Amelie Sang Penjaga Jodoh

Amelie Sang Penjaga Jodoh
AKU BAHAGIA


__ADS_3

Leon mendatangi kediaman Williams. Seperti janjinya pada Amelie bahwa ia akan melamar wanita itu. Ia datang bersama keluarganya. Vanessa menyambut mereka dengan senyum di wajahnya.


"Selamat datang, Nyonya Miranda," sapa Vanessa sambil menautkan pipi kiri dan kanan dengan Miranda. Ia pun bersalaman dengan Larry, kemudian mempersilakan mereka untuk duduk.


Vanessa awalnya kaget saat Axelle mengatakan padanya bahwa Amelie akan dilamar dan akan segera menikah. Ia tak pernah mendengar Amelie dekat dengan siapapun.


"Kamu tidak menjodohkannya kan, sayang?" tanya Vanessa pada Axelle.


"Tentu saja tidak. Aku tidak akan pernah menjodohkan putra putriku. Aku membebaskan mereka untuk meraih kebahagiaannya," jawab Axelle.


"Tapi kenapa lamaran ini seperti tiba tiba?"


"Mereka sudah menjalin hubungan saat Amelie berada di Italy, sayang. Kini mereka hanya melanjutkan ke jenjang yang lebih serius."


"Lalu, kenapa Amelie tidak pernah mengatakan padaku?"


"Ia hanya malu," ucap Axelle menutupi kenyataan yang sebenarnya. Ia tak akan mau membuat istrinya itu gelisah ataupun khawatir. Ia ingin Vanessa selalu bahagia berada di sisinya.


Vanessa memanggilkan Axelle yang saat itu sedang berada di ruang kerjanya.


"Sayang ...," Vanessa masuk ke dalam kamar tidur Amelie setelah memanggil Axelle.


"Iya, Mom. Apa mereka sudah datang?" tanya Amelie sedikit gugup.


"Kamu cantik sekali, sayang," puji Vanessa saat ia memakai atasan dan bawahan dengan kombinasi berwarna beige dan gold


"Terima kasih, Mom. Tapi ... apakah aku sudah melakukan hal yang benar?" tanya Amelie tiba tiba ragu.


"Sayang, buanglah semua keraguanmu. Yakinkan dirimu bahwa Leon sangat mencintai dan menyayangimu," Vanessa mengusap bahu Amelie, menenangkan putrinya itu.



Mereka berdua akhirnya turun bersama. Leon melihat ke arah tangga dan tersenyum melihat Amelie yang melangkah turun dengan cantiknya.


Mereka duduk bersama di sofa ruang keluarga. Mata Leon tak lepas dari Amelie.


"Len!" panggil Miranda.

__ADS_1


"Len!" panggil Miranda sekali lagi karena Leon benar benar melamun, sampai akhirnya Miranda menjewer telinga Leon.


"Aduh, aduh, Mom. Sakit!" teriak Leon dengan berbisik. Hal itu mengundang tawa dari keluarga Williams.


"Kamu itu melamun saja," bisik Miranda.


Lamaran itu akhirnya berjalan dengan lancar. Mereka merencanakan akan mengadakan pertunangan dalam kurun waktu 2 minggu dari sekarang. Tentu saja Leon sangat bahagia, begitu juga dengan kedua keluarga.


"Aku mencintaimu," bisik Leon saat mereka sedang berada di taman belakang berdua, sementara kedua keluarga sedang menikmati acara makan bersama yang belum selesai.


Amelie memutar tubuhnya, menatap manik mata Leon. Amelie memeluk Leon, ia tak bisa menjawab apa apa. Hatinya terasa begitu penuh saat ini karena Leon mau menerima dirinya apa adanya.


Leon menundukkan sedikit kepalanya, kemudian mencium bibir Amelie dengan lembut. Leon ******* perlahan, kemudian tangan kirinya menahan tengkuk Amelie dan ia mulai memperdalam ciumannya. Amelie membuka sedikit mulutnya agar Leon bisa lebih leluasa. Leon tersenyum dan melanjutkan ciuman yang semakin lama semakin panas jika tidak segera dihentikan.


"Sepertinya aku akan meminta Mommy untuk langsung menikah saja denganmu, tidak perlu acara pertunangan," ucap Leon, membuat Amelie terkekeh.


"Ayo kita masuk, mereka pasti sudah menunggu kita," ajak Amelie.


