
Hi Y'all, always happy and chill your day, if y feel lazy don't be scared, coz its normal okey (^_-)
________________
Jika rasa masih menganggap teman tapi kenyataannya sudah tidak mungkin lagi, apa boleh buat? berteman pun adalah tentang beberapa kepribadian kontras yang disatukan tetap saja menimbulkan konflik.
Kehilangan sahabat bisa menghancurkan hati tapi kehilangannya karena membuat sakit hati ya tidak apa-apa, sesekali berhenti menjadi egois pada diri yang terus menerus mengalah untuk disakiti.
"Lia?" Alika cukup terkejut dengan kehadiran Lia.
"Ayo kita kesana," ucap Raffa pada Lia.
Raut wajah Alika kini menjadi tak bersemangat, ini juga bukan salah Raffa karena ia sendiri yang meminta Raffa untuk menjauhinya.
Di balik sebuah momen singkat ada cerita panjang yang begitu membekas.
"Lo ada masalah apa sama Alika?," tanya Raffa.
"Bisa gak kalau manggil kayak biasanya?," kesal Lia.
"Gue udah biasa,"
"Gak," sentak Lia.
"Ya terus gue harus manggil lo apa?," tanya Raffa.
"Ay! ya Ay! kayak biasanya,"
"Gue gak mau banyak orang salah paham karena panggilan itu," jawab Raffa yang sudah mengetahui
mengapa Alika kesal beberapa saat lalu.
"Pasti karena Alika," ucap Lia mendelik.
"Kalian berdua bisa berteman? kalian itu classmates," saran Raffa.
Jelas-jelas Lia akan keras kepala, mana mungkin mau mengalah kepada Alika.
"Gak bisa! , Alika munafik, Alika gak punya perasaan, Alika egois, dia gak pernah merhatiin orang yang didekatnya, dia gila sama peringkat, dia bukan kakak yang baik, pokoknya dia bukan orang yang sebaik itu," ucap Alika kesal, marah, sedih semuanya menjadi satu.
Raffa mencoba tenang saat ini, meskipun batinnya tak kuasa untuk menahan kekesalan saat Alika di caci maki seperti ini.
"Udah?," ucap Raffa.
"Apa maksud lo dengan nanya udah?," tanya Lia.
"Stop playing victim ok," ucap Raffa.
"Lo gak kenal dia," ucap Lia.
"Dia bahkan gak pernah merasa baik tiap hari, u know about that?," tanya Raffa.
"Dia selalu happy karena dunia berpihak selalu padanya." ucap Lia kekeh.
Raffa sudah kehabisan kata-kata lagi untuk membuat Lia sadar
kalau Alika tak seburuk itu.
"Pernah liat Alika nangis? pernah dengerin cerita tentang keluarganya?," tanya Raffa.
Lia diam dan ternyata pertanyaan Raffa barusan memang jawabannya tidak, Lia tak pernah mengenal Alika, tapi rasa kesal Lia kepada Alika jauh lebih besar daripada rasa ibanya.
" Tap-.... "belum juga Lia menuntaskan perkataannya, Raffa sudah memilih untuk beralalu karena percuma aaja berbicara dengan orang yang terlampau merasa paling tersakiti padahal belum tau kenyataan pastinya seperti apa.
Disatu sisi Rama yang selalu memperhatikan Alika sadar betapa jatuhnya dia dalam mencintai gadis ini.
Menjadi pria yang terkenal sebagai playboy membuat semua wanita waras seperti Alika akan berpikir jutaan kali untuk dekat dengannya.
Tapi beda dengan Alika yang tak pernah memandang Rama sebagai laki-laki playboy yang jahat karena Alika mengerti letak sakit hati Rama yang ditutupinya melalui cemooh buruk kepadanya.
pesan dari Alina:
lo harus pulang besok, jangan biarin gue sendirian karena rumah terlalu tenang tanpa lo
________
Raffa tak sengaja membaca pesan yang muncul di laman notifikasi handphone Alika.
Karena setelah beberapa saat lalu meminjam handphone tersebut belum sempat dikembalikan akibat cekcok yang berkepanjangan.
__ADS_1
"Gue gak akan pernah membiarkan rumah adalah yang menyeramkan untuk lo Al," gumamnya.
"Hey itu hp gue balikin," ucap Alika menyadarkan Raffa dari lamunanya.
"Jangan baca notif atau nyalain data hari ini aja," ucap Raffa.
Alika nampak kebingungan.
"Kenapa? gabut dong gak main hp," jawab Alika.
"Gak akan gabut kalau mainnya sama gue," ucap Raffa.
Nampaknya rasa bahagia memang sedang berpihak padanya kali ini.
"Tapi mainnya pake jarak 5 meter ya," ucap Alika yang menyadari sesuatu tentang kedua orang tua Raffa.
"Mau main atau mau social distancing huh?," ucap Raffa mendapatkan pukulan kecil dari Alika.
Momen bahagia memang selalu saja ingin dilalui dengan waktu yang lama sedangkan momen pilu sangat ingin di skip.
Raffa mengajak Alika membeli jagung bakar di depan villa yang mereka tempati.
" Suka jagung bakar?," tanya Raffa.
"Apapun itu asal makanan, i love it," jawab Alika.
"Kalau gu--..." ucapan Raffa terpotong.
"Gu apa?," tanya Alika.
"Gak jadi deh keburu laper," jawaban Raffa begitu asal.
Alika hanya berdecak.
"Pak 1 ya," Raffa memesannya.
"Kok cuma satu?," tanya Alika heran.
