
Amelie kini benar benar menjaga jarak dengan Leon. Setiap kali ia melihat Leon sedang berada di proyek pembangunan gedung fasilitas dari lantai 2 gedung sekolah, ia akan masuk ke dalam ruang guru dan berdiam di sana. Hingga ketika Leon sudah tak terlihat, barulah ia akan pergi ke proyek untuk sekedar melihat dan mengambil beberapa foto.
Pada awalnya Leon tak terlalu menyadari, tapi setelah seminggu ia berada di sana setiap hari, membuatnya yakin bahwa Amelie memang menghindari dirinya. Namun, bukan Leon namanya jika ia menyerah begitu saja.
Dan hari ini, seperti biasanya ia datang ke proyek pembangunan. Alasannya sama sebenarnya, untuk menemui Amelie. Ia memiliki manager proyek yang bisa dipercaya, tapi ia selalu mencari alasan agar bisa pergi memeriksa proyek tersebut.
Leon meninggalkan proyek dan bersembunyi. Ia ingin melihat apakah benar bahwa Amelie datang ke sana sesuai perkataan manager proyeknya.
"Mel," panggil Leon.
Amelie yang baru saja sampai di proyek, menoleh. Ia kaget karena rasanya tadi ia sudah melihat Leon pergi meninggalkan sekolah.
Bagaimana dia bisa berada di sini?
"Ya Tuan Leon, apa ada sesuatu yang bermasalah?" tanya Amelie.
"Ya. hatiku yang bermasalah. Mengapa kamu menghindariku?" tanya Leon to the point.
"Maaf, Tuan Leon. Saya tidak pernah menghindari anda. Saya sedang banyak pekerjaan di sekolah."
Leon dengan cepat meraih pergelangan tangan Amelie dan mengajaknya ke taman sekolah, "Hei, lepaskan!"
"Aku tidak akan melepaskanmu. Sudah kukatakan bahwa aku akan terus mengejarmu," Leon mengungkung Amelie di sebuah pohon besar yang berada di taman sekolah.
"Hubungan kita tidak akan ada masa depan," ucap Amelie sedikit ketus. Ia tak ingin berkata lembut yang membuat Leon merasa diberi harapan. Lebih baik ia berakting, bukankah aktingnya membohongi Mommynya juga pernah berhasil.
"Kamu yang mengatakan seperti itu, tidak denganku. Aku akan membuktikan ucapanku, Mel. Menikahlah denganku. Aku berjanji bahwa tak akan ada seorang pun yang akan mengatakan hal buruk tentangmu."
"Kamu tidak akan bisa mengendalikan perkataan orang lain, Tuan Leon. Bahkan mungkin anda sendiri nanti yang akan berkata buruk tentang diri saya. Maka akan lebih baik jika kita tidak memulainya lagi, jadi tak akan ada yang tersakiti," ucap Amelie.
Amelie ingin meninggalkan tempat itu, Leon langsung memeluk Amelie dari belakang. Ia melingkarkan tangan di bahu Amelie, "Jangan pergi, aku mohon. Biarkan seperti ini."
Amelie terdiam sesaat, sementara Leon menyembunyikan wajahnya di bahu Amelie, "Aku tidak akan peduli apa perkataan Mommy, Daddy, ataupun orang lain. Aku mencintaimu. Aku berjanji akan selalu menjagamu. Berilah aku kesempatan."
Leon memutar tubuh Amelie sehingga ia bisa memandang manik mata cantik milik Amelie yang sangat ia sukai.
"Menikahlah denganku," ucap Leon sekali lagi dan ntah sihir apa yang dimiliki Leon, membuat Amelie menganggukkan kepalanya. Senyum langsung terbit di wajah Leon dan memeluk Amelie dengan erat.
Cupp ...
Ia mengecup bibir Amelie sekilas sambil menangkup kedua pipi Amelie, "Aku akan selalu bersamamu, apapun yang terjadi."
__ADS_1
*****
"Apa kamu yakin, sayang?" tanya Axelle. Ia sedikit ragu dengan apa yang diutarakan oleh Amelie.
"Aku sendiri juga tidak tahu, Dad. Tapi Leon meyakinkanku bahwa ia akan selalu ada untukku," jawab Amelie.
"Daddy akan menyelidikinya dulu, sayang. Apa mereka akan datang melamarmu?"
"Ya Dad. Leon berkata seperti itu. Akhir minggu ini, ia dan keluarganya akan datang."
