Aliran

Aliran
duaempat


__ADS_3

Happy Reading Y'ALL


Pagi ini Alika tengah membersihkan rumahnya sebelum berangkat sekolah.


"Mamah sama ayah berangkat dulu, kalau bisa hari ini jangan kemana-mana, selesai sekolah langsung pulang kalau adek katanya masih ada ekskul jadi biarin aja," ucap sang ibu berpamitan.


Mungkin saja kedua orang tua Alika tak menginginkan Alika salah pergaulan maka dari itu ia sangat sering dilarang melakukan banyak hal sampai-sampai Alika tak bisa mengenali dirinya sendiri untuk pengembangan kepribadian.


Seakan terus terpenjara dalam sebuah rumah.


"Iya mah, hati-hati dijalan, Alika berangkat jam 7 aja," pamitnya.


"Jangan sampai kesiangan, target kamu buat kuliah jurusan Kedokteran jangan sampai lupa,"ucap sang ibu.


Lagi-lagi ditentukan bahkan untuk milih hal yang disukai pun sulit. Mau tak mau Alika harus menurutinya.


Sudah lama Alika tak berkunjung ke rumah neneknya. Jika Alika berkunjung ke rumah sang nenek bagaimana dengan pesan ibunyayang mengharuskan untuk langsung pulang selepas sekolah?


Suasana terasa canggung bagi Alika saat ini, bagaimanapun ia berusaha berpura-pura tak tahu tetap saja kenyataannya ia mengetahui kalau Bila dan Noval sengaja menyembunyikan hubungannya.


"Al kaku banget sih dari tadi pagi, kenapa lo ada masalah? Cerita sini,"ucap Bila.


Alika hanya tersenyum kemudian menenggelamkan kepalanya dilipatan tangan yang hendak memejamkan matanya sebentar sebelum jam ketiga dimulai.


"Ke kantin yuk," ajaknya.


"Dih kenapa lo?sakit?,"tanya Bila.


Rama menerobos masuk ke kelas Alika setelah mendengar perkataan Bila barusan.


"UKS yuk Al," ajak Rama.


"Ogah, ngapain lo kesini tuh diliatin anak kelas," ucap Alika menunjuk dengan gerakan kepalanya ke arah sekumpulan teman sekelasnya.


"Peduli banget sama mereka Al,"ucap Bila.


"Biasalah gengnya si Lia,"lanjutnya.


Alika dibangunkan paksa oleh Rama. Mereka menuju ke kantin sekarang.


"Dasar perebut,"sindir Lia.


Alika tak menghiraukan ucapan Lia karena ia tak merasa punya masalah dengan Lia.


"Lo berdua ngapain si nyeret gue ke kantin, males tau," ucap Alika malas karena tangannya di tarik oleh Bila.


"Udah diem aja,"ucap Rama.


Sesampainya di kantin sudah ada Aji, Esa, serta Noval yang tengah bercengkrama sambil memakan gorengan.


"Darimana aja sih kalian, udah lumutan nih nunggu dari tadi," ucap Esa seketika Noval mengalihkan pandangannya ke arah Bila dan Alika, baginya situasi ini masih terasa canggung.


"Gak sekalian aja jamuran Sa?,"timpal Alika.


"Jangan deh gue belum nikah,"jawab Esa.


Aji tak akan tinggal diam memanfaatkan situasi, "Nikah aja sama si eneng sana,"titah Aji.


"First Lope gua tuh, tapi si enengnya lebih milih akang gendang,"jawab Esa.


Alika tertawa. "BWHAHHA, masih kalah jauh sama akang gendang lo," ucap Alika.


Tanpa ia sadari First Love nya juga telah memilih orang lain lebih tepatnya sahabat sendiri.


Bukan masalah dengan siapa namun kenapa harus ditutup-tutupi.


"Ram, cewek lo yang kemaren udah lo putusin belum?,"tanya Noval.


Alika tak terkejut mendengarnya karena Rama memang terkenal punya banyak mantan pacar begitupun dengan Noval.


Aji menjawab, "Katanya sih mau tobat,"


"Satu aja cukup kali,"timpal Noval.

