
Happy Reading Y'all
I hope you're happy but don't be happier
________________
Hari yang cerah ditambah dengan suasana hati yang damai. Setelah sekian lama tak lagi merasakan ketenangan jiwanya hari ini mungkin menjadi satu hari yang menenangkan.
Terima kasih Raffa, I will always remember you.
Alika berniat menghampiri Fira dan Hari untuk mengucapkan terima kasih tapi terpaksa ia mendengarkan percakapan mereka yang menyakitkan. Lebih dari apapun ini bener-bener nyesek.
"Bunda tau Alika kewalahan dan bermental lemah di keluarganya, apa anak kita gak seharusnya deket sama dia?," ucap Fira.
Hari menanggapi istrinya dengan yakin, "Kalau itu mempengaruhi psikis Raffa ya terpaksa kita larang mereka deket," jawabnya.
Benar apa yang dipikirkan Alika kalau kedua orang tua Raffa akan merasa terusik saat anaknya dekat dengan dirinya. Padahal Raffa saja tak mempermasalahkan itu semua, sayangnya Alika tak mau membuat hubungan ayah-ibu itu hancur hanya karenanya mumpung belum terlalu dekat lebih baik perlahan menjauh.
"Raffa terlalu seiras buat gue yang berantakan," ucap Alika kemudian memberanikan diri mengucapkan terima kasih kepada Fira dan Hari.
"Makasih tan, pak udah izin sama mama dan ayah, maaf kalau Alika jadi ganggu acara ini, Alika janji gak akan deketin Raffa karena Alika cuma butuh ketenangan ini, makasih ya Alika pamit," ucap Alika berlalu.
Hari menahan Alika sebentar, "Maafin ucapan kita tapi kita mau yang terbaik untuk Raffa semoga kamu menegerti,"
Alika tak berani menolak ia hanya tersenyum dan mengangguk kemudian berlalu. Ia beranjak pergi meninggalkan villa ini. Rasa sakit hatinya tak ia tumpahkan karena kenyataan dilarang bertemu Raffa tetapi menyakitkan mendengarkan orang lain tau kalau dirinya lemah dan meremehkannya menjadi benalu di hidup orang.
Dari tadi Raffa tak melihat Alika ia berusaha mencari keberadaan gadis itu di sekitar taman sebelum menanyakan kepada kedua orangtuanya.
"Alika mau kemana ?," tanya Bila yang baru saja tiba.
Aduh gawat masa gue pulang pas mereka dateng.
"Lagi mau jalan-jalan aja sendiri,"jawabnya berbohong.
Rama tak menyapa Alika sama sekali bahkan tak ada seutas senyuman yang selalu diperlihatkannya pada Alika.
Lia Ayudia sepupu Rama Aziel, sengaja ia ikut karena berhubungan ada pertemuan dilokasi yang sama.
"Iel gue masuk dulu ya," ucap Lia berpamitan kepada Rama dan tak memperdulikan kehadiran Alika disana.
Sebelum Lia masuk ia berpapasan dengan Raffa dan semua itu tak lepas dari panangan Alika, Rama, Noval, Bila, Esa dan Aji.
"Ay kok kamu ada disini?," tanya Raffa.
Ay? ayang? njir romantis banget, nyesek tapi.
"Kamu yang ninggalin aku kan seharusnya kita sama-sama tapi gak ada kabar lagi, siang tadi tante Fira nanyain aku kebetulan Iel ada acara disini jadi nebeng," jelas Lia.
"Iel?," tanya Raffa.
Lia hanya menunjuk keberadaan Rama tanpa bicara dan Raffa hanya mengangguk, tepat setelah melihat Rama akhirnya Raffa menemukan sosok yang dicarinya dari tadi. Ia tersenyum melihat Alika namun tidak dengan Alika karena wajahnya sayu entah apa yang terjadi padahal tadi ia sudah memastikan Alika tersenyum kembali atau gara-gara Rama?.
"Kamu ketemu bunda aja dulu, aku ada urusan bentar," ucap Raffa.
"Jangan lama, ada banyak hal yang harus aku tanyain sama kamu," jawaban Lia hanya mendapat anggukan dari Raffa.
Raffa menghampiri Alika yang sedang memalingkan muka darinya.
"Darimana aja Al?," tanya Raffa.
"Hm itu," jawab Alika ambigu.
Rama menangkap gelagat yang berbeda dari Alika terlihat tak nyaman berbincang dengan Raffa akhirnya Rama memutuskan untuk menarik tangan Alika dan menjauh dari sama.
Sebelum keduanya pergi Raffa lebih dulu menahan Alika namun ditepis olehnya.
"Gue perlu bicara sama Rama," ucap Alika.
