tapi sok sok an mau move on duh Alika alika," ucap Bila.
Bila berbicara pelan sedangkan Alika tak mendengarnya sedikitpun.
"Udah lah jangan ngobrol gue gak denger lo ngomong apaan,"ucap Alika.
"Duh punya temen gini amat,"
TBC.....
__ADS_1
SALING MENGHARGAI YA GUYS
YU FOLLOW @storywd.asa ON INSTAGRAM