Amelie Sang Penjaga Jodoh

Amelie Sang Penjaga Jodoh
UANG MUKA


__ADS_3

"Mom!" sapa Amelie saat ia sampai di kediamannya. Akhirnya ia kembali lagi kemari, kediaman keluarga Williams.


"K-kamu kenapa, sayang?" tanya Vanessa saat melihat Amelie yang pulang dengan menggunakan tongkat, bersama dengan Abigail.


"Aku tidak apa apa, Mom. Aku tidak hati hati saat berjalan, hingga kakiku masuk ke selokan dan mengalami cedera," Amelie mengucapkan maaf berkali kali di dalam hatinya karena telah membohongi Vanessa.


"Kalau begitu, nanti kita ke dokter lagi ya. Mommy khawatir."


"Ia memang perlu ke dokter, Aunty. Tapi hanya untuk pemeriksaan saja. Ia memang merepotkan. Bahkan Abi harus jauh jauh menjemputnya ke sana karena mendengar ia tercebur ke selokan," Abigail pun merutuki kebohongannya, tapi ia sudah merencanakan ini bersama Amelie, agar kedua orang tuanya tidak khawatir.


"Kalau begitu, ayo kita ke kamar. Kamu juga jangan pulang dulu ya, Bi. Aunty akan memasak sesuatu, makanlah di sini," ucap Vanessa.


"Dengan senang hati, Aunty!" balas Abigail.


"Kamu ini, kalau makan saja, cepat sekali jawabnya!" ucap Amelie.


"Setidaknya ini balasan karena aku sudah mau ikut berbohong bersamamu," ucap Abigail.


"Terima kasih ya Bi. Aku tidak tahu bagaimana aku jika tidak ada dirimu."


"Sudah sudah, jangan sok mellow, tidak cocok sama sekali," gerutu Abigail karena Amelie mulai bersikap manja seakan menggodanya.


"Lalu ... sekarang apa yang akan kamu lakukan, Mel?" tanya Abigail.


"Aku belum tahu. Tapi mungkin aku akan membantu Daddy saja."


"Di perusahaan?"


"Hmm ..."


"Apa kamu akan mengubah Williams Group menjadi Williams painting?" seketika tawa Amelie meledak mendengar ucapan Abigail. Bahkan ia sampai mengeluarkan air mata.


"Kalau aku melakukan itu, sepertinya Daddy akan memecatku jadi putrinya," Amelie kembali tertawa.


Setelah merapikan beberapa barang miliknya, dibantu oleh Abigail, mereka kembali turun menuju meja makan. Vanessa sangat senang sekali putrinya sudah kembali. Hanya sekitar 1 tahun Amelie berada di luar sana seorang diri dan akhirnya ia pulang.


"Woww, makanan kesukaanku!" teriak Abigail saat Vanessa membawa masakannya ke meja makan.


"Tenang saja, Aunty memasak makanan kesukaanmu, juga kesukaan putri Aunty. Kalian bisa makan sepuasnya," ucap Vanessa.

__ADS_1


Mereka duduk di meja makan dan makan bersama, "Bi, apa benar kamu akan segera menikah?" tanya Vanessa.


"Iya, Aunty. Apa Mami yang mengatakannya pada Aunty?"


"Hmm, waktu kemarin Aunty bertemu di acara makan malam, Mamimu menceritakannya. Aunty turut bahagia mendengarnya."


"Terima kasih, Aunty. Nanti aku pinjam putri Aunty ini untuk menjadi bridesmaid ku ya," pinta Abigail.


"Ooo tentu saja. Kalau kamu punya pasangan untuknya dan mengajaknya menikah bersama sama denganmu di hari yang sama, itu lebih baik lagi," ucap Vanessa sambil tertawa. Abigail pun tertawa mengikuti Vanessa, hanya saja ia sedikit menoleh ke arah Amelie yang hanya tersenyum tipis.


Abigail tahu Amelie ingin menikah, membahagiakan kedua orang tuanya agar tidak mengkhawatirkannya. Tapi ... Abigail juga tahu seperti apa Amelie. Ia tak akan menceritakan masalahnya pada kedua orang tuanya dan membebani mereka.


"Mom! Apa Mommy tidak merindukanku, hmm? Baru aku pulang, Mommy sudah menyuruhku cepat cepat menikah. Apa Mommy ingin mengusirku lagi dari rumah ini?" ucap Amelie untuk menutupi kegundahannya. Abigail tahu apa yang dilakukan Amelie saat ini, hanya untuk menutupi lukanya.


