
Acara pernikahan Leon dan Amelie sudah begitu dekat, ya ... karena hanya berjarak 1 bulan saja dari acara pertunangan mereka. Dalam 1 bulan itu, Amelie secara rutin memgunjungi dokter Ara. Meskipun klinikmya seperti kurang meyakinkan, tapi dari cara ia memeriksa, dan menyebutkan diagnosa yang sama dengan dokternya di italy, Amelie akhirnya percaya meskipun belum 100%.
"Setelah Leon menikah, maka kamu akan menyusul seminggu kemudian. Ikuti semua perkataan Mommy, jangan berbuat yang aneh aneh," Miranda kembali memperingatkan Mikael.
"Yes, Mom. Aku tidak akan berbuat aneh aneh, jangan menganggapku seperti anak kecil terus," gerutu Mikael.
"Mommy tidak akan menganggapmu anak kecil lagi karena kamu sudah bisa membuat anak kecil. Mommy hanya tidak ingin kamu menyakiti Daniela."
"Aku tidak akan menyakitinya, Mom," Mikael kembali berpikir lagi, sampai saat ini Daniela masih belum menerima kenyataan bahwa mereka akan segera menikah. Mikael terpaksa memerintahkan beberapa anak buahnya untuk menjaga di kediaman Mahaprana agar Daniela tidak melarikan diri. Ntah mengapa ia sangat takut jika Daniela akan pergi meninggalkannya dan membawa anak mereka.
*****
Hari pernikahan Leon dan Amelie telah tiba. Mereka terlihat begitu bahagia, dengan senyum yang terukir di wajah mereka.
Namun, tak ada yang mengetahui bahwa Amelie tengah menahan rasa sakit di bagian perutnya. Beberapa hari yang lalu ia sudah menemui dokter Ara, dan ia mendapatkan obat lagi. Tapi bukan menjadi sembuh ataupun lebih baik, sakit di perut bagian bawah semakin menjadi.
Amelie berusaha tetap tersenyum. Tiba tiba saja terbersit di dalam hatinya bahwa ia tak layak melakukan pernikahan ini. Ia tidak pantas dicintai, ia tidak bisa mendapatkan jodoh ... karena ia hanyalah seorang penjaga jodoh.
Axelle memegang tangan Amelie, ia bisa merasakan tangan Amelie yang begitu dingin.
"Kamu baik baik saja, sayang?" tanya Axelle.
"A-aku ba-baik baik saja, Dad," jawaban Amelie yang terbata membuat Axelle menautkan alisnya. Ia merasa curiga dan khawatir dengan keadaan putrinya.
"Sayang ... wajahmu pucat sekali. Kamu yakin baik baik saja?" Mereka sudah berdiri untuk berjalan menghampiri Leon yang sudah bersiap mengucapkan janji pernikahannya.
Brughhh ....
Tubuh Amelie terasa lemas, kakinya terasa tak mampu menopang bobot tubuhnya. Untung saja Axelle langsung menopang tubuh putrinya hingga Amelie tak terjatuh ke lantai. Axelle langsung menggendong putrinya dan membawanya ke mobil untuk menuju ke rumah sakit. Vanessa langsung ikut dengan mobil Azka karena Axelle sudah berlari lebih dahulu.
Leon yang melihatnya langsung merasa lemas. Ia tak percaya, tinggal selangkah lagi mereka menjadi suami istri, masih saja ada rintangan yang harus mereka lewati. Leon ikut dengan mobil Azka dan Vanessa, setelah sebelumnya ia meminta bantuan keluarganya untuk mengatasi acara dan para tamu yang telah datang.
"Bagaimana Amel?" tanya Vanessa dengan raut wajah khawatir.
"Masih ditangani dokter, aku juga belum tahu," jawab Axelle.
Azka dan Leon hanya bisa diam dulu untuk sementara karena mereka belum mendapatkan diagnosa apa apa dari dokter. Setelah menunggu sekitar 15 menit, seorang dokter keluar dari ruang ICU.
"Keluarga Nona Amelie?" Axelle, Vanessa, Azka, dan Leon langsung bangkit dan mendekat.
__ADS_1
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Axelle.
"Apakah saya bisa bicara di ruangan saya?" Axelle pun mengangguk dan mengikuti sang dokter. Ia meminta Vanessa untuk tetap berada di sana.
Di dalam ruangan dokter,
"Apa ada sesuatu yang serius?" tanya Axelle.
"Tidak ada, Tuan Williams. Hanya saja Nona Amelie mengalami kram perut yang berlebihan. Ia pingsan karena tak bisa menahan sakitnya."
"Tapi selama ini ia tak pernah mengeluh sakit, Dok."
"Kami sedang melakukan cek secara menyeluruh terhadap kesehatan Nona Amelie ...," ucap sang dokter namun terhenti karena seorang perawat masuk.
"Ini dok, hasil pengecekan darahnya."