__ADS_1


Bila tersipu mendengarnya dan Alika dapat melihat jelas.


Pada awalnya hubungan Bila dan Noval tak didasarkan rasa saling suka tetapi kenyataannya mereka terbiasa kemudian merasakan kenyamanan satu sama lain yang tujuan awalnya karena kesal malah menjadi rasa yang tak bisa padam.


Perasaan memang sangat rentan, sekali saja terbiasa bisa-bisa langsung nyaman, asalkan jangan sampai di tinggalkan.


"Mau makan apa?,"tanya Rama.


Alika tak menjawabnnya karena fokus memainkan ponselnya.


Rama mengarahkan tangannya menutupi layar ponsel Alika, kemudian Alika berbalas menatap Rama yang juga tengah memperhatikannya.


"Gue tanya sekali lagi, mau makan apa?,"tanya Rama.


Alika menjawabnya malas, "Gue lagi diet,"


Rama menggeleng tak percaya. "Nasi goreng atau Baso?,"tanyanya.


"Al kamu tuh gak perlu diet soalnya sudah imut, manis, kayak tahu bulat, kanebo kering," ucap Aji meledek.


Rama tak terima Aji menggoda Alika. "Dietnya besok aja ya,"ucap Rama.


Ia tak lagi menunggu pilihan Alika tetapi langsung membawakan semangkuk Baso dan es teh manis kesukaan Alika.


"Makan, kalau gak abis push up,"titah Rama.


Alika menatap Rama kesal, "Penyiksaan,"jawab Alika.


"Udah Al makan aja, gue juga mau pesen nasgor pasti abis kok tenang" ucap Bila.


"Kalau gak abis masih ada Esa yang bersedia menjadi tempat penampungan,"ucap Aji.


Esa menggeplak tangan Aji dengan kertas yang ada di depannya.


"Gue punya pertanyaan buat kalian semua," dipertengahan makan Alika menyakan hal sensitif.


Seketika semuanya mendongakan wajah menatap Alika bersamaan seakan penuh tanya.


"Lebih milih jujur tapi nyakitin atau menutupi kejujuran untuk diceritakan nanti?,"tanya Alika memasang wajah serius.


Seketika keseriusannya memudar dan tersenyum manis. "Santai aja kali jangan tegang gitu, ini bukan lagi sidang, yuk makan lagi abaikan aja pertanyaan tadi,"ucapnya.


Berucap syukur dan lega karena Alika tak meminta jawaban apapun namun penuturannya barusan membuat Bila merasa tak enak hati, sedangkan Rama mencurigai mood Alika yang tiba-tiba seperti ini.


Gak biasanya punya moodswing


Alika memang terkenal ramah dan murah senyum tetapi hari berbanding terbalik dengan kebiasaannya, apakah pikirannya sedang berisik dan tubuhnya sedang dalam mode silent?


Setelah acara makan siang dikantin mereka kembali ke kelas kecuali Bila dan Noval yang berniat untuk bertemu di gazebo.


"Apa yang mau kamu bicarain La,"tanya Noval.


"Aku gak mau sembunyi-sembunyi kayak gini,"ucap Bila.


Noval memahami arah pembicaraan Bila.


"Iya, yaudah abis ini kita kasih tau sama Alika,"jawab Noval.


"Aku takut dia marah,"ucap Bila.


"Kamu yang lebih kenal Alika daripada aku tapi aku yakin dia bukan orang yang marah karena ini,"jawabnya.


Bila memiliki rasa cemburu pada sahabatnya itu yang bahkan pacarnya saja mengenal Alika dengan baik.


"Jangan cemberut jelek,"ucap Noval.


"Apa hubungan ini kita akhiri aja?,"tanya Bila ragu.


Noval mengerutkan keningnya merasa tak rela jika hubungannya harus berakhir hanya karena Alika.


"Jangan bikin aku benci sama Alika,"jawab Noval.


Bila terkejut mendengar penuturan Noval.

__ADS_1


"Maksud kamu apa?,"tanya Bila hati-hati.


