Amelie Sang Penjaga Jodoh

Amelie Sang Penjaga Jodoh
ALVIN DAN LYDIA


__ADS_3

Di dalam sebuah cafe, Amelie, Abigail, dan Daniela tengah bercakap cakap. Tak terasa sudah 2 bulan sejak pertemuan mereka di boutique milik Mommy Daniela, Emily.


"Apa kalian bisa membantuku?" tanya Daniela sambil memutar mutar minuman di hadapannya dengan sendok.


"Ada apa denganmu, la?" tanya Abigail.


Ia menghela nafasnya, "Aku benar benar tidak ingin bertunangan dengan ikan kaleng itu. Kami tidak saling mencintai, untuk apa kami bertunangan. Bukankah itu akan membuat kami saling menyakiti?"


"Apa kamu sudah membicarakan ini dengan kedua orang tuamu, la?" tanya Amelie.


"Belum. Aku tidak berani. Daddy dan Mommy sepertinya sangat mengharapkan pertunangan ini. Aku berharap ikan kaleng itulah yang membatalkannya, jadi aku tidak merasa bersalah pada Daddy dan Mommy," Daniela tertunduk lesu.


"Kami akan mencoba membantumu dengan berbicara dengan Mikael. Jika ia berpikiran sama, ia pasti mau melakukannya," ujar Amelie.


"Aku pernah mencobanya, tapi dia malah mengancamku akan mempercepat pernikahan kami. Dia itu gila!"


Sementara itu di tempat lain,


"Ada apa, Mik? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Handy.


Mikael menghela nafasnya, kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi, "Apa Mommy akan menyetujui kalau aku membatalkan rencana pertunanganku dengan kudanil itu, Han?"


"Apa kamu yakin jika kamu lepas dari Daniela, kamu tidak akan dijodohkan dengan wanita lain lagi?"


"Nah itu!" ujar Mikael sambil memukul meja, membuat Handy kaget dan mulai bersumpah serapah.


"Hei, Mik. Kamu gila ya! Kalau aku jantungan dan mati bagaimana? Aku akan menikah, masa belum merasakan apa apa, aku sudah harus meninggalkan tubuhku ini," ungkap Handy kesal.


"Ahhh!! Kamu tidak bisa diajak bicara. Mungkin sebaiknya aku bicara dengan Amelie dan Abigail saja. Aku akan meminta mereka untuk merayu Kudanil itu agar ia yang membatalkan pertunangan ini," Mikael pun meraih ponselnya dan mulai menghubungi Amelie.


Hingga di sinilah mereka sekarang, duduk berlima di dalam sebuah cafe. Mikael dan Daniela terlihat saling memalingkan wajah.


"Kalau kalian berdua seperti itu, bagaimana kita bisa mencari jalan tengahnya?" tanya Amelie.


"Mel, bukankah aku seharusnya berat jodoh? Kenapa jadi seperti ini?"


"Mik!" teriak Abigail. Ia tak ingin membuat Amelie merasa tak nyaman. Tapi, Amelie menyentuh punggung tangan Abigail, seperti mengatakan bahwa ia baik baik saja.


"Eh, kudanil! Lo yang ngomong apa susahnya sih?" ucap Mikael ketus.

__ADS_1


"Kalau nggak susah, kenapa bukan lo aja?" balas Daniela tak mau kalah.


"Turunkan nada suara kalian. Orang orang melihat ke arah kita," ucap Abigail yang mengedarkan pandangannya dengan sedikit menunduk seperti meminta maaf kepada para tamu yang lain.


1 menit ...


2 menit ...


3 menit ...


5 menit ...


10 menit ...


Tak ada satupun yang mengeluarkan suara untuk memulai pembicaraan. Tiba tiba, Daniela bangkit dari duduknya, "Baiklah, aku yang akan mengatakan pada Mommy. Dasar pria pengecut!"


Daniela meraih tas nya, kemudian pergi meninggalkan cafe tersebut tanpa melihat lagi ke belakang.


*****


Pernikahan Handy dan Abigail tinggal beberapa hari lagi. Mereka terlihat begitu sibuk sejak 2 minggu kemarin. Mulai dari membagikan undangan kepada teman teman, hingga mengecek kesiapan gedung dan semua perlengkapannya. Mereka memang sengaja melakukan semuanya sendiri karena bagi mereka, persiapan pernikahan akan semakin mendekatkan mereka.


Kebahagiaan tengah dirasakan oleh Handy dan Abigail, tapi tidak dengan seseorang di negara yang lain. Leon semakin larut dalam pekerjaannya. Ia tak pernah memperdulikan wanita yang mendekatinya. Ntah mengapa justru ia yang merasa bersalah pada Amelie karena telah meninggalkan wanita itu di saat wanita itu justru membutuhkan dirinya.


Sementara di luar ruangan,


***Bughhh ....


bughh*** ...


"Mulai sekarang, jangan pernah kamu dekati Diva lagi. Aku juga tidak akan pernah menganggapmu sahabatku lagi. Kamu benar benar bajingan!!"


