Amelie Sang Penjaga Jodoh

Amelie Sang Penjaga Jodoh
MENAHAN SAKIT


__ADS_3

Daniela mengerjapkan matanya. Cahaya putih yang begitu terang terasa begitu menyilaukan matanya.


Apa aku sudah mati? - batin Daniela dalam hatinya.


"Kamu sudah bangun?" sebuah suara menyadarkannya. Daniela pun menoleh.


Ahhh kenapa aku harus melihatnya lagi saat sudah mati? Apa ia juga ikut mati? Apa dia mengikutiku? menyebalkan! - gerutu Daniela dalam hatinya.


"Kamu sudah sadar?"


"Hmm ... apa yang terjadi denganku?" tanya Daniela.


"Aku melihatmu terbaring di sofa dengan wajah yang pucat. Jadi ... aku segera membawamu ke rumah sakit," jawab Mikael.


Daniela memegang kepalanya yang maaih terasa sakit. Ia menggeser tubuhnya ke belakang, mencoba untuk duduk.


"Aku bantu," ucap Mikael sambil memegang bahu dan lengan Daniela. Wanita itu cukup bingung karena merasa Mikael tiba tiba bersikap baik padanya.


"Aku sudah tidak apa apa, sebaiknya kamu pulang."


"Aku tidak akan kemana mana. Aku akan di sini menemanimu," ucap Mikael sambil merebahkan tubuhnya di sofa.


"Ckk ...," Daniela berdecak kesal.


Tak berselang lama, seorang dokter memasuki ruang rawat Daniela.


"Selamat siang, Nyonya," sapa Dokter Harun.


Nyonya? Ya ampun, apa wajahku terlihat seperti ibu ibu? - batin Daniela sambil memegangi pipinya.


"Siang, Dok," balas Daniela.


"Apa masih terasa pusing?"


"Ahh tidak Dok. Saya sudah merasa baik dan sehat. Apa saya sudah boleh pulang?" tanya Daniela.


"Anda sepertinya kelelahan dan kekurangan cairan, jadi kami akan meminta anda untuk menginap di sini semalam. Besok baru kami izinkan untuk pulang. Oya, anda juga harus terus menjaga kesehatan karena kandungan anda masih sangat rentan," pesan Dokter Harun.

__ADS_1


"Baik, Dok," jawab Daniela, lalu .... apa? kandungan? Apa maksudnya aku ...


"Tu-tunggu dulu, Dok. Apa maksud anda kandungan saya masih rentan. Apakah saya mengidap suatu penyakit?" tanya Daniela. Ia seakan mengalihkan sesuatu dan berharap tak sama dengan apa yang ia pikirkan.


"Anda sedang hamil, Nyonya. Karena itulah kami meminta anda untuk beristirahat. Jika anda kelelahan, maka akan berpengaruh pada kandungan anda," setelah memberikan penjelasan, Dokter Harun pun keluar dari ruangan, meninggalkan Daniela yang masih terlihat syok.


Tidak! tidak! Aku tidak akan hamil. Aku hanya melakukannya malam itu, dan aku ingat aku minum obat ... Ahhh sial!!! Aku lupa minum pil KB itu, padahal aku sudah membelinya.


Daniela mengarahkan pandangannya kepada Mikael yang tanpa ia sadari terus melihat ke arahnya.


"Apa kamu tahu mengenai hal ini?" Mikael pun menjawab dengan anggukan. Mata Daniela kini menatap tajam ke arah Mikael, kemudian menarik nafasnya panjang.


*****


Acara pertunangan Leon dan Amelie sudah tiba. Acara digelar di sebuah hotel berbintang 5 yang merupakan milik keluarga Williams.


Amelie dan Mikael sudah bersiap di 2 ruangan yang berbeda. Leon menggunakan jas berwarna hitam dengan kemeja putih di bagian dalam, sedangkan Amelie menggunakan gaun berwarna putih dengan panjang semata kaki.


Acara dihadiri oleh keluarga, sahabat, serta rekan bisnis kedua keluarga. Pada awalnya, Amelie menginginkan acara yang sederhana saja, tapi kedua orang tua bersepakat untuk memberikan yang terbaik bagi putra putri mereka.


