
Hari minggu kemarin, benar benar dipergunakan Amelie untuk beristirahat. Ia menikmati hari Minggunya seperti saat dirinya masih single.
Setelah menelepon Vanessa, Mommynya, dan membalas pesan pesan yang masuk, ia mematikan ponselnya. Ketika waktu menunjukkan pukul 7 malam, ia sudah berada di atas tempat tidurnya untuk kembali ke alam mimpi.
"Ahhh, menyenangkan sekali!" Amelie menggulung tubuhnya dengan selimut. Tingkahnya begitu menggelikan, untung saja tidak ada yang melihatnya. Ia benar benar seperti anak kecil.
Itulah Amelie, bahkan ia sudah melupakan apa yang terjadi kemarin pada apartemen tersebut. Ia tidak pernah terlalu lama menyimpan sesuatu dalam hatinya.
*****
Pagi ini, Amelie keluar dari apartemennya dan menguncinya. Ia sudah meminta pengelola apartemen untuk membantunya mengganti kunci atas seijin pemiliknya. Ia turun melalui lift dengan perasaan senang karena akan bertemu dengan anak anak muridnya.
Amelie sengaja berangkat lebih pagi karena ia ingin mampir di sebuah minimarket dan membeli roti dan susu. Ia kemudian duduk di sebuah kursi taman dan menyantap rotinya.
"Ahhh kenyangnya," Amelie membuang plastik roti dan juga kotak susunya yang sudah kosong ke dalam bak sampah, kemudian kembali melanjutkan perjalanannya dengan bus seperti biasa.
Bagi Amelie, pagi ini terasa cerah dan indah. Namun, tidak bagi seseorang yang terus menguntit dan melaporkannya kepada orang yang membayarnya. Setelah apa yang ia lakukan pada apartemen Amelie, ia belum mendapat bayaran apa apa. Oleh karena itulah hari ini ia menguntit Amelie sejak pagi. Informasi yang ia dapatkan hari ini, mungkin akan membuat orang tersebut dengan segera membayarnya.
"Pagi anak anak!" sapa Amelie saat ia menyambut mereka di pintu gerbang seperti biasa. Sejak Amelie bekerja di sana, ia selalu berdiri setiap pagi untuk menyambut anak anak itu. Tak ada yang menyuruhnya ataupun mengharuskannya, ia melakukannya atas inisiatifnya sendiri, dan anak anak menyukainya.
"Pagi, Miss Amelie!" Anak anak menyapa Amelie, memberikan salam, pelukan bahkan kecupan di pipinya dengan bibir mungil mereka.
Di dalam kelas, anak anak juga begitu menyukainya karena kepribadian Amelie yang begitu ceria. Ia akan mengajar sambil mengajak mereka bermain. Ia juga mengajukan beberapa teka teki yang berhubungan dengan materi pembelajaran, membuat anak anak tertarik.
Saat jam mengajar usai, ia langsung membereskan barang barangnya dan berangkat menuju minimarket seperti biasanya. Ia menaiki bus kembali menuju tempat kerja selanjutnya.
"Kak Lilian, Kak Harlan!" sapa Amelie dengan senyum mengembang.
Wanita itu benar benar seperti tidak terpengaruh dengan apa yang kulakukan pada apartemennya. Sepertinya aku harus melakukan hal yang lain lagi. - sepasang mata terus memperhatikan gerak gerik Amelie.
Amelie melayani pembeli di dalam minimarket dengan ramah dan penuh senyuman, "Terima kasih, silakan datang kembali."
"Mel, hari ini aku izin pulang lebih dulu ya," Harlan melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 6.
"Iya, Kak. Tenang saja," ucap Amelie.
"Baiklah, sampai besok," Harlan melambaikan tangannya pamit dan tersenyum ke arah Amelie.
Harlan keluar dari minimarket dan gantian Leon yang masuk ke dalam. Harlan tersenyum kepada Leon dan Leon membalasnya.
"Halo, sayang!" sapa Leon seperti biasanya.
"Hi!" balas Amelie.
__ADS_1
"Apa tidurmu sudah cukup?" Amelie pun mengangguk dan tersenyum. Amelie memang membalas pesan Leon seperti biasa dan mengatakan bahwa ia akan membersihkan apartemennya dan ingin beristirahat setelahnya.
Leon berdiri di depan meja kasir dan menahan tubuh dengan kedua tangan di atas meja, kemudian dengan cepat ia memberikan kecupan di bibir Amelie.
Cuppp ... membuat wajah Amelie memerah seperti biasanya. Leon pun mencubit pipi Amelie karena gemas.