Noval lebih menenangkan dirinya. "Enggak kok tadi aku Cuma kebawa emosi aja, jangan pernah kepikiran buat mengakhiri hubungan hanya karena orang lain, aku pikirin caranya nanti sekarang kamu ke kelas aja pasti Alika udah nunggu daritadi,"ucap Noval membiarkan Bila kembali ke kelasnya.


"Iya, soal perkataan aku tadi maaf ya,"pamitnya.


Pulang sekolah Alika sudah membulatkan niatnya menemui sang nenek tetapi Rama memintanya untuk menemani Rama bertemu ayahnya.


Alika tak bisa menolak orang yang sedang membutuhkan bantuan.


"Al kali ini aja temenin gue, tolong ada di samping gue untuk sementara ini gak mau lagi emosi sama papah,"ucap Rama memohon.


Alika awalnya malas apalagi setelah ini ia harus menemui sang nenek kemudian harus pulang sebelum jam 5 sore.


"Sejam aja ya, lebih dari itu gue mau kabur,"jawab Alika.


"Ini Cuma formalitas aja,"jawab Rama.


Alika bersedia memenuhi permintaan Rama namun dirinya tak mau naik motor berdua dengannya, sehingga memilih memakai motor masing-masing.


Romantis ya jauh-jauhan gini.


"Gak gitu kali kalau bawa motor, ngebutnya gak manusiawi Al,"ucap Rama terkejut dengan Alika yang melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh.


Kalau dia cewek gue, udah gue jual tuh motor ngeri gak sih liat cewek yang bawa motornya kayak di sirkuit tikung sana sini.


Gak sadar saja kalau laki-laki lebih parah lagi bawa motor, seakan punya nyawa tujuh kali ya.


"Hai pah,"sapa Rama.


"Hallo om, saya Alika," Alika memperkenalkan dirinya.


Pak Galih hanya tersenyum.


"Kamu pacarnya anak saya?,"tanya Galih.


Alika bingung harus jawab apa bukan karena ia menginginkan Rama menjadi pacarnya tetapi bisa saja Rama kesini dipaksa harus bawa pasangan.


Alika mengangguk ragu sedangkan Rama sudah tersenyum.


Fiks dia jodoh gue.


Aduh kenapa jadi gue yang bohong sih-pikir Alika.


"Wah bagus kalau begitu, jangan lupa kasih tau dia jangan emosian,"ucap Galih mempersilahkan Alika duduk.


Di sebuah restoran dengan gaya sederhana tercipta kecanggungan satu sama lain.


"Aku gak bisa lama-lama, papah mau ngomong apa?,"tanya Rama.


"Papa mau nikah,"ucap Galih membuat Rama terkejut.


"Aku gak setuju,"ucap Rama beranjak pergi menarik lengan Alika.


Alika menahan Rama sebentar. "Ram gue mau ke toliet sebentar,"ucap Alika.


Rama telah melenggang pergi dengan perasaan yang tak karuan.


"Om saya mau bilang kalau kita gak pacaran, oh iya maafin Rama gak sopan mungkin aja dia butuh berpikir, msalah di masa lalunya terlalu rumit dan Rama gak sepenuhnya menerima kenyataan, om harus bersabar sedikit lagi dan aku yakin dia akan luluh,"ucap Alika.


"Om minta tolong sama kamu buat kasih tau dia, redam emosinya, dan berikan perhatian sedikit untuknya, semua saran dari kamu saya terima, tolong anak saya supaya cepat keluar dari masa lalunya, saya sangat sayang sama dia," ucap Galih.


Kemudian Alika berpamitan.


Hari ini Alika telah dilibatkan dalam masalah keluarga Rama, ia harus menjadi obat dari luka seseorang yang bahkan ia sendiri punya luka yang lebih parah, bukan hanya fisik melainkan mentalnya juga.


Sebisa mungkin gue akan bantuin lo.


To be continued........


<3


Si Rama Kepedean banget mikir Alika jodohnya, belum tau aje kalo masi ada Raffa eh eh siapa tau kan yang jadinya sama si Noval atau mungkin orang lain, inget mereka masih pada muda wkkw

__ADS_1


Bye bye see u


__ADS_2