Leon menyematkan sebuah cincin pertunangan di jari Amelie, membuat Amelie tersenyum dan juga terharu. Mengingat keadaannya saat ini, ia tentu sangat berbahagia karena ada yang mau menerima dirinya apa adanya.


"Aku yang justru berterima kasih karena kamu mau menerimaku," Leon mencium kening Amelie dalam dan penuh kasih sayang. Hati Amelie terasa begitu hangat saat Leon melakukannya.


Acara pertunangan mereka diisi dengan acara makan bersama. Para tamu tersenyum bahagia menyaksikan pasangan yang sedari awal acara menampilkan senyum, memberikan aura positif pada sekitarnya.


Sementara itu,


"Sialannn!!! Kenapa mereka bisa bertunangan. Aku sudah membuat rencana yang begitu sempurna. Namun, semuanya sia sia. Aku harus pergi ke sana dan memberitahukan keadaan Amelie pada keluarga Sebastian. Mereka pasti belum tahu tentang rahim Amelie," senyum tersungging di wajah Lydia.


Ia segera membereskan barang barangnya ke dalam koper. Ia memesan sebuah tiket perjalanan satu arah karena ia akan kembali ke negara tersebut setelah berhasil menghancurkan pertunangan Amelie dan merebut apa yang dimiliki wanita itu.


*****


Di dalam kamar, Amelie duduk di pinggir tempat tidur sambil memegang perut bagian bawah. Sejak pertengahan acara, perutnya terasa begitu sakit. Ia berusaha untuk terus tersenyum, dengan menahan rasa sakit. Ia segera mengambil obat miliknya dan menelan dengan segelas air putih.


Amelie mengambil ponselnya, kemudian ia menghubungi dokter yang dulu menanganinya di Italy.

__ADS_1


"Halo, Selamat sore, Dok," sapa Amelie. Jika di Indonesia saat ini sudah malam, maka di Italy tentu menjelang sore.


'Dengan siapa ini?'


"Saya Amelie."


'O-oo Amelie. A-ada apa?' tanya dokter itu setengah terbata. Ia tak menyangka akan mendapatkan panggilan telepon dari Amelie.


"Maaf mengganggu, Dok. Saya ingin bertanya, mengapa perut bagian bawah saya beberapa hari belakangan ini terasa begitu sakit. Apakah masih ada pengaruh akibat kecelakaan itu?" tanya Amelie dengan sedikit meringis.


'Apa kamu rutin meminum obat yang saya berikan?'


"Ehmmm, tentu saja, Dok," jawab Amelie.


'Di negara mana kamu sekarang? saya akan merekomendasikan kenalan saya jika saya memilikinya.'


"Indonesia."


'Baiklah, kamu tunggu sebentar. Nanti saya akan mencari, kemudian mengirimkan pesan kepadamu.'


"Terina kasih, Dok," Amelie pun menutup sambungan ponselnya. Ia masih meringis sambil memegang perutnya.


Tokk ... tokk ... tokk ...


Mendengan bunyi ketukan di pintu kamarnya, Amelie langsung memasukkan obatnya ke dalam laci nakas yang berada di sebelahnya. Ia tak ingin ada yang tahu mengenai dirinya, terutama Mommynya.


"Kamu belum tidur, sayang?" tanya Vanessa.


"Iya, Mom. Sebentar lagi mau tidur. Ini lagi mengistirahatkan kaki," ucap Amelie sambil berpura pura memijat betis kakinya.


"Sini Mom bantu."


"Nggak usah, Mom. Mommy tidur saja. Mommy juga pasti lelah. Aku akan sikat gigi kemudian istirahat."


"Baiklah, sayang. Kalau begitu Mommy keluar dulu ya," Vanessa mencium kening Amelie kemudian berlalu keluar.


Amelie menghela nafasnya. Ia akhirnya bangkit dan pergi ke kamar mandi, sambil menunggu pesan singkat dari dokternya di Italy.

__ADS_1


*****


__ADS_2