Leon yang mendengar kasak kusuk di luar, langsung keluar dari ruangan. Ia melihat David sedang memukuli Alvin, hingga wajah Alvin sudah terlihat memar.


"Ada apa ini?" tanyanya.


"Tanyakan saja pada laki laki bajingan ini. Sekali lagi kukatakan padamu, anggap kita tak pernah saling mengenal," tunjuk David pada Alvin, "Aku pergi, dan maafkan aku Leon telah membuat keributan di tempatmu. Aku mungkin tidak akan kemari lagi, selama ada manusia menjijikkan ini di sini," David pun segera meninggalkan coffee shop itu.


Leon membantu Alvin masuk ke dalam ruangannya. Ia juga meminta semua stafnya untuk kembali bekerja, dan ia juga meminta maaf kepada semua tamu yang melihat kejadian itu.

__ADS_1


"Sekarang katakan padaku, Vin. Ada apa sebenarnya?"


* Flashback on *


Hari itu, setelah pertemuan Alvin dan Diva, selesai mereka berkencan, Alvin mengantarkan Diva pulang ke rumahnya.


"Terima kasih buat hari ini, aku mencintaimu," ucap Alvin sambil memberi kecupan di pipi Diva.


"Baiklah, aku masuk dulu. Sampai jumpa," Diva pun masuk ke dalam rumahnya.


Alvin melajukan kendaraannya menuju apartemen. Baru saja ia sampai, ia dikejutkan dengan kedatangan Lydia yang tengah menunggunya di lobby apartemen.


"Lyd?"


"Vin ... ," Alvin bisa mencium bau alkohol dari hembusan nafas Lydia.


"Ada apa denganmu, Lyd? Kamu mabuk?" Alvin membantu Lydia berdiri karena Lydia tak mampu menegakkan tubuhnya.


Alvin akhirnya membawa Lydia masuk ke dalam apartemennya. Ia mendudukkan Lydia di atas sofa, kemudian ia beranjak ke dapur untuk mengambilkan segelas air, agar Lydia menjadi lebih tenang.


Alvin memberikan gelas tersebut kepada Lydia, "Minumlah dulu. Setelah itu katakan apa yang terjadi padamu."


Lydia mulai mengeluarkan air matanya, ia terisak, "Vin, apa aku begitu buruk? Apa tidak ada yang mau mencintai aku?"


"Tidak, Lyd. Kenapa kamu selalu berbicara seperti itu. Mungkin memang pria itu belum datang. Yang perlu kamu lakukan hanya menunggu."


"Kapan? kapan? aku lelah!" Lydia mulai mendekatkan dirinya pada Alvin. Ia mendekatkan wajahnya pada dada Alvin, "Kenapa pria yang aku inginkan justru tak menyukaiku? Mikael, Leon! Semua diambil oleh Amelie sialan itu!"


"Lyd, tenang. Kamu mabuk," ucap Alvin.


"Aku tidak mabuk! Apa aku harus membuktikan padamu kalau aku tidak mabuk?" Lydia mulai mengangkat rok yang hanya setengah paha itu hingga memperlihatkan pakaian dalamnya, kemudian ia langsung duduk di pangkuan Alvin dan menghadap ke arahnya.


Nafas Alvin langsung tercekat saat menyaksikan hal itu. Sebagai laki laki normal tentu saja ada hasrat yang timbul. Lydia menempelkan keningnya di kening Alvin, kemudian membelai wajah Alvin dengan kedua tangannya. Melihat Alvin sudah sedikit diam dan memanas, ia membuka pakaiannya, hingga menyisakan pakaian dalamnya yang benar benar memperlihatkan lekuk tubuhnya.


Tanpa disadari, tangan Alvin memegang pinggang Lydia dan mulai menyusuri setiap jengkal tubuh yang kini hanya ditutupi oleh bra dan ****** *****. Lydia tersenyum, kemudian mulai menempelkan bibirnya ke bibir Alvin dan meraupnya dalam. Mereka berdua masuk dalam ciuman panas yang penuh dengan gairah. Tangan Alvin terus menjelajah ke seluruh tubuh Lydia.


Ia mengangkat Lydia dan membawanya ke kamar tidurnya, kemudian merebahkan wanita itu di sana. Senyum merekah tercipta di wajah Lydia, ia mulai membuat goyangan goyangan erotis hingga Alvin semakin terpancing.


Alvin memberikan beberapa tanda kepemilikan di tubuh Lydia. Dengan cepat Alvin segera membuka pakaiannya, hingga tubuhnya polos. Ia juga membuka milik Lydia, karena ia sudah terbakar gairah. Namun, baru saja ia akan melakukan penyatuan.

__ADS_1


"Ahhhhh!!!" Alvin melihat Diva sudah berada di depan pintu kamar tidurnya, berteriak dan mengeluarkan air mata, kemudian berlari meninggalkannya.


* Flashback off *


__ADS_2