Mereka berdua akhirnya menyusul kembali ke dalam rumah, sambil bergandengan tangan dan senyum yang selalu ada di wajah mereka berdua.


*****


"Wahhhh, kamu akan segera bertunangan?" tanya Abigail pada Amelie. Ia baru saja kembali dari perjalanannya ke Eropa. Abigail melakukan honeymoon hampir 1 bulan lamanya.


Amelie mengangguk dan tersenyum, "Tapi ... apa mereka mengetahui hal itu?" tanya Abigail sedikit khawatir.


"Hmm, Leon mengetahuinya. Ia tidak mempermasalahkannya."


"Baguslah kalau begitu, Mel. Itu tandanya dia sangat mencintaimu," ucap Abigail.


"Aku juga berharap bisa seperti itu terus, Bi. Namun masih ada ketakutan dalam diriku, bagaimana nanti setelah kami menjalani pernikahan 1 tahun, 2 tahun ... Apa ia akan tetap tidak mempermasalahkan hal itu?" Amelie menghela nafasnya.


"Kamu tidak akan pernah tahu jika tidak menjalaninya. Jangan pernah menghindarinya. Bagaimanapun masalah yang kita miliki, akan lebih baik jika kita menghadapinya bukan? Kamu punya aku, juga keluargamu. Kami akan selalu ada untukmu," ucap Abigail menenangkan.


"Bi ... sepertinya sejak menikah, kamu menjadi lebih bijak," goda Amelie.


"Ck ....," Abigail berdecak kesal.

__ADS_1


"Lalu ... apa keponakanku sudah on the way?" tanya Amelie sambil mengerlingkan sudut matanya ke arah Abigail.


"Hei ... hei ... semua itu perlu proses. Tidak plek plek dibuat, trus langsung jadi," ucap Abigail mencibik dan hal itu membuat Amelie tertawa.


"Gedung apa yang sedang dibangun di sana, Mel?" tanya Abigail. Saat ini mereka sedang berdiri di bawah pohon melihat ke arah proyek pembangunan di Williams School.


"Itu gedung fasilitas baru yang aku minta pada Daddy. Di sekolah ini banyak anak murid yang memiliki bakat yang belum tersalurkan," jawab Amelie.


"Ouuu, jadi itu proyek yang sedang dibangun oleh Sebastian Group?" dan Amelie mengangguk.


"Berarti Leon benar benar mengincarmu ya. Ia sampai tiap hari datang kemari hanya untuk menemuimu. Lihat .... saat ini ia sedang berjalan kemari," Amelie menoleh ke arah yang ditunjuk oleh mata Abigail dan mendapati Leon yang sedang berjalan mendekatinya.


"Hi!" sapa Leon pada Abigail, setelah mengecup kening Amelie.


"Baru melihatnya sekali saja aku sudah tahu kalau ia benar benar mencintaimu. Semua itu terlihat sekali di matanya," bisik Abigail, serwkah membalas sapaan Leon.


"Apa kamu belum mau pulang?" tanya Leon.


"Ya, sebentar lagi. Bi ... jangan lupa ajak Handy untuk makan siang di rumahku weekend nanti ya. Mommy merindukanmu," pinta Amelie.


"Aunty merindukanku atau merindukan Mia?"


Amelie terkekeh, "Ia pasti mengundangmu karena ingin mengetahui kabar Mia. Mommy sangat menyayangi Mia ... tidak tidak, bukan hanya Mommy, tapi aku juga menyayanginya."


"Setelah resepsi pernikahanku, dia langsung terbang lagi keesokan harinya. Ntah mengapa dia anti sekali sepertinya berlama lama di sini. Alasannya selalu sama ... sibuk."


"Sudahlah, mungkin memang dia sibuk. Kalau begitu ayo kita pulang, Bi. Handy pasti mencarimu," ajak Amelie.


"Hmm .... Tuan Leon, aku nebeng ya, sampai perempatan depan sana," pinta Abigail.


"Aku akan mengantarmu sampai tujuan. Kamu mau kemana?" tanya Leon.


"Ia akan ke Pranata Group. Suaminya menunggunya di sana, istrinya malah melarikan diri kemari karena malas melihat tumpukan berkas," ucap Amelie sambil tertawa.


"Ishhh kamu ini, Mel. Rahasiaku jangan dibuka buka," Abigail kembali berdecak kesal.


*****

__ADS_1


__ADS_2