
Happy Reading Y'all
_____
Masalah tak boleh lama-lama dibiarkan Alika tak mau terus menerus pura-pura tak terjadi apapun sedangkan Bila sudah dihantui rasa takut.
Bagaimana jika hubungan persahabatan mereka harus berakhir. Memikirkannya saja sudah membuat Bila muak apalagi semuanya menjadi kenyataan.
"Jujur aja ceritain semuanya dan selesaikan baik-baik, jangan bodoh karena cinta tapi berkelaslah karena lo masih punya rasa, kecewa boleh tapi jangan sampai benci, laki-laki bukan hanya dia sadar Al,"
Alika terngiang-ngiang perkataan Raffa beberapa hari yang lalu. Memang tak seharusnya ia menghindari masalah apalagi menyangkut cinta.
Makannya kalau cinta itu jangan sampe jatuh tapi bangun kalau kata lirik lagu lebih baik bangun cinta daripada jatuh cinta. Setaunya itulah salah satu lagu cinta yang masuk akal.
Hari ini pengumuman hasil nilai ujian praktek dari seluruh mata pelajaran semua siswa kelas 12 sudah berkumpul di lapangan.
"Gue yakin pasti nilai lo paling tinggi," ucap Bila.
Alika merasa tak pantas mendapatkan nilai tinggi karena merasa usahanya tak cukup ia lakukan.
Sepertinya Alika tak sadar kalau dirinya belajar mati-matian masih saja merasa tak pantas dasar manusia gak pernah puas.
" Pagi Al, good luck gue tau lo hebat," ucap Rama.
"Apasih kalian ini pengumuman aja belum keluar udah meng-PD duluan," jawab Alika.
Noval, Aji dan Esa menghampiri mereka yang tengah mengobrol menantikan pengumuman selanjutnya.
"Gue sih udah percaya pasti Alika," ucap Noval.
Kalau gak mau repotin hati orang jangan deketin orang lain, cewek lo marah bisa bubar pertemanan ini.
"Setelah pengumuman ini selesai gue mau jujur," ucap Alika kepada teman-temannya.
Semuanya nampak kebingungan bukannya yang seharusnya jujur itu Bila dan Noval kenapa jadi Alika. Apa mungkin Alika akan menceritakan perasaan sukanya kepada Noval? terus bagaimana dengan Bila dan Rama.
"Lagi-lagi Alika, terus aja Alika sampai kapanpun Alika, muak gue denger nama dia, citranya kebagusan sampai gak ada celah buat jatuhin dia, lo tetep rival gue sampai kapanpun," ucap Lia memandang wajah berbinar Alika yang tengah menyapa teman-temannya.
"Li kayaknya Lo masih bisa jatuhin Alika deh dengan cara usik persahabatan mereka, gue denger-denger Noval sama Bila pacaran tuh," ucap salah satu teman Lia Ayudia.
Kebetulan mendapatkan celah itulah yang Lia dapatkan.
Tokoh antagonis hanyalah tokoh yang dibenci dan berharap dilenyapkan dalam cerita padahal kenyataannya mereka hanya tokoh lemah yang bersembunyi dibalik kejahatan penuh luka.
"Selamat Alika atas pencapaian kamu selama ini, bapak berharap ujian nasional kamu dapat mendapatkan peringkat terbaik," ucap seorang wali kelas.
Alika hanya mengangguk saja seraya tersenyum. Mungkin beberapa orang iri melihatnya dan sisanya bangga dengan pencapaian orang lain.
Semua anak kelas memberikan ucapan selamat hanya Lia dan teman-temannya yang enggan berbicara dengan Alika.
Pencapaian gue gak berarti untuk mama sama ayah, percuma gue bahagia tapi mereka cuma jawab 'oh selamat' tanpa ada rasa bangga mendengarnya.
"Selamat lo hebat dan hari ini kuping gue panas dengerin suara orang yang ngebandingin gue sama lo," ucap Alina menghampiri Alika ke kelasnya.
Rama mendengarkan pembicaraan kedua wanita dihadapannya.
