Aliran

Aliran
Tigaempat


__ADS_3

Happy Reading Y'All


...Selamat Datang di Dunia storywd...


^^^Berselancar ditengah ombak yang pasang^^^


......................


"Jika dengan menjauh adalah cara yang tepat untuk menjaga


hubungan maka lebih baik aku menjauh daripada harus menyakiti


banyak orang"


Cara ku menyelamatkan pertemanan kali ini adalah dengan menjauh,


mencoba menjadi orang lebih tertutup dari biasanya, jangan terlalu dekat dengan siapa pun


menjadi aku yang seperti ini memang melelahkan tapi aku bisa bertemu


banyak orang dengan mudah. 


Apakah caraku untuk menjadi manusia yang lebih pendiam akan membuat semua orang nyaman?


Aku selalu nyaman dalam bersembunyi namun jika sendirian aku tidak yakin akan sanggup.


Sore ini seperti biasanya aku harus menghadiri les. 


Kegiatan les bukanlah hal yang memberatkan karena dari semua hal yang paling menyenangkan adalah belajar,


Ibaratnya aku melarikan diri dengan belajar karena di dunia belajar semua


pertanyaan pasti akan selalu menemukanjawabannya maka dari itu semua permasalahan pun pasti akan ada solusinya seperti memecahkan kasus di dalam soal matematika


maupun fisika.


Ini waktunya untukku menghindar dari Raffa, perlahan namun pasti aku harus segera merelakannya meskipun hatiku tidak bisa mengelak lagi atas rasa hati ini.


Yang membuat ku menghindar dari Raffa adalah jelas karena aku tidak ingin jatuh semakin dalam di perasaan ini selain karena kemungkinan kita bersama adalah


0,09% tapi ada hal lain yang membuatku untuk segera menjaga jarak darinya.


Ini adalah sore yang cukup menegangkan karena tidak biasanya aku mendiamkan semua orang di dalam kelas dan tidak biasanya juga aku duduk di barisan terakhir


seperti hari ini, mungkin beberapa orang yang dekat denganku akan merasakan perbedaannya tapi yang ku harapkan Raffa tidak begitu peduli dengan kondisi saat ini.


"Hmm berat banget ternyata...." gumam Alika.


Sebelum Alika meninggalkan kelas ia di hadang oleh Raffa.


Ini pasti terjadi, saat Raffa mempertanyakan perubahan sikapku, aku harus tetap tenang.


"Ada apa?," tanyaku dengan nada sedatar mungkin.


"Kenapa?" tanyanya.

__ADS_1


"Gak ada apa-apa, permisi gue mau pulang," jawabku sambil membawa tas menepisnya kemudian pergi dari hadapannya.


Jujur ini berat banget, disaat kamu memiliki rasa yang besar tapi kenyataan mengharuskan untuk menghindar darinya.


Ternyata menahan perasaan sesulit ini. Perlahan menjauh tapi


sedikit menyiksa karena secara tidak langsung semangat ku juga adalah dia untuk saat ini.


Raffa kebingungan dengan tingkah Alika, ia bertanya-tanya apakah ada yang salah dari dirinya. Apakah selama ini Raffa membuat Alika sakit hati? Tapi apa? Raffa merasakan seperti kehilangan sesuatu saat Alika berubah sikapnya.


Bukan hanya kepada Raffa melainkan ke orang lain disekitarnya juga sama berbeda.


Seperti biasanya sebelum pulang ke rumah aku pasti menyempatkan diri untuk duduk di sekitar taman yang tidak pernah banyak pengunjung, kemudian duduk diantara rumput yang diperbolehkan untuk diinjak sambil menggambar hal abstrak disana.


Entahlah kata Raffa kalau lagi emosi jangan menyakiti diri sendiri tapi cobalah untuk menyalurkannya melalui tulisan, gambar ataupun hal-hal yang bisa dijadikan objek emosi itu meskipun yang ditorehkan tidak pernah jelas tapi kenyataannya ada makna terdalam disana.


Alika mendengarkan ucapan Raffa karena itu bisa membuatnya merasa lebih baik dalam menjaga diri sendiri.