Noval sudah merangkul Raffa kemudian semuanya beranjak masuk ke villa sedangkan Alika di tarik Rama ke sebuah tempat yang tersedia di sana.
Hening diantara keduanya karena sibuk berkutat dengan pikiran masing-masing yang satu takut marah yang satunya lagi bingung bagaimana cara meminta maaf.
"Ram maafin gue ya atas ucapan waktu itu," ucap Alika membuka suara.
__ADS_1
"Enggak, gue yang harusnya minta maaf," sela Rama.
Keduanya sama-sama salah karena menggunakan emosi saat itu.
"Alina adek gue kita berdua emang jarang panggil adek-kakak pada umumnya karena gue yang bilang sendiri sama Alina buat gak manggil kakak , siapa tau suatu saat nanti gue pergi jadi Alina gak perlu kehilangan sosok kakak" ucap Alika.
"Alina memang gak manggil lo kakak tapi sampai kapanpun lo tetep kakaknya," ucap Rama.
"Jangan pergi Al, mau kemana sih heran gue sama lo,"lanjutnya.
Alika memutar bola matanya malas.
"Kok Lia manggil lo iel?," tanya Alika.
"Panggilan sayang dari keluarga kalau lo mau manggil iel lo harus jadi keluarga gue gimana mau?," Rama menaikan satu alisnya menggoda Alika yang sudah menggedikan bahunya berkali-kali dan berkata amit-amit.
"Ih males gue gak mau ngelamar jadi anggota keluarga lo,"
"Ya kan tugas melamar bukan lo tapi gue," ucap Rama menjahili Alika.
"Ih udah kacau otak playboy, dasar kadal," ucap Alika.
"Eh tapi nama lo tuh sebenernya apa sih,"tanya Alika.
Rama menghela nafas bisa-bisanya Alika tak tahu nama lengkap Rama padahal mereka sudah akrab cukup lama.
Rama menarik tangan Alika dan memegang telapak tangannya seperti orang yang hendakk bersalaman sedangkan Alika memberontak namun sayangnya tenaga Rama lebih besar darinya.
"Rama Aziel Rahkasyapura Niladitama putra dari papa mama yang udah pisah dari kecil," jawab Rama.
Alika menyayangkan mengapa harus ada embel-embel itu, ia berusaha membalas jabatan tangan dari Rama.
"Alika Namira wanita cantik," jawabnya.
Gue udah tau kali kalau lo cantik .
Dari tadi Raffa memperhatikan interaksi dua insan yang sedang bersalaman di sebuah taman.
"Selesaikan semuanya dan kembali ke gue Al," ucapnya.
Raffa dengan sikap dinginnya dan kepedulian yang luar biasa sedangkan Rama dengan kehangatannya yang terkadang bisa membuat semua wanita terpanah dengannya.
"Raf kamu selama ini kemana aja? tiap kita janjian gak pernah sekalipun kamu hadir atau ada saat itu," tanya Lia menuntut jawaban dari Raffa.
"Gue ada urusan," jawabnya ketus.
"Kok tiba-tiba jadi bilang gue sih, kamu kenapa Raf?," tanya Lia.
Raffa yang sudah tidak nyaman dengan semua ini hanya bisa pasrah dan jujur.
"Tiap lo janjian ketemu gue selalu ada urusan sama Alika jadi gak bisa di batalin," jawabnya.
Lia geram dengan semua ini sudah ia tebak sejak pertandingan futsal yang menampakan kalau Raffa sedang vidcall dengan Alika.
Rama, Alika, Noval, Bila, Aji dan juga Esa mendatangi Raffa dan Lia.
Lia mendapati kehadiran Alika kemudian segera menghamirinya.
"Alika mana sini muka lo?,"
"Gue liat-liat lo itu cantik"
"Rangking aman,"
"Cerdas iya."
"Tapi sayang P-E-L-A-K-O-R," ucap Lia menekankan kalimat itu disana.
Dirinya merasa tak pernah menjadi pelakor bahkan dekat dengan orang pun rasanya tak pernah sampai tahap PDKT.
Alika tak lemah tapi tak terpancing emosi juga.
"Ngatain orang sembarangan! mana buktinya kalau gue pelakor? sadar gak sih nuduh tanpa bukti? Li gue mohon sama lo hentikan semuanya kita tuh temenan," ucap Alika.
__ADS_1
"Temenan apa? emang lo pernah nganggap gue temen? enggak kan! lo cuma sibuk sama orang-orang dan gak pernah peduli sama gue," ucap Lia.
"I'm sorry for everything Li, maaf gue gak pernah nanya keadaan lo," ucap Alika.
"Basi! gue udah gak mau natap lo sebagai temen," balas Lia.
Sekarang Alika dihantui rasa bersalah karena tak bisa selalu ada didekat Lia, dia pikir Lia memang tak pernah mau bercerita padanya ternyata dugaan Alika selama ini salah.