"Lo siapa sih kerjaannya bikin Alika down mulu, anak kelas 10 kok gayanya selangit tapi minim prestasi," ucap Rama tak terima mendengar Alika di tindas.
"Nah ini buktinya, udah ya capek gue berurusan terus sama lo," ucap Alina beranjak pergi.
"Tunggu Lin, Maaf gue gak tau tapi jangan pernah sekalipun merasa ditindas mama sama ayah masih ada buat lo dan gue gak akan pernah izinin satu orang pun bikin lo sakit hati," ucap Alika.
"Tapi sayangnya lo sendiri yang bikin gue sakit hati," ucap Alina pergi.
Alika merasa bersalah dengan adiknya. Memang tak enak jika dirinya dibandingkan dengan orang lain dan sekarang Alina merasakan hal itu.
Alika kembali menghampiri Rama.
"Kalau lo gak tau masalahnya tolong diem," ucap Alika emosi.
"Gimana gue bisa diem saat dia gak sopan didepan mata gue," jawab Rama.
Alika mengerti maksud Rama baik tapi seharusnya Rama tak ikut campur.
"Gak usah ikut campur bisa gak sih!," ucap Alika.
Rama sama-sama kesal dengan perkataan Alika. "Oke fine gue gak akan ikut campur lagi, sama aja lo dengan orang-orang di luar sana dipedulikan tapi pergi! lo juga gak perlu lagi bantuin gue, makasih," ucap Rama pergi dari hadapan Alika.
Baru saja satu kebahagiaan menghampiri langsung dihantam kekacauan berkali-kali.
Belum juga rasa kecewanya berakhir untuk Bila kini ia dihadapkan dengan sifat adiknya yang memusingkan, ditambah kedua orang tuanya yang tak bangga dengan pencapaiannya dan kini Rama tiba-tiba kesal karena dirinya. Celah untuk Lia menghancurkan Alika sudah dekat bahkan tak perlu dihancurkan Alika sudah lebur lebih dulu.
Saat yang tepat untuk Alika mengasingkan diri di sebuah hutan pinus dengan air terjun didalamnya.
Sungguh hanya keindahan alam yang mampu membuatnya tenang.
Setelah pengumuman hasil ujian itu selesai niat Alika untuk menyelesaikan masalah dengan Bila urung ia lakukan.
Malas untuk berbicara dengan siapapun.
__ADS_1
Ia berlari keluar gerbang sekolah menuju taman didepannya bukan kabur melainkan karena kelas 12 sudah diminta pulang beristirahat. Baik sekali bukan perlakuan guru untuk kelas 12 sampai membuat iri anak kelas 10 dan 11. Tidak tahu saja mereka rasanya menjadi anak kelas 12.
Senang iya stres juga iya.
"Galau lo?," tanya seseorang yang menghampirinya dari belakang.
Cenayang satu ini bener-bener ya suka muncul tiba-tiba.
"Enggak lah justru gue bahagia," jawab Alika.
"Ckck sedih ya sedih aja gak usah pura-pura bahagia najis," ucap Raffa.
Kebetulan Raffa ada keperluan dengan salah seorang siswa dari SMA Edelwise.
"Katanya gak boleh ngomong kasar tapi sendirinya gitu gimana sih labil," sindir Alika.
"Oh ya kenapa tiap kali gue sedih pasti ada lo, lo pasti dukun ya? atau jangan-jangan penguntit?," kecurigaan Alika terhadap Raffa yang sangat tak masuk akal.
Raffa menepuk-nepuk kepala Alika. "Ayo keluar jin nya, masa sih masih aja percaya sama hal kayak gitu," ucap Raffa.
"Cabut yuk, gak ada kelas kan?," tanya Raffa.
"Eh lo kabur dari sekolah?," tanya Alika curiga.
"Eh maemunah gak ada kata kabur di kamus gue, yuk," ajak Raffa setelah meyakinkan kalau dirinya memang tak bolos.
"Gue bawa motor sendiri ya," pinta Alika.
