Amelie Sang Penjaga Jodoh

Amelie Sang Penjaga Jodoh
PERGILAH, LEON!


__ADS_3

Hari Minggu tiba, sesuai jam pertemuan mereka sebelumnya, Leon sudah menunggu di cafe. Ia beberapa kali melihat jam di pergelangan tangannya, waktu sudah lewat 5 menit.


"Maaf aku terlambat," ucap Amelie saat ia sampai di cafe tersebut. Pagi ini, Amelie bangun kesiangan, akibat semalam ia harus tetap bekerja di minimarket setelah selesai memberikan les privat kepada seorang anak. Sebenarnya tubuhnya sangat lelah, tapi dia juga tak ingin membuat Leon menunggunya.


"Tidak apa."


"Ayo kita berangkat. Kamu mau mengajakku kemana kali ini?" tanya Amelie.


"Ikut saja," tanpa aba aba, Leon langsung meraih tangan Amelie dan menggenggamnya. Amelie hanya bisa mengikutinya tanpa bicara lagi.


Mereka menempuh perjalanan selama 1 jam, Amelie sempat tertidur sesaat, dan hal itu tak luput dari perhatian Leon.


"Danau Como?" ucap Amelie saat mereka sampai di sana.


"Ini indah sekali!" teriaknya lagi, "Seharusnya kamu mengatakannya terlebih dahulu padaku, jadi aku bisa membawa alat lukisku kemari."



Mereka duduk di sebuah kursi taman yang ada di sekeliling danau. Semilir angin yang begitu sejuk, membuat Amelie merasa tenang. Rasa lelahnya seperti hilang ditiup angin.


Ia memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil memejamkan matanya, seakan mengikuti sebuah melodi. Ia menghirup udara sebanyak banyaknya kemudian menghembuskannya perlahan.


"Terima kasih," ucap Amelie.


"Untuk?"


"Membawaku ke sini. Aku suka tempat ini," Amelie tersenyum.


"Aku senang kamu menyukai tempat ini."


"Sebagai balasannya, mulai sekarang aku akan menganggapmu sahabatku," Amelie mengulurkan tangannya, ingin menjabat tangan Leon.


Sahabat? Apa tidak bisa lebih? - Leon.


"Hmm, baiklah ... sahabat!" Leon pun menyambut tangan Amelie dan tersenyum.


Mereka menghabiskan waktu hingga sore, "Kamu tahu, Mel. Danau Como sangat indah jika dilihat malam hari. Lampu lampu dari pemukiman sekitar membuat kesan yang temaram, romantis.



"Berarti tempat ini cocok untuk dijadikan tempat berbulan madu bagi pasangan yang sudah menikah," ucap Amelie.


"Ya, memang Danau Como menjadi salah satu tujuan para turis yang sedang berbulan madu. Apa kamu ingin ke sini saat honey moon?" tanya Leon.


"Aku tidak tahu. Aku belum memikirkannya," ucap Amelie datar.


Leon tak melanjutkan lagi, ia pun mengajak Amelie untuk kembali ke Provinsi Pisa, tempat mereka tinggal.


"Sekali lagi, terima kasih untuk hari ini!" ucap Amelie. Mereka pun berpisah di stasiun dan mengambil jalan pulang masing masing. Leon ingin mengantarkan Amelie, tapia seperti biasa Amelie akan menolaknya.


*****


Keesokan harinya, Amelie bangun kesiangan dan ia langsung membersihkan diri dan berangkat menuju Taman Kanak Kanak tempatnya bekerja.


Karena terburu buru, ia menyeberang jalan tanpa melihat ke kiri dan ke kanan, bahkan ia tak melihat lampu jalan yang sudah berubah merah bagi pejalan kaki.


Citttt .....

__ADS_1


Sebuah mobil melakukan rem mendadak karena Amelie yang tiba tiba saja berada di depannya.


Amel?


Pengemudi mobil tersebut turun, "Amel?'


"Ly-Lydia?"


"Kamu tidak apa apa?" tanya Lydia.


"Tidak, aku tidak apa apa. Aku hanya terburu buru hingga tak memperhatikan rambu. Maaf ya," ucap Amelie.


"Kamu mau kemana? Aku akan mengantarmu," Lydia pun membawa Amelie untuk masuk ke dalam mobilnya.


Amelie memasang seatbelt dan memperhatikan gerak gerik Lydia.


"Kemana aku harus mengantarmu?"


"Taman Kanak Kanak St. Peterson," Lydia langsung menyalakan GPS dan mulai mengarah ke sana.


"Terima kasih, Lyd," ucap Amelie saat mereka sampai di depan Taman Kanak Kanak tersebut.