Semua masalah itu karena gue, sumbernya gue.
"Sekarang lo mau rebut Raffa dari gue hah?! jawab gue sekarang! jangan diem aja! Pelakor," ucap Lia dengan membentak Alika sedangkan Alika sedang mematung mencerna dalam dalam maksud Lia.
Rama geram dengan tingkah saudaranya.
"Lia Lo bilang Alika pelakor? emang lo pacaran sama Raffa? enggak kan? pikir dulu sebelum ngomong jangan mempermalukan diri lo sendiri," ucap Rama.
Andai saja Raffa disini menyaksikan tingkah Lia hanya saja, kini Raffa berlalu pergi setelah kedatangan mereka tadi.
"Setiap gue minta ketemu sama Raffa dia selalu bilang gak bisa dan ternyata setelah gue tanya langsung dia lagi sama lo! Lo cewek lo juga paham dong sakitnya gimana?! hargai gue plis?!," ucapan Lia barusan berhasil membuat Alika menahan sesak. Apakah seburuk itu dirinya dimata Lia.
Kini Alika mau menjauhi Raffa dengan tekad penuh.
"Gue gak tau maaf Li, lagi pula gue dan Raffa gak pernah deket jadi gue akan pergi dari dia supaya lo bahagia maafin gue ya," ucap Alika.
Amarah Lia berkurang karena berharap Alika memenuhi semua keinginannya.
Rama menarik Alika menjauh.
"Ada yang terjadi diantara kalian berdua?," tanya Rama.
Alika tak tahu apa yang di rasakan Lia selama ini ia hanya tahu kalau Lia berubah dan sikapnya semakin menjauh dari kata baik.
Kini ia merasa Lia berubah karena keegoisannya.
"Ram mau gak jadi pacar gue?," ucap Alika.
Rama terkejut mendengarnya pasti Alika salah ucap atau hanya kesal.
"Ralat maksudnya pura-pura," ucapnya lagi.
"Kalau gak mau it's ok mungkin gue gila barusan ngomong gitu," kata Alika sambil menatap jauh kedepan.
Rama tak mau mengambil kesempatan ini untuk keuntungan dirinya kalau dipikir-pikir Alika juga memanfaatkannya.
"Tempo hari kalau gue bilang gue itu baik lo salah mungkin setelah lo denger ucapan gue tadi cuma mau manfaatin lo, I'm sorry lo juga bisa pergi dari hidup gue kalau seandainya lo benci," ucap Alika.
"Gue cuma pengen gak ada orang yang membenci kehadiran gue ternyata itu salah karena perbuatan gue bisa bikin mereka semua benci sama gue Ram,"
"Jadi baik dan ramah gak selamanya bikin lo jadi gak dibenci, mereka yang gak suka sama lo tetep akan membenci jadi daripada nurutin apa kata mereka mending lo teguh sama pendirian lo," pangkas Rama.
Rama menarik tangan Alika kemudian mendekapnya meskipun Rama tau ia di manfaatkan justru dengan senang hati ia menerima Alika.
Kalian berdua memang sama-sama punya masalah cocok.
"Lo mau gak jadi pacar gue?," tanya Rama.
Alika melepaskan dekapan Rama, ini semua seakan hubungan yang tidak sehat karena di awali dengan rasa kalut.
"Maksudnya pura-pura," ucap Rama.
Alika mengangguk ia merasa ada yang membantunya.
"Gue lakuin ini semua buat Lia dan Raffa gue mau buat Lia gak terjebak di perilaku buruknya sekaligus mau lindungin Raffa karena orang tua dia gak mau gue deket sama Raffa, Ram gue sakit gue gak sehat," ucap Alika.
Rama sadar posisinya hanya dimanfaatkan tapi ia terima dengan senang hati. Setidaknya Alika bisa terus ada disisinya karena suatu saat nanti Alika akan menyadari kehadiran Rama sangat berharga.
"Orang-orang yang menjauhi lo hanya karena lo sakit akan menyesal Al, I will always be by your side."
Beruntung dipertemukan Rama meskipun didasarkan atas kekesalan dan hubungan mereka tak di dasarkan rasa kasih sayang.
Raffa melihat semua adegan peluk-pelukan itu depan matanya, rasanya kecewa tapi Alika dan dirinya memang tak pernah terikat apapun jadi tak ada alasan untuk Raffa cemburu.
Semoga semuanya lancar dan semoga Bila, Noval tak lagi memikirkan dirinya agar segera berkata jujur tentang hubungan mereka.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..........
"Hubungan yang didasarkan atas rasa kasihan dan saling memanfaatkan hanya akan membuat mu terjebak dalam masalah yang baru"