Amelie Sang Penjaga Jodoh

Amelie Sang Penjaga Jodoh
APA KAMU MAU MENIKAH?


__ADS_3

"Aku menyerah! Sebaiknya kita sudahi saja sandiwara kita."


"Aku juga setuju. Kamu bisa mengatakannya langsung pada kedua orang tuamu bahwa kamu menolak perjodohan ini," Mikael menghempaskan tubuhnya ke sofa.


"Kenapa tidak kamu saja yang mengatakan pada kedua orang tuamu? Apa kamu takut dimasukkan lagi ke dalam kaleng?"


"Mulutmu itu ya, erghhhh!" Mikael mengepalkan tangannya.


"Kenapa? Aku tidak peduli kamu mau bilang apa. Aku akan terus melakukan ini sampai kamu membatalkan perjodohan ini."


"Oooo .... jadi selama ini, kamu sengaja ya, kudanil? Tapi tidak apa. Kalau begitu, aku akan mengikuti permainanmu. Aku tidak akan membatalkan perjodohan ini, justru aku akan meminta kedua orang tuaku untuk mempercepat pertunangan kita," ancam Mikael dengan senyum sinis.


"Kurang ajar! Kamuuu!! Ahhh!!!" Daniela langsung menghentakkan kakinya dan keluar dari ruangan Mikael. Sementara Mikael yang awalnya tersenyum, kini kembali menampilkan wajah datar.


Apa yang ia katakan pada Daniela, semua hanyalah ancaman. Ia tak akan mempercepat pertunangan tersebut, tapi ia juga tak akan membatalkan perjodohan mereka. Bukan apa apa, hanya saja ia menggunakan Daniela agar Mommynya, Miranda, tak akan memintanya untuk melakukan kencan buta yang menyebalkan dan menghabiskan waktunya.


*****


Hari ini Leon mengajak Amelie ke sebuah taman yang tak jauh dari pusat kota. Mereka membawa sebuah kain berbentuk persegi dengan motif garis garis berwarna hijau dan putih. Di atasnya sudah mereka letakkan sebuah keranjang rotan yang berisi makanan dan minuman untuk mengisi perut mereka selama acara piknik hari ini.


Mereka memandang ke arah sebuah keluarga yang tengah berpiknik, ada juga pasangan muda mudi. Tiba tiba, Leon menjatuhkan kepalanya ke atas paha Amelie yang tengah duduk berlutut dengan kaki agak ke samping.


"Ehhh," ucap Amelie kaget.


Leon tersenyum melihat ke atas, ke arah wajah Amelie yang melihat ke arahnya.


Cuppp ....


Wajah Amelie langsung memerah dan ia menutup mulutnya. Leon baru saja mencuri ciuman pertamanya. Tidak, tidak, itu bukan ciuman ... kecupan pertamanya. Mata Amelie tak lepas dari Leon, hal itu membuat Leon tersenyum dan dengan menahan tengkuk Amelie, Leon kembali menyentuhkan bibirnya ke bibir Amelie. Kali ini benar benar sebuah ciuman.


"I love you, Amelie," ucap Leon. Amelie hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban. Ia tak mengerti perasaannya saat ini. Begitu banyak keraguan dalam pikirannya, gejolak dalam hatinya.


Hari ini, genap 3 bulan Leon menjadi kekasih Amelie. Belakangan sebenarnya timbul rasa was was dalam hatinya, apakah Leon akan mengatakan kata 'putus' padanya setelah hubungan mereka menginjak 3 bulan.

__ADS_1


Amelie merasa tak rela jika hubungannya bersama Leon hanya sebatas angin lalu, seperti hubungannya dengan laki laki lain sebelumnya. Ia tersenyum sendiri membayangkan dirinya hanya dianggap sebagai batu loncatan bagi para pria.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Leon.


"Ahh tidak ... aku hanya berpikir apa hubungan ini akan bertahan lama?"


"Apa maksudmu? Apa kamu berpikir untuk berpisah denganku?"


"Tidak, tidak. Bukan itu. Sudahlah, tidak perlu kamu pikirkan," Amelie berusaha mengalihkan pembicaraan dengan Leon.


Apa Amelie berpikir untuk berpisah denganku? mengapa ia memikirkan hal seperti itu? Apakah yang Alvin katakan benar? - pikiran Leon kini jadi berputar putar, apa ia harus menguji bagaimana perasaan Amelie yang sebenarnya?


*****


Hari demi hari dilewati oleh Leon dan Amelie. Sampai saat ini, Leon belum bisa memikirkan bagaimana cara untuk mengetahui bagaimana perasaan Amelie yang sebenarnya. Hubungan mereka sudah berjalan hampir 5 bulan, tapi belum pernah sekalipun keluar kata 'I love you' dari bibir Amelie.


