Aliran

Aliran
empatbelas


__ADS_3

HAPPY READING Y'ALL


"Paling mereka bilang ' ya ampun sayang kenapa selera kamu perempuan yang suka katak sih'" jawab Raffa meledek.


Alika menatap sinis Raffa, dirinya tak mau berdebat lagi toh Miss sudah tiba jadi pikiran mereka harus fokus pada pembelajaran.


Mereka berdua memutuskan ke pasar sore ini untuk membeli ikan karena kebetulan Raffa tidak mempunyai stok ikan di rumahnya.


"Raff gue ajak Bila ya, males gue kalau sendirian," ucap Alika.


"Gue ajak pacar gue aja kali biar bisa nemenin lo," ucap Raffa.


Alika terkejut ternyata Raffa telah memiliki kekasih, ia harus menjaga jarak agar tak terlalu dekat dengan Raffa yang ada pacarnya akan mengira Alika adalah selingkuhan Raffa.


Raffa menatap aneh tingkah Alika barusan. "Gue bercanda kali, mana sempat pacaran yang ada mereka merasa di duakan."


Lagi-lagi Alika heran. "Dih lo tukang selingkuh ya, duh amit-amit deh jangan sampe jodoh gue modelan kek lo." Alika mengangkat tangannya berdoa.


Raffa mendorong dahi Alika dengan satu jarinya. "Gue lebih sering ngabisin waktu buat belajar jadi gak sempet buat deket sama cewek apalagi ada tuh cewek yang butuh PDKT selama berbulan-bulan duh gak dulu," jawab Raffa.


Alika kembali bertanya. "Jadi boleh gak ngajak Bila?."


"Bila siapa? Temen lo? Lama gak nunggunya," tanya Raffa.


"Ih lo itu sebenernya merhatiin orang gak sih? Lo kan pernah ngambil kelas pagi pasti ketemu sama Bila." Jawab Alika.


Raffa tak terlalu memperhatikan teman sekelasnya waktu itu apalagi dirinya tak sering mengambil kelas pagi dan lagi Raffa lebih memilih diam jika tak ada yang mendekatinya. Kebetulan saja Alika ini orangnya mudah bergaul dan menyesuaikan berhadapan dengan siapa dia, awalnya Raffa pun tak dekat dengan Alika namun karena sering bertemu di luar tanpa sengaja akhirnya mereka mengenal lebih baik sebagai teman.


"Jangan suruh gue mikir, yaudah iya bawa aja temen lo mau sekampung beserta RT dan RW nya pun boleh," ujar Raffa.


Setibanya Bila mereka langsung melanjutkan perjalanan kepasar menggunakan motor. Bila tak ingin Alika yang mengendarai motornya bisa-bisa bukannya sampai ke pasar malah mampir ke rumah sakit.


"Yaudah Bil lo ikut sama Raffa aja, gue bawa motor sendiri," ucap Alika.

__ADS_1


Bila bukan orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan apalagi yang ia tau Raffa tak banyak bicara mana mungkin sepanjang perjalanan saling diam, Bila tak suka itu.


"Gak deh gue masih berperikesahabatan, mending gue yang bawa motornya atau lo aja yang ikut sama Raffa." Saran Bila.


Raffa menyetujui saran barusan, lebih baik Alika ikut bersamanya daripada ia membawa Bila ke rumah sakit, Alika pun tak mau Bila memboncengnya karena Bila tak mungkin melajukan kendaraannya dengan cepat.


"Iya deh gue numpang sama Raffa," jawab Alika.


Mereka akhirnya pergi ke pasar dan melanjutkan kembali perjalanan ke rumah Raffa.


Alika ragu-ragu masuk ke rumah Raffa, baru kali ini ia main ke rumah laki-laki.


"Mau gantiin satpam atau masuk jadi tamu?," tanya Raffa.


Alika mengikuti Raffa di belakangnya.


Sebelum masuk mereka di sambut oleh mbak Nini, Mbak Nini sangat ramah tidak seperti ART yang dulu kerja di rumahnya, kalau di pikir-pikir Alika juga trauma dengan kejadian itu.


Sang pembantu meneriakinya dan membentaknya kasar selain itu ia mengambil barang-barang keluarga Alika sewaktu Alika kecil.


"Mana bokap nyokap lo Raff?," tanya Alika.


"Mau ngenalin diri jadi mantunya?" ucap Raffa membuat Alika ngeri mendengarnya, untung saja ini rumah milik Raffa jika tidak dipastikan sapu yang ia pegang akan melayang ke tubuh Raffa.


Bila dari tadi hanya diam memperhatikan Raffa yang pernah ia kenal dengan Raffa yang ia liat sekarang jelas berbeda.


Bila berbisik pada Alika. "Al kok lo berdua bisa akrab? Kenapa juga si Raffa jadi banyak omong gini?."


Alika heran mengapa Bila mengenal sosok Raffa yang pendiam padahal tidak sama sekali.


"Lo ditipu sama wajah sok polosnya,"ucap Alika.


"Gapapa sok polos tapi tetep ganteng," bisiknya.

__ADS_1


"Di rumah ini gak boleh ada yang ngegosip nanti di deketin setan," ucap Raffa datang membawa dua buah minuman.


Bila dan Alika mendadak jadi pendiam, entah karena tidak nyaman atau justru mereka berdua tiba-tiba merinding mendengar setan.


"Kayaknya Alika harus di culik ke sini deh, liat dia sekarang jadi sok imut gitu kerjaannya Cuma senyum sama mangguk aja," ucap Raffa pada Bila.


Bila menanggapi ucapan Raffa, jelas saja Bila tak ingin menghilangkan kesempatan untuk mengerjai Alika.


"Udah Raff culik aja jadiin tukang kebun boleh, jadiin tukang sapu boleh, suruh ngitung beras di rumah lo juga boleh, ikhlas deh beneran," Bila tertawa karena puas melihat ekspresi Alika.


Mbak Nini datang untuk menawari mereka makan. Alika sempat menolak.


"Al makan gak? Atau gue beneran culik lo," ucap Raffa.


"Dih ngasal, gak deh gue udah kenyang serius," Alika menyakalnya.


Raffa geram dengan Alika yang terus menolak makan.


Bila membongkar kebohongan Alika. "Bukannya sebelum nyamperin lo, gue di suruh bawa makanan karena lo laper kan?."


Skak Mat! Tak bisa lagi berbohong.


"Gue gak mau jadi tersangka kalau lo pingsan di jalan, ayo makan Alika," ucap Raffa dengan nada selembut mungkin.


Perkara makan saja di debatkan sungguh merepotkan.


"Kalau makan dulu nanti kapan selesai nya, belum lagi kalau gue nge drama takut sama ikannya bisa-bisa pulang malem," ucap Alika.


"Lo pikir makan berjam-jam? Gimana kalau pas nanti deketan sama ikan lo pingsan duluan ? yang ada makin lama Alika." Jujur saja Raffa membujuk Alika seperti ini karena tak mau sesuatu yang buruk tiba-tiba terjadi lagi padanya dan Alika harus melewatkan lagi makan.


"Yang dikatakan Raffa benar, jangan nunda makan apalagi dalam keadaan akan melakukan aktivitas setidaknya perut kalian sudah terisi meskipun tidak banyak," jawab Fira ibunya Raffa yang baru tiba dari kantornya.


Alika terkejut sedangkan Bila tersenyum ramah.

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2