"Gak jangan! kecelakaan lagi bahaya, masa iya harus gue jual dulu motor lo," ucap Raffa.
"Enak aja motor kesayangan gue tuh," jawab Alika.
"Tapi lo sendiri gak ada yang nyayangin," ucap Raffa yang berhasil membuat Alika kena mental.
Bagaimana bisa kalimat itu sangat tepat sasaran.
Alika langsung terdiam.
"Al," panggil Raffa.
Alika langsung sadar dari lamunannya. "Bener banget kata lo gak ada yang sayang sama gue haha," ucap Alika.
Raffa sadar ia mengatakan kalimat yang salah. Kemudian tanpa pikir panjang Raffa menarik Alika keparkiran untuk mengajaknya ke sebuah tempat.
"Bisa gak pake helm nya?," tanya Raffa.
"Bisalah gue gak lemah kali," jawab Alika.
"Udah?," tanya Raffa menunggu Alika duduk di jok belakang.
"Udah yuk," jawab Alika.
"Yaudah turun," ucap Raffa membuat Alika bingung.
"Kan baru naik masa di suruh turun?," tanya Alika heran.
"Kan tadi lo bilang udah, berarti udah selesai dong naik motornya," ucap Raffa.
Sabar sabar, inget ini ujian.
"Yaudah gue turun beneran deh," ucap Alika hendak turun.
Raffa buru-buru menarik lengan Alika.
"Bercanda kali," Raffa menepuk-nepuk helm yang Alika kenakan.
"Ngapain nepukin helm yang gue pake? kurang kerjaan ya lo," ucap Alika sinis.
"Ya karena itu helm coba aja itu pala lo pasti gue elus,"jawab Raffa.
Ashajaksb sialan jantung gue lagi lompat tinggi. Perlakuan lo terlalu manis buat orang jadi orang asing.
"Kenapa diem?," tanya Raffa.
"Salting ya?," lanjutnya.
"PD banget lo, udahlah ayo berangkat," ajak Alika.
Raffa segera melajukan kendaraannya.
"Lo kenapa sih kerjaannya nangis mulu lama-lama gue kuras juga air mata lo biar bisa senyum terus," ucap Raffa setengah berteriak karena ia tau Alika akan tiba-tiba budek kalau sedang dibonceng.
"Diem Raffa atau gue turunin lo disini,". jawab Alika.
"Kan gue yang bonceng lo masa gue yang diturunin," ucap Raffa.
"Gakpapa biar trend baru," jawaban Alika membuat Raffa geleng-geleng kepala seakan ada saja jawaban atas pertanyaannya.
"Pantes kalau debat juara terus," ucap Raffa.
__ADS_1
"Hah? ngomong apa gak kedengeran," ucap Alika berteriak.
"Budek lo," ledekan Raffa berhasil membuat Alika mencubit pinggang Raffa.
"Sakit dodol!," ucap Raffa.
"Diem!,"
"Ntar kalau gue diem motornya juga ikutan diem," jawab Raffa.
Sudahlah Alika tak mau lagi menanggapi Raffa bisa-bisa sampai ketempat tujuan tanpa berhenti beradu argumen.
Tapi beruntung sekali selama ini selalu ada Raffa yang tak pernah pergi bahkan selalu menjadi hadir saat suasana kalut bagi Alika.
Alika dibawa ke tempat indah ia bisa memandang alam dengan sepuasnya.
"Gila Bogor kan luar kota, bisa-bisanya gue diajak kabur kesini," ucap Alika takjub melihat indahnya puncak kota Bogor.
"Bogor keren bukan gila Al, gimana seneng gak?," tanya Raffa.
"Banget makasih banyak ya," tak sadar Alika memeluk tangan Raffa.
Jantung gue aman kok.
"Tapi gue kan belum izin sama orang tua, nanti mereka marah gimana?," tanya Alika.
Raffa sudah menduga Alika memikirkan izin dari orangtuanya.
"Mana handphone lo sini gue telpon mereka," ucap Raffa.
