
"Kamu cantik sekali," Emily dan Daniela membantu Abigail mengenakan gaun pengantinnya. Sementara itu, Amelie juga mengenakan gaun pendamping pengantin yang sama cantiknya.
"Gaun Aunty memang benar benar cantik," puji Amelie, sambil memutar tubuhnya di depan cermin.
"Itu karena memang kami sudah cantik dari sananya, Mel," puji Daniela.
Daniela belum mengatakan pada kedua orang tuanya mengenai keinginannya membatalkan pertunangan dengan Mikael. Ia akan bicara setelah acara pernikahan Abigail. Ia tak ingin perkataannya mengganggu pekerjaan orang tuanya, terutama Mommynya yang harus mengerjakan gaun pengantin milik Abigail.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Mikael yang masuk ke dalam setelah mengetuk pintu.
"Ya," mereka pun akhirnya berkumpul di tempat acara akad dan resepsi akan diadakan.
Acara akad berlangsung dengan lancar. Mereka juga hanya memiliki waktu 30 menit sebelum acara resepsi dimulai.
"Foto dulu, foto dulu," ajak Handy. Mereka pun mengambil foto dengan melakukan beberapa pose. Abigail, Handy, Amelie, Mikael, dan Daniela, mereka berfoto dan menampakkan wajah bahagia, seperti tak ada masalah sama sekali diantara mereka.
Setelah itu, Mikael dengan cepat mengirimkan foto foto tersebut ke akun media sosialnya dengan caption 'My best friend wedding'.
Leon yang kini sedang berhadapan dengan Alvin yang diam membisu, akhirnya memainkan ponselnya. Sudah lama rasanya ia tidak melakukan hal seperti ini. Ia membuka kembali akun media sosialnya, melihat update terbaru dari teman temannya.
Ketika sampai pada foto yang diunggah oleh Mikael, matanya langsung membulat, "Amelie?"
Ia melihat Amelie yang begitu cantik dengan gaun berwarna putih dan sedikit hiasan bunga di kepalanya. Ia terlihat berdiri bersebelahan dengan sepasang pengantin yang Leon kenal adalah Handy, sahabat Mikael.
Kamu berbahagia di sana, sementara aku di sini seperti mati karena merindukanmu. - Leon.
Mikael juga mengunggah beberapa foto pada acara pernikahan Handy. Ia melihat Amelie sedang menggandeng seorang pria. Mereka sama sama tersenyum bahagia.
Apa kamu sudah mendapatkan penggantiku? secepat itukah? - Leon.
*****
"Lepaskan aku!" Mia yang sedang berjalan kembali ke ruangan resepsi dikejutkan oleh seseorang yang mencekal pergelangan tangannya.
"Mi!" Mia tahu siapa yang melakukannya hanya dengan mendengar suaranya. Suara seseorang yang saat ini sangat ia benci dan tidak ingin sama sekali bertemu dengannya.
Azka mengungkung Mia ke dinding dengan kedua tangannya, sementara Mia memalingkan wajahnya, "Aku mau keluar," ucapnya.
"Kamu tidak akan kemana mana sebelum kita bicara."
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Lepas!" Mia mencoba melepaskan diri dari kungkungan Azka.
"Apa aku harus berteriak semurahan apa dirimu supaya kamu mau berbicara denganku?"
__ADS_1
Plakkk!!
Satu tamparan dengan sukses mendarat di pipi Azka. Dengan tatapan tajam, Mia melihat ke arah Azka tanpa takut, "Ingatlah, aku bukan Mia yang dulu, yang bisa kamu bully seenaknya. Aku juga tak mengganggumu lagi kan, jadi kamu jangan mengganggu hidupku lagi," Mia langsung dengan penuh tenaga, menginjak kaki Azka, kemudian pergi meninggalkan laki laki itu.
Ahhh!!! - ungkap Azka kesal.
*****
"Vin, aku akan kembali ke Jakarta. Kamu mau ikut denganku, atau tetap di sini?" tanya Leon.
Alvin sama sekali tidak menjawab pertanyaan Leon, "Vin!!"
Brakkk!!!
Leon sengaja meletakkan beberapa beekas secara kasar di atas mejanya, namun Alvin tetap saja bergeming. Leon akhirnya menghampiri Alvin dan duduk di sebelahnya.
"Siapa yang pernah mengatakan padaku, kalau cinta itu jangan sampai bucin. Masih banyak wanita di dunia ini, tidak perlu tersiksa hanya karena salah satunya," ungkap Leon mulai kesal.
Plakkk!!
Leon segera memukul bahu Alvin untuk menyadarkan sahabatnya itu, "Kalau kamu terus begini, bagaimana dia akan memaafkanmu?"
"Apa dia akan memaafkanku, Len?" ucap Alvin pelan.
"Mungkin ... ya mungkin ya, tapi kemungkinan besar tidak. Sialan!!! ini semua karena Lydia!"
"Ini semua karena dirimu sendiri. Jangan menyalahkan orang lain. Dirimu yang terbawa nafsu hingga melakukannya."
"Tapi ... aku belum melakukannya, Len," ucap Alvin membela diri.