"Sama sama. Bolehkah aku minta nomor ponselmu, Mel? Kapan kapan kita bisa bertemu," Lydia memberikan ponselnya pada Amelie agar temannya itu mengetikkan nomor ponselnya.


"Sudah."


"Baiklah, aku pergi dulu," pamit Lydia.


Amelie pun segera masuk ke dalam sekolah tersebut. Ia melihat jam di pergelangan tangannya, kemudian mengelus dadanya.


Untung saja aku tidak terlambat. - Amelie.


*****


*📩 Aku akan sampai besok di Italy. Maukah kamu menjemputku?


📨 Okay, beritahukan saja padaku jadwal keberangkatanmu.


📩 Baiklah, aku akan menghubungimu lagi besok.


📨 Siap!! See you, bi*!


Amelie tersenyum ketika mendapati pesan dari Abigail.


"Apa ada hal menarik yang membuatmu tersenyum?" tanya Leon.


"Ahhh, sahabatku akan datang besok."


"Wah kalau begitu besok aku tidak bisa bertemu denganmu," Leon memberengut manja.


"Hei, kita sudah bertemu setiap hari. Apa kamu tidak bekerja?" tanya Amelie.


"Tentu saja aku bekerja. Kapan kapan ajaklah sahabatmu ke tempat kerjaku. Aku akan mentraktirmu secangkir kopi."


"Hanya secangkir?" goda Amelie.


"Apa kurang?"

__ADS_1


"Tentu saja, seharusnya kamu mentraktir 2 cangkir kopi."


"2?"


"Ya, untukku dan sahabatku. Masa hanya aku yang gratis," Amelie tertawa, begitu juga dengan Leon.


"Amel?"


"Lydia? Kamu kemari?"


"Ya, aku sedang menunggu temanku di cafe sebrang jalan, dan aku kemari karena ingin membeli sesuatu. Apa yang kamu lakukan? Kamu bekerja di tempat ini?" tanya Lydia pada Amelie, namun pandangan matanya justru terpaku pada Leon.


"Ya, aku bekerja di sini."


"Bukankah kamu bekerja di Taman Kanak Kanak?" tanya Lydia lagi.


"Ya, aku punya beberapa pekerjaan. Apa yang ingin kamu beli, Lyd?"


Lydia mengarah pada salah satu rak di sana dan mengambil apa yang ia inginkan, "Berapa?"


"8 Euro."


"Apakah dia kekasihmu yang baru, Mel?" tanya Lydia ingin


tahu.


"Ooo tidak, ia sahabatku. Kenalkan ini Leon."


"Leon," ucap Leon datar.


"Lydia," sambil mengulurkan tangannya, dan hanya disambut sedikit oleh Leon.


"Apa dia pelanggan barumu, Mel?"


"Lyd!" Amelie berusaha menghentikan ucapan Lydia.


"Oooo, apa dia tidak tahu bagaimana dirimu dulu. Sebaiknya dia tahu, atau dia akan menyesal."


"Ini kembaliannya, Lyd," ucap Amelie dengan penuh penekanan.


Amelie tak ingin orang orang di sekitarnya tahu tentang dirinya yang diberi julukan sebagai seorang penjaga jodoh. Ia ingin hidup normal. Oleh karena itu juga, saat ini ia berusaha membentengi hati dan perasaannya agar tak mudah untuk jatuh hati pada siapapun.


"Sudah berapa lama kamu bersama Amelie?" tanya Lydia pada Leon, membuat Amelie mengepalkan tangannya.


"Sekitar 2 bulan," jawab Leon. Ya, ia baru mengenal Amelie secara dekat baru sekitar 2 bulan.


"Kalau begitu, kamu hanya perlu 1 bulan lagi. Setelah itu, carilah aku. Aku yakin aku adalah jodohmu dan begitu pula sebaliknya," Lydia memasukkan sebuah kartu nama pada kantong kemeja Leon, kemudian sedikit menyentuh dada Leon. Lydia pun tersenyum licik ke arah Amelie.


"Aku akan menunggunya. Terima kasih kamu sudah menjadikannya pelangganmu. Pertemuan kami yang tanpa sengaja ini mungkin salah satu tanda bahwa kamu berjodoh," ucap Lydia kemudian melambaikan tangannya tanpa melihat.


"Apa maksud perkataannya, Mel?" tanya Leon.


"Tak ada. Sebaiknya sekarang kamu pergi saja. Aku harus bekerja," Amelie mulai berjalan menuju gudang di mana Harlan sedang menghitung stock saat ini.


"Mel?"


"Pergilah, Leon!" usir Amelie. Ia tak menyematkan panggilan Kak pada Leon karena memang Leon tak terlihat berbeda jauh usia dengan dirinya.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan kemari lagi nanti," pamit Leon sebelum ia meninggalkan minimarket itu.


__ADS_2