"Terima kasih," dokter langsung membuka hasil tes darah milik Amelie. Ia mengerutkan dahinya dan memperhatikan dengan seksama, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Apa ada sesuatu yang serius?" tanya Axelle khawatir.
Dokter Hendra meletakkan laporan tersebut dan melepas kacamatanya, "Tuan Williams, sepertinya putri anda terlalu banyak mengkonsumsi pil KB. Hal ini berpengaruh tidak baik untuk rahimnya."
Hanya butuh waktu tak sampai 5 menit, semua catatan kesehatan didapat oleh Axelle. Ia segera memperlihatkan semuanya kepada Dokter Hendra.
Dokter Hendra melihat catatan itu melalui layar ponsel, "Sepertinya kita perlu melakukan pengecekan ulang," Dokter Hendra langsung menghubungi bagian laboratorium untuk melakukan pengecekan secara menyeluruh pada Amelie, Axelle pun mengiyakan karena Dokter Hendra meragukan catatan kesehatan tersebut.
*****
"Mom ...," Vanessa langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Amelie yang kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Ia langsung menekan tombol untuk memanggil dokter.
Vanessa masih merasa matanya begitu berat, seperti ingin terlelap kembali. Namun, Dokter Hendra datang bersama dengan Axelle. Dokter mulai memeriksa Amelie kembali, sementara yang lain hanya menyaksikan.
"Apa yang saat ini kamu rasakan?" tanya Dokter Hendra sambil melepaskan stetoskop dari telinganya.
"Aku hanya sangat mengantuk saat ini," jawab Amelie.
"Apa perutmu masih terasa sakit?" Amelie menggelengkan kepalanya.
"Sudah berapa lama kamu merasakan sakit di perutmu?"
__ADS_1
"Sudah sekitar 1 bulan lebih, sebelumnya tidak pernah, hanya belakangan ini saja."
"Sejak kapan kamu meminum obat?" tanya Dokter Hendra, membuat Amelie melihat ke sekeliling. Di sana ada seluruh keluarganya dan juga Leon. Tapi kali ini ia tidak bisa menutupinya dari Vanessa, Mommynya.
"Sejak aku mengalami kecelakaan," jawaban Amelie membuat Vanessa kaget. Ia tak pernah tahu putrinya mengalami kecelakaan. Ia langsung melihat ke arah Axelle seraya meminta penjelasan. Axelle menenangkannya dan berjanji akan menjelaskannya nanti.
"Kami sedang melakukan pemeriksaan menyeluruh. Untuk sementara ini, nona bisa menghentikan penggunaan obat tersebut karena berakibat tidak baik bagi kesehatan anda."
Amelie tak menyangka bahwa sakitnya selama ini justru karena obat yang ia minum. Ia pun menganggukkan kepalanya, tanda mengerti. Setelah kepergian Dokter Hendra, Vanessa membantu Amelie untuk membersihkan tubuhnya. Ia masih harus berada di sana hingga pengecekan kesehatan secara menyeluruh dilakukan.
"Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan pada Mommy?" tanya Vanessa menatap ke arah putrinya.
"Dad ...," Amelie melihat ke arah Axelle, berharap Daddynya itu membantu.
"Kemarilah, sayang. Aku yang akan menjelaskannya padamu. Leon, Uncle titip Amelie dulu padamu," Axelle pun keluar dari ruangan bersama dengan Vanessa. Sementara Azka pergi keluar untuk membelikan makanan untuk mereka.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Leon sambil menggenggam tangan Amelie.
"Maafkan aku. Acara hari ini gagal karena aku."
"Tidak, sayang. Ini bukan kesalahanmu. Kita masih punya waktu, tidak masalah. Yang terpenting saat ini adalah kesehatanmu. Mengapa kamu tidak pernah mengatakan sakitmu, hmm?"
"Aku hanya tak ingin membebanimu."
Pintu ruang perawatan terbuka dan muncul kedua orang tua Leon. Mereka langsung ke rumah sakit setelah menyelesaikan semua yang berhubungan dengan acara.
"Dad! Mom!"
"Apa Amel baik baik saja?"
"Tidak apa apa, Mom. Ia hanya terlalu banyak mengkonsumsi obat, sehingga sedikit membahayakan kesehatannya," jawab Leon.
"Mommy sudah menyelesaikan semuanya. Sekarang yang terpenting adalah kesembuhanmu. Oya Leon, tadi ada seorang wanita mencarimu. Ia mengatakan bahwa ia adalah kekasihmu di Italy," ucap Miranda.
"Kekasihku? Aku tidak memilikinya kecuali Amelie."
"Lydia. Dia menyebutkan bahwa dirinya adalah Lydia. Ia mengatakan bahwa ia sedang hamil anakmu. Ia hampir saja membuat kekacauan di sana. Untung saja Mikael berhasil membawanya pergi. Ntah bagaimana kabarnya sekarang, Mommy belum mendapat kabar apapun dari Mikael."
Wajah Amelie berubah pias, sementara Leon mengepalkan tangannya mendengar perkataan Miranda.
__ADS_1