"Kamu mungkin bisa mengatakan itu, tapi apa Diva akan percaya? sementara ia sudah melihat bagaimana kondisi kalian saat itu," ucap Leon.
"Aku tidak tahu, Len. Tapi ... Lydia bisa mengatakan semuanya. Ia tahu bahwa aku tidak melakukan apapun padanya. A-aku harus menemuinya dan memintanya untuk bicara dengan Diva."
"Lalu, sekarangbkamu mau ikut aku kembali ke Jakarta, atau tetap di sini?" tanya Leon.
"Untuk apa kamu ke Jakarta? Apa kamu sudah siap untuk kembali dijodohkan?"
"Tidak! Mommy tak akan melakukannya. Aku kembali hanya untuk mengejar apa yang menjadi milikku. Cinta dan hatiku yang telah dibawanya pergi."
"Maksudmu? Kamu menemukan Amelie?" Leon mengangguk.
"Pergilah. Aku akan tetap di sini mengurus coffee shop mu. Aku akan mencoba meminta Lydia membantuku. Jika itu masih tetap tidak berguna, aku akan menyusulmu dan meninggalkan semuanya di sini," ucap Alvin. Alvin tak akan memaksa Leon lagi untuk menerima Lydia karena hubungannya saat ini juga sedang kacau.
__ADS_1
"Jangan menyerah. Kamu tahu bagaimana David. Ia sangat menyayangi Diva. Ia selalu mengawasi Diva dari jauh, hingga kamu tidak menyadari bahwa ia adalah Kakak Diva."
"David memang menyebalkan! Mengesalkan sekali!" ungkap Alvin.
"Tapi kamu mencintai adiknya. Jadi bersiaplah untuk berhadapan dengannya," goda Leon, kemudian pergi meninggalkan Alvin di dalam ruang kantor.
*****
Setelah melakukan penerbangan kurang lebih 16 jam, akhirnya Leon tiba kembali di Jakarta. Ia keluar dari bandara sambil membawa kopernya. Tak ada yang menjemputnya karena memang ia tak memberitahukan perihal kedatangannya pada siapapun. Ia juga telah meminta Alvin untuk tidak bicara mengenai kepulangannya kepada keluarganya.
Leon berencana akan pulang ke apartemen miliknya sementara ini. Memang ia tidak bermasalah dengan keluarganya, tapi ia juga tidak ingin dianggap bahwa ia pulang karena sudah kekurangan uang, terutama oleh Larry, Daddynya.
Menggunakan access card miliknya yang masih teraimpan rapi di dalam dompet, ia membuka pintu apartemennya. Semua barang masih tertutup dengan kain karena ia sudah lama tidak menempatinya. Ia membuka jaket dan menggantungnya, kemudian mulai membuka semua kain satu persatu. Ia memasukkan kain kain tersebut ke dalam plastik, ia akan mengirimnya ke binatu setelah ini.
Tokk ... tokk ... tokk ...
Ia membuka pintu, jasa kebersihan yang ia pesan via aplikasi telah datang. Tak tanggung tanggung, ia memesan 5 orang sekaligus, karena ia ingin semua cepat selesai. Ia pun meninggalkan mereka di sana, untuk menuju ke sebuah cafe yang terletak di lantai dasar apartemennya.
"Halo, Vin. Bagaimana keadaan di sana?" tanya Leon.
'Kamu baru sampai, sudah menanyakan keadaan di sini. Belum ada perubahan. Aku sedang sibuk. Jangan menggangguku dulu.'
"Apa ada sesuatu yang terjadi lagi?" Leon menangkap nada suara yang sedang kesal dari cara bicara Alvin.
'Sepertinya aku salah menilai Lydia.' ucap Alvin gusar.
"Ada apa?"
'Aku berhasil mengajaknya menemui Diva dan beruntungnya Diva mau menemuiku. Tapi ... Lydia malah menambah kacau semuanya. Ia mengatakan bahwa kami telah melakukannya berkali kali. Aku sudah membantahnya, tapi Diva percaya pada Lydia. Ahhh wanita itu benar benar mengesalkan!'
"Kini kamu tahu kenapa aku tidak mau berada di dekatnya."
'Apa maksudmu, Len?'
"Sejak pertama aku bertemu dengannya, hatiku sudah mengatakan bahwa ia bukan wanita baik baik. Ia selalu mencari perhatianku dan menjelek jelekkan Amelie di hadapanku. Bodohnya, aku percaya dengan semua kata kata dan foto foto yang ia perlihatkan. Membuat aku putus dengan Amelie."
'Maafkan aku, Len. Seharusnya sejak awal aku juga menyadarinya. Ia bahkan menciumku saat mengatakan mencintaimu. Aku juga bodoh.'
"Sudah, lupakanlah. Nanti aku akan membantumu untuk bicara dengan David, sekarang fokuslah membesarkan coffee shop ku," goda Leon.
'Baiklah. Terima kasih ... dan maafkan aku.'
"Its okay. See you," Leon mematikan sambungan ponselnya sambl kembali membuka akun media sosial milik Mikael. Ia terua memandangi foto dimana ada Amelie di sana.
__ADS_1
Aku pasti akan membuatmu kembali padaku, Mel. - Leon.