Jika Alika ketahuan main dengan laki-laki jauh dari rumah mungkin bisa saja ia tak lagi diakui anak.
"Enggak deh nanti mereka marah sama gue Raff," ucap Alika.
"Gue izin nya double," ucap Raffa.
"Sekarang gue minta bunda buat telepon orang tua lo terus baru gue yang izin sama mereka sekalian minta Bila buat kesini juga, gue tau pasti lo belum selesaikan masalah kan?," ucap Raffa.
"Ada tante Fira juga? kok bisa?," tanya Alika.
"Bisalah soalnya ini acara tahunan keluarga," jawab Raffa.
Alika berpikir sejenak. "Tapi gue bukan keluarga lo,"
"Nyusup aja jadi keluarga gue gakpapa kok," jawab Raffa.
"Heh tuh mulut enteng banget kalau ngomong," jawab Alika.
Akhirnya Raffa meminta izin dan kedua orang tua Alika mengizinkannya. Entah apa yang tante Fira katakan yang pasti sekarang Alika terbebas setelah ujian praktek yang tiap minggu tak pernah absen dari pikirannya.
"Katanya Bila mau kesini?," tanya Alika yang sedang duduk berdua dengan Raffa menikmati keindahan alam.
"Belum gue chat, males chat orang sama lo aja ya," ucap Raffa.
Dih gue baru sadar Raffa kan cuek bebek mana mau chat orang duluan.
"Y," jawab Alika.
"Udah ya jangan sedih lagi, hidup itu kadang kayak naik kora-kora awalnya bikin seneng karena pelan-pelan tapi akhirnya tetep aja dibawa teriak di guncang keras, tapi saat koinnya udah gak berfungsi permainannya pun berakhir sendiri, santai lo bisa kok lewatin semuanya, "ucapan Raffa berhasil menghipnotis Alika.
Kenapa harus kora-kora sih kan bisa tuh umpanya tornado dasar Raffa.
"Makasih ya, malu banget gue selalu datang saat merasa sedih padahal lo selalu hadir dengan kebahagiaan," ucap Alika.
"Itu gunanya gue lo sedih gue bahagia jadi gue bisa menghibur kesedihan lo biar bisa bahagia bareng gue tapi satu hal pasti gue gak akan tertarik bikin lo sedih," jawab Raffa.
Alika tak mau terus melanjutkan obrolan penuh haru ini.
"Bila bisa kesini tapi Noval dkk mau ikut boleh kan?," tanya Alika.
"Terserah," jawab Raffa.
"Kayaknya Rama juga ikut deh mungkin sama sepupunya juga, tapi gue lagi ada masalah sama dia," ucap Alika.
"Jangan bawa masalah kesini kalau bisa selesaikan semuanya Al, inget gue susah payah bawa lo kesini mereka senak jidat bikin lo sedih, gak rela gue," jawab Raffa.
"Aw sweet banget sih lo," ucap Alika.
"Sweet apaan sweeter maksudnya, oh lo kedinginan makanannya pake baju tuh yang panjang dikit jangan kekurangan bahan lain kali bilangin sama toko baju kalau jual baju tuh jangan yang setengah-setengah," kalau laki-laki sudah mengomel pasti lebih rempong dari ibu-ibu komplek.
"Perasaan cita-cita lo masih dokter deh kenapa tiba-tiba jadi pengamat style," jawab Alika.
Raffa tak lagi merespon karena sudah memejamkan matanya.
Duduk di hamparan rumput cantik dengan suasana yang indah ditemani orang baik rasa kalut yang siang tadi menghampiri sudah lenyap seketika.
To be continued........
Hay makasih udah baca kalau suka tolong tekan vote dan dukung cerita ini ya teman-teman.
__ADS_1
Sayang banyak-banyak buat Raffa eh kok Raffa maksudnya Alika.
Andai ada sosok Raffa sudah pasti ku gebet dia kalau bisa bawa ke KUA gimana, cakep, cerdas, calon dokter, penyayang gimana gak tersepona. Tapi Rama juga menarik ah elah oleng deh gue.