Amelie tak tersakiti mau berapa banyak pun pria yang hanya memanfaatkannya, tapi ketika ia kehilangan sesuatu yang merupakan impian setiap wanita ... yakni menjadi seorang ibu, di sanalah saat ia terluka. Namun, ia menyimpannya dalam dan sangat rapi.


"Ooo tidak sayang, Mommy menyayangimu," ucap Vanessa memeluk Amelie.


Ahhh, dekapan Mommy memang paling nyaman dan paling hangat, kesukaan Amelie.


*****


Pertemuannya di rumah sakit adalah pertemuan terakhirnya. Perpisahan yang kini benar benar menyakiti hatinya. Kalau saja ia tak mengucapkan kata 'putus', mungkin Amelie tak akan meninggalkannya.


"Len!" sapa Alvin saat masuk ke dalam ruangan Leon di lantai 2 *c*offee shop.


"Ada apa?" ucapnya dingin.


"Ada apa denganmu?" tanya Alvin yang melihat bagaimana wajah Leon sungguh tidak bersahabat.


"Keluar kalau tidak ada yang ingin kamu bicarakan," ucap Leon lagi.


"Ada yang mencarimu," ucap Alvin.


"Mencariku? Amelie?" Leon tiba tiba saja langsung bagkit dan berlari keluar.


"Hi, Leon. Bagaimana kabarmu?" sapa Lydia sambil berjalan mendekati Leon.


"Ada perlu apa?" tanya Leon datar.

__ADS_1


"Aku hanya ingin bertemu denganmu, dan mengajakmu makan malam. Bagaimana?"


"Aku tidak ada waktu. Pergilah!" Leon ingin segera berbalik, namun Lydia langsung meraih pergelangan tangan Leon.


"Apa kamu masih memikirkannya? Ia tidak mencintaimu. Akulah yang mencintaimu. Aku melakukan semuanya untuk memperlihatkan padamu, bahwa pria baik sepertimu tak pantas untuk diperlakukan seperti itu," ucap Lydia.


"Lepas! Lepaskan tanganmu!" perintah Leon. Lydia akhirnya melepaskan pegangannya dan membiarkan Leon berlalu. Alvin pun datang mendekati Lydia.


"Aku baru menyadari, kamu ... temannya Diva?"


"Ya, aku Lydia, sahabat Diva," ucap Lydia.


"Ada apa sebenarnya? Kenapa Leon sampai marah seperti itu?" tanyanya pada Lydia. Alvin memang tidak mengikuti perkembangan Leon karena ia baru saja kembali setelah ditugaskan membantu Bryan di cabang Sebastian Group yang ada di negara itu.


"Aku mencintainya. Aku mencintai sahabatmu. Apa aku salah?" ucap Lydia sambil mulai menitikkan air mata.


"Tapi Leon sudah memiliki kekasih," ucap Alvin.


"Tidak! mereka sudah berpisah. Aku bahkan melihat sendiri Leon sudah memutuskan hubungannya dengan Amelie."


"Putus? bagaimana bisa?"


"Tentu saja bisa. Untuk apa mempertahankan wanita yang berselingkuh di belakangnya. Amelie juga pasti hanya menginginkan harta Leon. Aku mencintainya, karena itulah aku mencari bukti perselingkuhan Amelie ... lalu, kenapa dia jadi sepertinya membenciku ... hiks," Lydia kembali menangis.


"Sudah, tenanglah," Alvin menggenggam tangan Lydia dan menepuknya, "Aku akan membantumu. Aku juga tidak suka dengan hubungan Leon dengan wanita itu. Aku merasa ia hanya memanfaatkan Leon saja."


"Benarkah? Kamu mau membantuku?"


"Tentu saja aku akan membantumu. Bukankah itu artinya aku membantu Leon juga. Kalau dia bisa mencintaimu, ia pasti akan melupakan wanita itu," ucap Alvin.


Tanpa sadar, Lydia langsung melompat ke pangkuan Alvin dan memeluknya, "Terima kasih. Terima kasih karena sudah mau membantuku. Aku akan membalas semua kebaikanmu."


Tanpa sengaja tangan Alvin menyentuh paha mulus Lydia. Lydia yang mengenakan pakaian ketat, menyembulkan aset kembarnya yang begitu dekat dengan wajah Alvin dan rok yang juga ketat yang hanya sampai pertengahan paha.


Cuppp ....


Lydia mengecup pipi Alvin, "itu sebagai uang muka dariku karena kamu sudah mau membantuku."


Sementara dari luar coffee shop, sepasang mata memperhatikan kegiatan mereka, kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2