
Leon kembali membawa Amelie ke tempat tempat saat mereka pertama kali berkenalan. Ia juga mengajak Amelie untuk menginap di sebuah resort yang terletak persis di pinggir Danau Como.
"Kamu menyukainya?" tanya Leon.
"Tentu saja aku menyukainya. Aku memang menginginkan pergi kemari dengan seseorang yang kucintai dan mencintaiku."
Cupp ...
Leon mengecup kening Amelie, "Aku akan selalu membawamu kemanapun aku pergi. Jadi kamu akan melihat apa yang kulihat, dan merasakan apa yang kurasakan. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Meskipun nanti kita sudah memiliki anak, aku ingin selalu bepergian bersamamu."
"Apa kamu tidak akan mengajak anak kita?" tanya Amelie.
"Tentu saja ... tidak," Leon tertawa seraya menggoda Amelie, "Tidak akan meninggalkan mereka bersama grandma mereka yang super posesif itu." Amelie dan Leon pun tertawa bersama sambil menikmati suasana senja di Danau Como.
*****
3 bulan berlalu ...
Mereka telah pindah ke rumah baru mereka sebulan yang lalu. Namun, rasa lelah yang menghampiri Amelie seperti belum menghilang. Ia memang ingin mengurus semuanya sendiri, menata rumahnya seperti keinginannya.
Pagi itu, Amelie masih terlelap di tempat tidurnya, "Apa kamu masih mengantuk, sayang?" tanya Leon sambil mencium pipi dan kening Amelie. Amelie hanya menggeliat tanpa membuka matanya.
Leon segera bangkit dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia mengenakan pakaian kerjanya tanpa bantuan Amelie seperti biasanya.
"Apa kamu sangat mengantuk, hingga tak ingin bangun?"
"Memangnya ini jam berapa? tanya Amelie.
"Jam 8," mata Amelie seketika membulat karena baginya itu sudah siang.
"Ma-maafkan aku, sayang. Sepertinya aku semalam tidur terlalu larut," masih dengan tubuh yang lemas Amelie ingin beranjak dari tempat tidur.
"Tidurlah lagi. Aku tidak akan mengganggumu."
__ADS_1
"Tapi sayang," Amelie merasa tak enak karena tidak bisa mengantar Leon ke pintu depan. Apalagi saat ini ia hanya mengenakan pakaian tidur yang minim.
"Aku tidak apa apa. Tidurlah lagi," Leon akhirnya pergi ke bawah sendiri, sarapan lalu langsung pergi ke perusahaan.
Saat jam makan siang, ia menghubungi ponsel Amelie, tapi tak diangkat. Ia pun akhirnya menghubungi kepala pelayan di rumahnya karena mulai merasa khawatir.
"Bu Wan, apa istriku sudah turun ke bawah?" tanya Leon, karena Leon tahu Amelie akan berkutat seharian di lantai bawah sambil menunggu Leon kembali pulang.
"Nyonya belum turun sejak pagi, Tuan," jawab Bu Wanda yang dulu merupakan salah satu pelayan di rumah Leon kini ia menjadi kepala pelayan di rumah Leon yang baru.
"Bagaimana bisa? Bisa bantu aku memeriksanya? karena aku tidak bisa menghubunginya."
"Baik, Tuan. Saya akan segera menghubungi Tuan lagi setelah saya memeriksa Nyonya," Bu Wanda pun segera naik ke atas.
Tokkk ... tokk ... tokkk ...
"Nyonya .... nyonya," berulang kali Bu Wanda memanggil istri tuannya itu, namun tetap tak ada jawaban. Akhirnya Bu Wanda berinisiatif untuk membuka pintu.
"Nyonya!" Ia melihat Nyonyanya sedang duduk di balkon sambil tertidur.
"Bangunkan saja, Bu. Minta ia untuk makan siang, ia bahkan sudah melewatkan sarapannya."
"Baik, Tuan," Bu Wanda pun akhirnya membangunkan Amelie dan memintanya untuk makan siang. Namun apa yang dimasukkan ke dalam mulut, pasti akan kembali dikeluarkan.
"Aku tidak mau makan lagi, Bu. Aku ingin tidur saja," pinta Amelie. Bu Wanda memegang dahi Amelie, tapi tidak terindikasi demam.
Bu Wanda akhirnya memotongkan buah buahan untuk Amelie, "Nyonya, makan ini saja, bagaimana?"
Amelie melihat ke arah nampan yang dibawakan oleh Bu Wanda, seketika matanya langsung bersinar melihat berbagai macam buah buahan yang menggugah seleranya.
"Aku mau, Bu," dengan cepat Amelie meraih piring tersebut dan menghabiskannya.
Bu Wanda hanya menggelengkan kepalanya melihat bagaimana Amelie menghabiskan buah yang ia sajikan. Bu Wanda menghubungi Tuan Leon kembali dan menceritakan semuanya. Leon yang khawatir akhirnya pulang lebih cepat ke rumah.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak mau makan, sayang?" tanya Leon sambil membuka jas dan dasinya. Sementara itu, Amelie masih berada di atas tempat tidurnya dan bersandar.
"Aku makan kok."
"Makan apa?"
"Buah," Amelie tersenyum.
"Mana kenyang jika kamu hanya makan buah. Bagaimaba kalau sekarang kamu menemaniku makan?"
"Apa kamu belum makan?" tanya Amelie.
"Hmm ... aku belum makan siang. Hari ini meeting sangat padat dan pekerjaan juga menumpuk."
Amelie akhirnya menemani Leon di meja makan. Bu Wanda telah menyiapkan beberapa macam masakan di atas meja. Amelie melihat salah satu masakan dan tergiur. Ia mengambil piring dan menusukkan udang saus telur asin ke dalam piringnya.
Rasa mual tiba tiba kembali menyerang Amelie setelah memasukkan udang tersebut ke dalam mulutnya. Ia pun langsung berlari ke kamar mandi terdekat.
Hoekkk ... hoekkk ....
Anelie mengeluarkan semua isi perutnya. Bahkan buah yang tadi ia makan pun akhirnya ikut keluar. Leon langsung mengikuti Amelie saat istrinya itu berlari. Ia memijat tengkuk Amelie yang masih mengeluarkan isi perutnya.
"Kita ke dokter," ucap Leon.
"Tidak. Tidak perlu. Aku akan ke kamar saja untuk beristirahat. Mungkin beberapa hari ini aku kelelahan karena terua merapikan barang barang di rumah," ucap Amelie.
"Tidak, sayang. Kali ini kamu harus mengikuti perintahku. Aku merasa kamu sedang tidak baik baik saja. Bu Wanda! Minta Pak Saduh untuh menyiapkan mobil," perintah Leon.
Amelie akhirnya beranjak dari kloset setelah membilasnya. Ia pergi ke kamar tidur dibantu oleh Leon.
"Gantilah bajumu. Aku akan mandi sebentar," ucap Leon.
Amelie akhirnya menurutu semua permintaan Leon. Ia tak ingin Leon menjadi marah hanya karena keegoisannya. Ia kini duduk di meja rias dan memoleh sedikit wajahnya dengan makeup. Amelie menyadari wajahnya sedikit pucat, ia pun memberikan lipstik tipis dibibirnya, agar warnanya lebih cerah.
__ADS_1
"Kamu sudah siap, sayang?" Amelie pun mengangguk. Mereka akhirnya turun bersama dan pergi ke rumah sakit diantar oleh Pak Saduh, supir Leon.