"Katanya mau pulang? Nih minuman," ucap Raffa sambil menyodorkan salah satu minuman segar.


"Kok lo bisa ada disini?," tanyaku, apakah usaha ku akan selalu sia-sia


untuk menjauh dari Raffa?


" kalau lo lagi beda pasti udah ketebak akan pergi kemana, coba deh inget-inget waktu awal-awal kita kenal pasti selalu ada ditempat ini dan tiap kali liat lo murung gue akan datang ke tempat ini untuk pastiin keadaan lo," jawaban Raffa membuat ku tertegun karena waktu awal-awal itu aku belum menyapa. Raffa bahkan untuk berkenalan dengannya saja malas karena dia selalu jadi manusia yang so misterius dan susah diajak ngobrol.


"Gue gak tau kalau lo sekenal itu sama gue waktu awal pertemuan itu," jawabku.


"Ya karena lo sibuk dengan orang lain tapi gak pernah tuh lirik gue atau ngajak gue ngobrol," jawab Raffa sambil tersenyum.


beberapa waktu lalu.


"It's okay kadang lo juga harus punya space untuk bergaul dengan orang lain Al, gak selamanya orang yang lo anggap dekat akan selalu ada kadang orang yang gak pernah lo sangka baik adalah penyelamat lo nantinya, tapi jangan berusaha buat menahan diri dari publik," Raffa selalu saja punya jawaban atas segala rasa kalutku, tapi aku tidak boleh mengurungkan niatku untuk menjauhi Raffa.


"Jadi dewasa itu menakutkan, karena lo harus melihat sendiri setiap orang pergi tanpa adanya aba-aba, dulu gue gak mengerti bagaimana rasanya itu tapi sekarang semuanya terasa begitu menyakitkan Raff, semua orang yang lo sayangi harus pergi dan secara perlahan ketakutan akan kehilangan seseorang menjadi hal yang sudah melekat dalam diri sehingga cara yang lo ambil hanyalah menarik diri dari dunia luar, menurut gue saat ini gak mudah untuk dilalui," jawab


ku sambil menatap kedepan.


Raffa memperhatikan setiap gerak-gerik dan ucapan yang keluar dari mulutku dengan seksama.


"Memang fase terberat adalah transisi dari remaja menuju dewasa karena setiap keputusan harus diambil sendiri tanpa campur tangan pihak lain, tapi ketakutan itu perlahan harus lo lawan, membuat dunia sendiri gak semudah itu Al karena lo gak bisa hidup sendirian di dunia ini," ucapan Raffa bisa membuat ku mengerti bahwa kenyataannya aku memang tidak bisa melakukan semuanya sendirian.


"Makasih, gue gak bisa menutupi ini semua dan mulai sekarang gue memang harus menjauh dari lo," ucapku, memang lebih baik jujur daripada harus menghindar lagi.


"Kenapa?  kenapa harus menjauh dari gue? Gue punya salah sama lo?,"tanya


Raffa.


"Ada hal yang gak bisa gue ceritain ke lo tapi intinya gue memang gak bisa terus menerus membuat lo menjadi orang yang selalu melihat kesedihan gue Raff, lo gak pantas untuk jadi teduh ditengah badai," jawabku tanpa menatap lawan bicaraku sekarang.


"Gue gak pernah merasa terbebani dengan semua itu Al, jangan coba-coba buat menghindar kalau lo gak bisa menjelaskan alasan yang masuk akal," ucap Raffa


menentang keinginanku.


"Ada alasannya Raff dan lo gak perlu tau," jawabku dengan sedikit menaruh emosi.

__ADS_1


Raffa seperti kehabisan kata-kata karena ia tahu kalau aku adalah orang yang keras


kepala.


"Oke fine kalau memang lo mau menghindar dari gue tapi gue gak bisa Al, seharian tadi gue merasa tersiksa karena lo bersikap acuh dan gak peduli sama semua yang terjadi hal itu seakan buat gue jadi orang yang bersalah," jawaban Raffa membuat ku merasa bersalah karena yang salah disini sebenarnya adalah aku bukan


dia.