"Mel, sayang ... weekend ini, temani aku ya."


"Hmmm, kemana?" Amelie menoleh sambil tersenyum, tapi tangannya tetap cekatan memindahkan barang barang ke dalam rak.


"Aku akan menjemputmu besok," Leon selalu menjemput dan mengantar Amelie di/ke apartemennya sejak mereka resmi berpacaran. Namun, tak pernah sekalipun Amelie mengajaknya masuk ke dalam.


"Baiklah," Amelie mengangguk.


Sementara itu dari seberang jalan, Lydia selalu memperhatikan gerak gerik Amelie. Ia tak suka dengan apa yang Amelie miliki. Ia adalah Lydia Fransiska, si bunga kampus. Setiap laki laki akan berlari mengejarnya, berharap menjadi kekasihnya. Namun, sejak Mikael justru memilih Amelie tanpa melihat Lydia, Amelie menyimpan kekesalan dalam hatinya.


Sejak awal, niat Lydia berteman dengan Amelie dan Abigail adalah karena Mikael. Mikael adalah sosok pria tampan, gagah, dengan wajah yang cool, membuat Lydia terpesona sejak awal melihatnya.


Lydia yang notabene dikenal sebagai bunga kampus sejak ia masuk, selalu didekati banyak pria. Ia sangat berharap bahwa Mikael pun akan mendekatinya. Jika itu terjadi maka dengan cepat dan senang hati ia akan langsung menerima Mikael. Namun, keinginan hanyalah keinginan. Kabar yang ia dapatkan justru terbalik, Mikael malah menjadi kekasih seorang Amelie.


Oleh karena itulah, Lydia mendekati Amelie. Ia ingin mendekati Mikael. Namun, Mikael tetap tidak pernah menoleh ke arahnya, tidak sama sekali. Dari sana juga Lydia memgetahui bahwa selama ini hubungan Amelie dengan setiap pria yang berpacaran dengannya, hanyalah untuk status saja.


"Amelie si Penjaga Jodoh," gumam Lydia sambil menyeruput kopi yang kini sudah tinggal setengah di dalam cangkirnya.

__ADS_1


Saat ia bertemu lagi dengan Amelie di sini, di Italy, awalnya ia ingin mencoba untuk benar benar berteman. Namun, melihat ada seorang pria yang kembali mendekati Amelie, rasa kesal itu kembali dan semakin besar. Pria itu kembali tak tertarik melihatnya.


*****


"Mom!" sapa Leon.


Leon memeluk Miranda. Ia sangat merindukan Mommynya itu, meski Mommynya telah memaksanya untuk segera menikah. Saat Miranda meneleponnya untuk menanyakan kabarnya, hati Leon pun menghangat.


Ia tak pernah benar benar marah pada Daddy maupun Mommynya, "Aku merindukanmu."


"Mommy juga sangat merindukanmu, sayang. Apa kamu baik baik saja?" Miranda menelisik dan memutar tubuh Leon, seakan memeriksanya.


"Aku baik baik saja, Mom. Bagaimana keadaan Daddy?"


"Daddy baik, hanya saja ia semakin pusing karena harus menghadapi Mikael," jelas Miranda.


Mikael? Apa hubungan mereka dengan Mikael? - Amelie.


"Ini?" Miranda kini beralih ke Amelie yang berdiri di belakang Leon.


"Mom, kenalkan ini Amelie. Amelie, ini Mommyku," ucap Leon.


"Miranda, aku Miranda Sebastian, Mommy Leon," ucap Miranda memperkenalkan diri.


Sebastian? Leon Sebastian? Mikael Sebastian? Apa mereka ....? - Amelie.


Miranda memegang tangan Amelie dan duduk di sampingnya, "Apa kamu kekasih Leon?" Amelie mengangguk, membuat Miranda tersenyum bahagia.


"Aku senang sekali, ternyata tidak sia sia semua yang kulakukan. Kamu berhasil, sayang! Akhirnya kamu memiliki kekasih!" ucap Miranda.


"Mom?!"


"Mom sengaja membuatmu keluar dari rumah, agar kamu bisa memiliki waktu untuk berada di luar dan mencari seorang wanita. Kalau setiap hari kamu di perusahaan dan berkutat dengan berkas, kapan kamu akan menikah!" ucap Miranda.

__ADS_1


Amelie hanya terus memperhatikan dengan wajah yang sedikit bingung. Leon tiba tiba tersadar, bahwa selama ini ia tak pernah mengatakan pada Amelie bahwa ia adalah penerus keluarga Sebastian, dan kakak dari Mikael.


"Apa kamu mau menikah dengan Leon, sayang?" tanya Miranda langsung pada Amelie.


__ADS_2