Aliran

Aliran
tigabelas


__ADS_3

Happy Reading Y'all


Votement nya


Share boleh tuh


Alika diam sebentar untuk memikirkan jawaban yang tepat agar sang nenek tak curiga.


"Waktu pelajaran olahraga Alika gak sengaja jatuh dan tangan ini nahan beban tubuh Alika jadi memar gini deh." Alika menjawabnya dengan tersenyum.


Nenek nya mengkhawatirkan keadaan Alika yang seperti ini, tak pernah sehari pun sang nenek melihat Alika menangis kecuali waktu bayi. Nenek nya bahagia dan beranggapan bahwa kehidupan sang cucu tak pernah terlibat masalah yang berat.


"Nak yang terpenting adalah dirimu sendiri yang menjalani hidup ya dirimu sendiri, kamu tak boleh membohongi diri sendiri dengan perasaan yang kamu miliki, nenek yakin hidup mu akan terus bahagia seperti sekarang, teman-teman mu juga banyak pasti yang sayang sama kamu juga banyak jadi nenek harap jalani hidup tanpa terburu-buru kamu perlu melihat ke sekeliling mu dan nikmati setiap perjalanan dengan rasa syukur." Nasihat sang nenek.


Alika memahami ucapan sang nenek, meskipun ia sedikit menyangkal tentang kebahagiannya tetapi ia berpikir tak ada salahnya bahagia di depan sang nenek agar tak kepikiran hal buruk tentang Alika.


Siang ini ada jadwal les, Alika berpamitan kepada neneknya, mungkin sore nanti ia tak akan kembali kesini karena ibunya hanya mengizinkan semalam saja untuk menginap toh Alika bisa berkunjung lagi setiap pagi. Untungnya jarak rumah Alika dari sang nenek tak terlalu jauh sehingga bisa kapanpun berkunjung.


Di tempat les Raffa memperhatikan gerak-gerik Alika yang tak biasa.


"Tangan lo udah gak sakit kan?,"tanya Raffa.


"Hmm," jawab Alika.


Raffa mencari tahu apa yang sedang Alika lihat sampai-sampai mengabaikannya.


"Laper lo,?" tanya Raffa.


"Enggak," jawab Alika.


"Terus ngapain tatap-tatapan sama foto Ikan, nanti ikannya baper di suruh tanggung jawab lo," ucap Raffa.


Seketika Alika menatap Raffa dengan sorotan tajam di matanya.


"Garing," ucap Alika.

__ADS_1


"Terus ngapain liatin mulu foto ikan kayak gitu?,"tanya Raffa penasaran.


Alika mengubah posisi duduknya menghadap Raffa yang kebetulan duduk di sebelahnya.


"Di sekolah gue ada yang namanya pak day, dia gak akan ngebolehin gue pindah kelompok dan di kelompok itu kita ngadain penelitian tentang ikan, lebih tepatnya bedah ikan," jawab Alika.


"Terus?,"tanya Raffa.


"Eh bentar-bentar kok guru lo namanya pak day sih, orang luar negeri ? apa gimana tuh," tanya Raffa.


Alika memutar bola matanya malas menjelaskan perkara Pak Hari.


"Pak Hari ih maksudnya, guru Biologi gue," jawab Alika.


Raffa hanya ber oh ria, ia penasaran kelanjutan cerita Alika.


"Tadinya gue mau pindah ke kelompok yang meneliti katak tapi gak bisa, jadi terpaksa gue pandangin nih ikan biar jinak pas nanti ketemu," jawab Alika.


Raffa heran mengapa Alika ingin pindah kelompok padahal kelompoknya sudah tepat memilih ikan, lagi pula banyak yang takut dengan katak daripada ikan.


"Terus?,"tanya Raffa.


"Aduh lo sih aneh, orang lain pada takut katak ini malah takut sama ikan, rencana lo selanjutnya gimana biar bisa baikan sama ikan?," tanya Raffa.


Sebelum kelas mulai mereka tetap melanjutkan obrolan.


"Gak ada, paling pingsan kalau enggak tremor paling parah sih di infus," jawab Alika mengembalikan lagi posisi duduknya menghadap white board.


"Gue gak rela lah lo kayak gitu, mending gue bantuin lo," ucap Raffa.


"Bantuin apaan? Sekolah aja beda masa mau bantuin segala," ucap Alika.


"Ngomong sama Pak Hari lah," jawab Raffa.


Tak mungkin Raffa bisa berbicara dengan Pak Hari sedangkan sekolahan mereka berdua saja berbeda.

__ADS_1


"Ngada-ngada deh lo, udah lah gak usah di bahas lagi," ucap Alika.


"Ih sebenernya gue bisa ngomong sama Pak Hari tapi kalau lo gak mau yaudah, atau gue bantuin lo ngebiasain diri pegang ikan gimana?," ujar Raffa.


Untuk tawaran berbicara dengan Pak Hari mungkin rasanya mustahil tetapi untuk membantu membiasakan dengan hewan yang satu itu patut di coba.


"Boleh deh, eh iya emangnya lo gak sibuk? Nanti orang tua lo gak ngizinin kan repot," tanya Alika.


Alika memiliki perasaan khwatir sebab orang tuanya mungkin saja tak akan mengizinkannya dan ia berpikiran kemungkinan orang tua Raffa pun tak akan memberikan izin.


"Gue yang ke rumah lo atau lo yang ke rumah gue?," tanya Raffa.


Alika kaget dengan tawarannya tak mungkin juga Alika membiarkan laki-laki ke rumahnya untuk tugas kelompok saja ia tak berani mengajak pria bertemu orang tuanya apalagi ini.


Ia pun bingung jika harus datang ke rumahnya Raffa, yang Alika takut kan nanti orang tuanya Raffa menolak kehadirannya, apalagi Alika tak terbiasa berinteraksi dengan orang tua teman-temannya pasti ia akan canggung nantinya.


"Gak udah deh Raf, biarin aja nilai nanti jadi tanggung jawab gue aja," ucap Alika pasrah.


"Lo mau nyerah gitu aja?gak akan nyoba buat melawan rasa takut lo?," ucap Raffa.


Yang diucapkan Raffa barusan itu benar, masa Alika menyerah begitu saja dan membiarkan nilai nya hancur, bukan kah dengan begitu ia akan mengecewakan orang tuanya.


Alika berpikir sejenak.


"Yaudah iya gue mau, makasih ya mau bantuin gue, oh iya gak mungkin juga gue ke rumah lo sendirian takutnya orang tua lo mikir yang enggak-enggak," ucap Alika.


"Maksudnya lo takut orang tua gue mikir kalau lo pacar gue gitu?," tanya Raffa.


"Emmm ya gak gitu juga Raff ih, udahlah bentar lagi Miss dateng," jawab Alika mengalihkan pembicaraan.


"Lagian bokap nyokap gue gak mungkin percaya kalau pun lo pacar gue," ucap Raffa.


Alika mengerutkan keningnya.


"Maksud lo?," tanyanya.

__ADS_1


Tbc....


How's your day??????


__ADS_2