"Karena gue gak suka jagung," jawab Raffa.
"Tapi kenapa ngajakin beli jagung bakar?," tanya Alika.
"Dih.. awas aja bakal gue paksa lo makan jagung," ucap Alika.
Alika tak bersungguh-sungguh ketika akan memaksa Raffa untuk menyukai hal yang tak disukai nya.
Jagung bakar pun sudah jadi, rasanya sangat nikmat ketika disantap langsung di tempat dengan cuaca yang dingin bersama manusia yang bisa menghangatkan.
"Nih cobain," Alika menyodorkan bagian jagung yang masih utuh kepada Raffa namun Raffa menolaknya.
"Jijik ya sama gue.. hehe yaudah deh," ucap Alika sedikit merasa tak enak dan kecewa.
Raffa menarik uluran tangan Alika yang sedang memutar-mutar jagung ditangannya.
Satu gigitan berhasil masuk ke mulut Raffa.
"Dah ya, gue gak akan pernah jijik sama lo jangan mikir macem-macem," ucap Raffa.
Alika merasa bersalah.
"Gak enak ya?," tanya Alika memastikan.
"Not bad," jawab Raffa.
Alika senang, wajahnya sumringah.
"Besok pulangnya siang aja ya," ucap Raffa.
"Gue pulang sendiri kok," jawab Alika.
"Gue yang ngajak lo kesini jadi pulang pun gak boleh sendiri," ucap Raffa.
"Ada Rama," jawab Alika berbohong, karena pada akhirnya ia tidak akan menerima pulang bersama Raffa maupun Rama.
"Seenggaknya lo gak pulang sendirian," jawab Raffa kecewa.
"Iya, it's okey Raff biasanya juga gue selalu sendiri," jawab Alika.
" You not alone...."
__ADS_1
but you always feel lonely-lanjutnya.
Malam ini Alika terpaksa harus tidur bersama dengan Lia dan Bila.
"Lo berdua tidur disana, gue mau sendiri," ucap Lia.
"Heh! yang seharusnya tidur disini itu lo," sentak Bila.
"Hey Bil, gakpapa yang penting malam ini harus tidur," ucap Alika.
Bila menyadari sesuatu hal kemudian mengabaikan perkara Lia.
"I'm sorry, I never said anything tentang Noval," ucap Bila.
Sebenarnya Alika sudah malas membahas tentang ini lagi tapi ia tak bisa terus menerus mengabaikan Bila.
"Gak masalah, hidup emang gitu kok, kadang orang terdekat adalah orang yang akan menyakiti mu, tapi jangan khawatir gue gak mempermasalahkan apapun, dan yang terpenting jangan rahasiain lagi, inget lo juga perlu bahagia," ucap Alika.
Bila terharu sekarang, Alika memang baik pantas saja ia selalu jadi peran utama.
Bila hendak memeluk Alika untuk mengungkapkan rasa terima kasih nya namun segera Alika tolak dengan menyilangkan tangannya.
"No hug," jawab Alika.
"Dasar bocah gengsian," ucap Bila.
Kemudian mereka berdua lebih memilih untuk tidur di ruangan tengah saja yang terdapat sofa bisa di ubah menjadi kasur daripada tidur di sofa kecil di kamar itu.
"Berasa lagi liburan beneran ya," ucap Alika.
"Lah lo pikir kita lagi perang?," Bila geleng-geleng kepala dengan perkataan Alika.
"Nonton yuk, it's movie time," sorak Bila.
"Jangan kenceng-kenceng nanti yang lain kebangun," ucap Alika.
Mereka berdua sedang asik menonton film horor tiba-tiba saja seseorang berdiri dihadapan televisi dengan keadaan lamu mati.
"Aaaaaaaaaaa........" Teriak Alika sedangkan Bila tetap santai.
"Suttt.." Raffa membekap mulut Alika.
"Raffa?,! ngapain lo tiba-tiba muncul gitu kaget tau,"ucap Alika.
Bila menertawakan ketakutan berlebihan sahabatnya.
" Makannya lain kali kalau nonton horor jangan terlalu dijiwai, " ucap Bila menyindir.
"Katanya takut nonton horror tapi malah nekat nonton," ucap Raffa.
"Lagian kenapa tidurnya di luar? kamar luas kan?," tanya Raffa.
Bila hendak membocorkan alasan mereka tidur di luar tetapi Alika menghentikan itu, agar tak membuat semuanya runyam.
"Biar berasa liburnya," jawab Alika asal.
"Yaudah gue juga tidur disana biar nemenin kalian takutnya teriak kayak tadi lagi atau emang beneran ada..."ucap Raffa menggoda ketakutan Alika.
"Stop, udah ya, lo tidur disini," pangkas Alika.
"Oke, tapi gue ke atas dulu ya," ucap Raffa.
"Ngapain?," tanya Alika.
"Nyuri selimut, udah tau dingin pake baju kayak gitu, tidurnya di ruang tengah, mau mencari penyakit?," sindiran Raffa berhasil membuat Alika sadar.
Dari tadi Bila hanya senyam-senyum saja tanpa ada sedikitpun merecoki Alika dan Raffa.
"Jadi maunya sama Raffa atau Rama nih," tanya Bila.
"Bolehkah memiliki tanpa harus mengungkapkan?"
TBC...........
H
ai hai hai yuk di follow akun ******* nya🙏
Thank you to all Readers,
__ADS_1
hari yang mendung mendukung untuk tetap di bawah selimut, feel lazy everytime, tapi akan lebih cocok ditemani mie rebus pake telor setengah mateng terus minumnya teh anget 🙂