Aliran

Aliran
Delapan


__ADS_3

Happy Reading Y'all


Votment nya di tunggu


Salah satu cerita yang aku buat penuh emosi dan mengbaper sendiri


Alika tersenyum dengan elegan sedangkan Bila ngeri melihatnya tersenyum seperti itu.


"Aduh nangis batinku Lik, siniin handphone lo gue mau bakar," ucap Bila melebih-lebihkan.


Alika lagi-lagi hanya tersenyum seperti tak bersalah.


"Gue lupa unmute grup nya hehe," ucap Alika yang masih tersenyum menyeramkan.


"Antara pinter dan lemot tuh beda tipis ternyata." Bila mengambil alih handphone Alika untuk mengaktifakn kembali grup yang sudah ia mute sejak hari sabtu lalu.


"Terus apa guna handphone lo kalau gak pernah baca chat Alika!!!," seru Bila sambil berteriak singkat di telinga Alika.


"Gue baca chat yang di pinned aja biar gak ilang kan sekarang fitur archived sangat-sangat berguna soalnya tetep bisa ada di bagian archived tanpa muncul kepermukaan isi chat nya." Ucap Alika.


"Serah lo dah bodo amat! gue mau renang bareng ikan piranha aja dah," jawab Bila.


"Nanti kalau di ngap sama ikannya lo bisa mati,"


"Gua pelototin aja atau gua ancam mau dijadiin bahan mutilasi di ujian praktek nanti," jawab Bila.


Keduanya tak pernah serius jika saling bercerita, terkadang Alika hobby sekali deep talk namun Bila kerap mengajaknya bermain game. Ketika Alika mengajaknya bermain game justru Bila menginginkan sesi curhat tapi keduanya dipastikan tidak pernah berselisih lama paling sekitar satu jam saja, itupun untuk mengembalikan mood nya masing-masing dan saling berintropeksi diri karena pertengkaran tak bisa menyelesaikan apapun kecuali dengan maaf dan membiasakan diri lagi.

__ADS_1


"Bil gue gak bisa nih kayaknya satu kelompok sama Lia, yang ada kita diem-dieman terus dia gak pernah nerima ide gue apalagi lo tau sendiri kalau temen-temen kelompok nanti minta gue jadi ketuanya lebih ribet ah, dia kan pengen banget jadi ketua kelompok, tak sudi saya berdebat," ucap Alika.


"Duh Al, gue juga gak mau tuh satu kelompok sama Lia nanti ide gue gak dia terima, mending lo protes aja sono sama Pak Hari," saran Bila.


Alika tak mau berurusan dengan guru Biologi, selain ia tak pandai belajar Biologi ia juga tak mau mendengar ocehan dari guru-guru sudah sangat kenyang ocehan dari rumah masa di sekolah pun harus di omeli sih.


"Yaudah deh gue nurut aja," ucap Alika.


Alika memikirkan cara untuk berbicara dengan Lia, ia harus segera menyiapkan mentalnya dari mulut pedas Lia. Meskipun Lia selalu bersikap baik tapi ia juga sangat dingin kepada Alika, dari sekian banyaknya orang di kelas ini yang tak pernah Lia sapa duluan adalah Alika. Hebat sekali Alika masih mau memikirkan topik pembicaraan dengan Lia.


Kelompok Biologi berkumpul, semuanya memikirkan ide untuk ujian nanti.


"Gimana kalau kita pake katak," saran Alika.


Semua teman sekelompoknya ada yang menyetujui ada pula yang menolak, sebab dari 5 orang dalam kelompok ini tak semuanya bertugas membedah ada juga yang hanya mencatat ataupun sekedar membuatkan presentasi namun tetap saja syaratnya semua harus belajar dari anatomi binatang tersebut.


"Lagi pula di kelompok ini gak ada yang takut sama katak kok," ujar salah satu teman kelompok mereka.


"Iya juga sih, siapa tau Pak Hari kasih nilai plus meskipun C+, haha amit-amit deh," ucap teman kelompok nya mendukung ide Alika.


"Keputusan ada di ketua," ucap Alika mempersingkat perdebatan.


Pemilihan ketua kelompok langsung ia serahkan pada Lia, tak mau jika ada perdebatan dan tak ada pembahasan lain akhirnya semua setuju Lia jadi ketua kelompok.


"Yaudah deh terserah Lia aja," ujar teman kelompoknya.


Lia tak mungkin mengindahkan keinginan Alika untuk memakai katak sebagai media praktek nya karena ia merasa jijik dengan hewan tersebut, bukannya Lia tak mensyukuri ciptaan tuhan tetapi ia merasa geli dengan katak.

__ADS_1


Biarkan saja memakai ikan toh ikan bukan hewan yang menyeramkan dan semua teman kelompoknya pasti tak ada yang takut dengan Ikan.


Namun tebakan Lia salah, Alika trauma dengan Ikan, ia takut melihat mahkluk bersisik satu itu , terkadang ia juga tak tega dengan ikan yang sering di goreng ibunya di rumah.


Setelah semua keputusan diambil, anggota kelompoknya hening seperti sedang mengheningkan cipta, karena dirasa tak ada lagi yang harus di bahas dan mereka pun tak terlalu dekat, tak jarang juga Alika berbincang dengan rekan kelompoknya yang lain karena merasa bosan menunggu Pak Hari meninggalkan kelasnya


Setelah Pak Hari keluar kelas, semuanya kembali ke tempat semula dengan ricuh karena bangku yang awalnya berjajar di jadikan seperti konferensi meja bundar, akhirnya para siswa harus membereskan kembali bangku-bangku agar jam pelajaran selanjutnya tak terganggu.


"Kelompok gue pakai katak duh gak asik masa gak geli sama katak sih, eh tapi gak papa deh gue kan Cuma nyatet, terus kelompok lo mau pakai katak juga kan? Setau gue anak kelompok lo gak ada yang takut sama katak," tanya Bila.


"Rahasia negara," jawaban Alika tak Bila sukai.


"Idih gak asik deh lo mah," ucap Bila merengek.


"Ikan," jawab Alika singkat.


Posisi semula Alika menghadap ke ponsel kini pipinya di tarik Bila agar menghadap kearahnya.


"Seriusan lo? Gak lagi ngibulin gue kan?" tanya Bila terkejut.


"Enggak lah." Alika menepis tangan Bila dari wajahnya.


"Aduh gimana ini, pasti tugas lo bagian bedah kan?" tebakan Bila benar.


Bila tau mengenai hewan yang Alika takuti, tapi mereka pun tak bisa bertukar posisi.


"Sahabat gue Cuma lo, nanti kalau lo kena serangan jantung karena deketan sama ikan kan gak lucu," jawab Bila.

__ADS_1


TBC........


__ADS_2