Sebuah bidikan kamera mengabadikan momen kebersamaan mereka dan dengan cepat gambar itu mampir di ponsel Lydia.
📩 Habisi wanita itu!
📨 Berikan dulu bayaranku. Kamu sama sekali tak menghargai kerja kerasku.
📩 (Sebuah notifikasi penerimaan uang diterima)
📨 Terima kasih, aku siap melaksanakan! Tapi ingat, ini hanya uang muka. Kamu harus mengirimkan sisanya setelah tugasku selesai.
📩 Iya, aku tahu. Kalau aku sudah menjadi seorang istri dari seorang pewaris Sebastian Group, aku akan memberikan lebih padamu.
📨 Tentu saja. Aku pasti akan meminta lebih besar, atau semua akan terbongkar!
📩 Sialann!! berani sekali kamu mengancamku.
📨 Oooo, aku tidak mengancammu, Lydia sayang. Aku mengambil apa yang menjadi hakku. Ingat! Jangan bermain main denganku.
Laki laki itu memasukkan ponselnya ke dalam saku dan mulai menyusun rencana. Ia terus diam, namun tetap memperhatikan gerak gerik Amelie dan Leon.
*****
"Apa kamu akan pergi lagi?" tanya Handy.
"Ya, apa tidak boleh?" jawab Abigail.
"Boleh saja. Tapi .... apa kamu tega meninggalkanku sendiri? ucap Handy dengan manja.
"Kamu itu sungguh menyebalkan! Apa aku tidak boleh menemui sahabatku sendiri?"
"Kan bisa video call saja. Kenapa harus pergi ke sana?"
"Rasanya itu tidak sama. Aku ingin bercerita, bercengkerama, berjalan, berbelanja, nonton, bahkan memeluk dan tidur bersamanya," jawab Abigail.
"Kamu bisa melakukan itu semua denganku. Aku rela dan ikhlas, apalagi jika tidur sambil memelukmu, ahhhh lebih juga boleh," Handy memejamkan mata dan memeluk dirinya sendiri.
Pletakkk!!!
__ADS_1
"Aduhhh, Bi!!" Handy mengaduh kesakitan saat sebuah telapak tangan sudah mendarat di bahunya.
"Dasar mesummm!!!"
"Itu bukan mesuuummm, sayanggg .... itu tanda aku sangat menyayangimu. Bahkan aku rela menggantikan posisi sahabatmu untuk memelukmu dan me ...," Handy mengerucutkan bibirnya ingin mencium Abigail.
Dengan cepat Abigail mencubit bibir Handy dengan ke lima jarinya, "Ouchhh, sayang .... sakit, tapi tanganmu lembut sekali dan harum. Kamu pakai parfum apa?"
"Masa sih?" Abigail ikut mencium telapak tangannya.
"Iya, harum. Berikan lagi tanganmu padaku?"
"Padahal aku baru selesai dari toilet tadi," ucap Abigail.
"Hah?!" Abigail langsung tertawa melihat perubahan raut wajah Handy yang berhasil ia kerjai. Pria ini selalu membuatnya tertawa, padahal awal pertemuan mereka benar benar jauh berbeda.
"Kamu berbohong ya, Bi?" Abigail tertawa lagi, kemudian langsung berdiri untuk kembali ke meja kerjanya. Dengan cepat Handy menarik pergelangan tangan Abigail dan membuat wanita itu terjatuh di atas tubuhnya. Manik mata mereka bertemu dan keduanya tersenyum.
"Aku sungguh bahagia bertemu denganmu, Bi," ucap Handy, dan ...
Cuppp ...
Handy memberikan ciuman kepada Abigail. Semakin lama ciuman itu semakin dalam.
"Buka mulutmu, Bi," Handy kembali ******* dan mengabsen setiap rongga mulut Abigail. Mereka baru saling melepaskan setelah keduanya perlu menghirup oksigen.
Handy menyapu bibir Abigail yang basah dan sedikit bengkak akibat ulahnya, dengan jarinya. Mereka saling bertatapan dan melihat jauh ke dalam manik mata mereka masing masing.
"Will you marry me?" tanya Handy.
*****
Terima kasih sudah mengikuti novel Cherry sampai bab ini dan terima kasih juga atas dukungannya.
Baca juga novel Cherry yang lain :
1. The Killer series
2. Cinta dan Benci
3. Separuh Jiwaku
Terima kasih, maaf kalau masih kurang sreg di hati ya, Cherry masih amatir a.k.a. pemula. Mohon dukungannya.
__ADS_1
Salam sehat selalu buat seluruh pembaca!