"Baiklah kalau begitu. Daddy akan menyelidikinya, setelah itu baru bicara dengan Mommy, okay. Kamu tenang saja, sayang. Daddy senang kamu menceritakan semuanya pada Daddy," Axelle mengecup pucuk kepala Amelie.
Setelah Amelie keluar dari ruang kerjanya, Axelle segera memerintahkan asistennya untuk menyelidiki keluarga Sebastian. Ia menginginkan informasi tersebut sudah ada di atas mejanya besok pagi.
*****
"Az ...," panggil Amelie saat ia memasuki kamar Azka. Ia melihat adiknya itu sedang duduk menghadap meja dan mengetik sesuatu di laptopnya.
"Iya, Kak," jawab Azka.
"Apa kamu sedang sibuk?"
"Kamu akan mengambil S2, Az?" tanya Amelie.
"Hmm ... aku sudah mengatakannya pada Daddy dan ia setuju. Bukankah untuk memimpin Williams Group, aku harus benar benar memiliki pengetahuan yang luas? dan aku tak ingin mengecewakan Daddy," jawab Azka.
"Aku akan mengambil S2 ku di Jerman, Kak," lanjut Azka.
"Jerman? Apa itu tidak terlalu jauh? Kenapa tidak yang dekat dekat saja, Az?"
Karena cintaku ada di sana, Kak. Ia tak akan pernah kembali padaku. Maka aku yang harus membawanya kemari. - Azka.
"Tapi ... kamu akan ada di sini kan saat kakak menikah?" tanya Amelie.
Azka yang sedang fokus pada layar laptopnya pun menoleh ke arah Amelie, "Kakak akan menikah?"
"Hmm, rencananya begitu. Tapi jangan beritahu Mommy dulu, karena Daddy yang akan mengatakannya."
Azka berpindah duduk di atas tempat tidur, di sebelah Amelie, "Tenang saja. Aku akan berada di samping kakak saat bahagia itu. Tak mungkin aku pergi sementara kakak bersenang senang," goda Azka.
"Terima kasih, Az."
__ADS_1
*****
"Benarkah? Amelie menerimamu?" tanya Miranda dengan wajah yang bahagia.
"Hmm ... dan aku ingin akhir minggu ini Mommy dan Daddy melamarnya untukku. Aku tak ingin ia berubah pikiran lagi," ucap Leon.
" .... dan satu hal lagi, aku perlu bicara dengan Daddy dan Mommy. Aku tak ingin ada hal yang tidak diinginkan terjadi pada Amelie."
"Apa maksudmu, Sayang?" tanya Miranda.
Leon mengajak Miranda duduk di atas tempat tidurnya. Ia akan berbicara dengan Mommynya ini terlebih dulu. Jika Mommynya sudah menyetujui, maka Daddynya akan mengikuti Mommynya.
"Len? ada apa? jangan membuat Mommy takut."
Leon menceritakan kecelakaan yang terjadi pada Amelie, hingga ia divonis oleh dokter tak akan bisa memiliki anak. Leon juga menceritakan bagaimana dulu ia meninggalkan Amelie setelah kecelakaan itu karena kesalahpahaman.
Leon terus memperhatikan raut wajah Miranda saat menceritakannya. Ia tak bisa membaca apa yang Mommynya rasa dan pikirkan saat itu. Ada sekelebat keraguan yang muncul di hati Leon. Namun, jika Mommy dan Daddynya tidak setuju pun, ia akan tetap menikahi Amelie.
"Mom ....," ucap Leon pelan sambil memegang tangan Miranda.
"Leon mohon jangan menolak Amelie hanya karena hal ini. Ia juga tak menginginkan hal ini terjadi padanya. Leon mencintainya dan Amelie adalah kebahagiaan Leon," lanjut Leon.
"Apa kamu yakin?" tanya Miranda.
"Ya Mom. Aku sangat yakin."
"Apa kamu tidak akan mempermasalahkannya seiring berjalannya waktu?"
"Tidak. Aku akan mencintai Amelie apa adanya. Aku justru takut dia yang akan meninggalkanku," ucap Leon.
"Mommy merestuimu, sayang," ucap Miranda.
"Benar?"
"Ya."
"Mommy tidak akan menyudutkan Amelie karena tidaj bisa memberi cucu?"
"Tentu saja tidak. Mommy tahu rasanya seperti apa. Kamu tahu, sayang. Mommy juga mendapatkanmu tidaklah mudah. Mommy mendapatkan cibiran sana sini dan itu menyakiti hati. Mommy tak akan memaksa, yang penting adalah kebahagiaanmu," ucap Miranda.
"Thanks Mom. I love you," Leon memeluk Miranda dengan erat.
__ADS_1