"I'm sorry karena gue gak mau terlalu jauh mengenal lo Raff," aku mau jujur dengan semuanya.


Raffa nampaknya kesal namun ia tidak pernah menampakkan emosinya.


Raffa adalah laki-laki sabar yang pernah ku temui karena tidak pernah terlihat amarah yang membara dalam dirinya meskipun wajahnya selalu memerah ketika menahan amarah itu.


"Jangan bikin gue menyerah dengan lo Al, selama ini perasaan gue ke lo semakin membingungkan, ada kalanya lo selalu memenuhi pikiran gue tapi di sisi lain gue belum menemukan arti cinta sebenarnya," jawaban Raffa semakin membuatku terkejut dan berat untuk menghapuskan tentang Raffa disemua ceritaku.


"Buang jauh-jauh aja dan mungkin ini saatnya buat lo menyerah," jawabanku tampaknya tidak membantu Raffa sama sekali.


"Tapi gue sayang sama lo Al meskipun rasa cinta itu belum sepenuhnya tumbuh karena masih ada orang lain yang membuat gue merasa bersalah tentang perasaan ini," ucapan Raffa kali ini memang mnegecewakan.


Aku mencoba tersenyum dengan menatapnya untuk segara mengakhiri pembicaraan hari ini.


"Lo masih ragu Raff dan semuannya masih bisa berubah dalam waktu dekat jadi jangan mengharapkan sesuatu yang masih di ragukan, gue memang gak mengerti gimana cara mengungkapkan rasa sayang tapi perasaan gue ke lo udah beda, lo selalu jadi orang yang gue cari ketika gue membutuhkan seseorang dan saat itu juga gue sadar kalau perasaan ini bukan hanya sekedar rasa yang hanya lewat kemudian hanyut dibawa ombak tapi memang benar perasaan yang membuat gue merasakan kembali cinta, gak pantes buat bahas itu tapi itulah perasaan gue sebenarnya,"


Aku sudah terlanjur mengungkapkan semuanya kepada Raffa.


Raffa tidak mengekspresikan apapun selain mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri sejajar dengannya.


"Kalau alasan lo buat menjauh dari gue sudah bulat maka silahkan saja lo lakuin itu, gue juga mau tau apakah perasaan ini harus segera gue kubur dalam-dalam atau dipertahankan,"


Raffa sudah menyatakan kalau dia memang ragu dengan hatinya jadi kesempatan yang tepat untuk segera menghindar darinya.


Menyatakan perasaan bukan berarti akan menyatukan seseorang dalam sebuah ikatan tapi terkadang mereka malah menyadari keraguan yang cukup besar.


Cara terampuh untuk mengujinya ialah menjauh , kalau mampu bertahan itu artinya tidak perlu lagi merasa ragu.


Kepastian yang harus diterima dua insan itu adalah menerima kenyataan.


Dua- duanya memiliki rasa yang sama tapi tidak bisa bersama.


Alasan Alika mundur dari rasanya adalah tindakan yang tepat daripada ia harus maju tapi mengorbankan segalanya.


Resiko mencintai seseorang yang masih bertahan dengan orang lain cukup berat karena ia bisa bersikap seolah-olah kamulah yang berharga tapi di sisi lain hatinya


tidak sepenuhnya berada di kita.


Raffa tidak pantas menyesal atas keputusannya untuk merelakan Alika, karena jika kelak Raffa sadar kalau kehilangan Alika adalah momen terburuk dalam hidupnya.


Alika memang bukanlah perempuan yang mudah untuk melupakan sosok yang pernah tersimpan baik didalam hatinya, jika keadaan yang mengharuskan untuk lupa maka ia akan berusaha keras untuk menghapus perlahan rasa itu. 


..."Berhenti sebelum sampai pada garis finish dan mengakhiri sebelum mencoba...


...berada di garis start adalah salah satu cara menghindar paling menohok "...


BERSAMBUNG...................................

__ADS_1


Terima kasih untuk pembaca yang selalu ada meskipun aku gatau kalian seperti apa, semoga yg ku tulis sampai ke hati kalian


__ADS_2