Amelie Sang Penjaga Jodoh

Amelie Sang Penjaga Jodoh
KEMBALI SEPERTI DULU


__ADS_3

Hari ini Amelie berjanji untuk menemani Abigail untuk melakukan fitting gaun pengantin untuk pertama kalinya. Mereka sampai di sebuah boutique yang menjadi langganan keluarga Pranata.


"Abi!" sapa Emily.


"Aunty. Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali rasanya tidak bertemu."


"Aunty baik, sayang. Kamu sudah dewasa, Aunty jadi pangling. Aunty kaget saat Mamimu mengatakan bahwa dirimu akan segera menikah."


Abigail tersenyum. Mereka kemudian masuk ke dalam suatu ruangan yang dipenuhi dengan gaun gaun berwarna putih. Di bagian ujung terdapat kaca besar yang mengelilingi ruangan dan sebuah tirai besar untuk menutupi ruang ganti.


"Ini rancangan terbaru Aunty, cobalah," Emily memberikan sebuah gaun kepada asistennya agar membantu Abigail mengenakannya.


"Ini cantik sekali, bi," puji Amelie sambil melihat gaun tersebut dengan kagum.


Abigail pun masuk ke dalam suatu ruangan untuk mencoba gaun tersebut, dibantu oleh asisten Emily.


"Mom! Apa Daddy akan pulang hari ini?"


"Daniela?"


"Amelie?"


"Kalian saling mengenal?" tanya Emily.


"Ia sahabat Mikael, Mom," jawab Daniela.


"Ooo, ya ampun. Dunia begitu sempit," tak lama, Abigail keluar sambil mengenakan gaun terbaru rancangan Emily.


"Tuh kan, pas sekali untukmu, sayang. Cantik," puji Emily.


"Aku juga menyukainya, Aunty. Modelnya sederhana, tapi terlihat sangat elegan," ucap Abigail.


"Ya, dan cocok sekali untuk putri keluarga Pranata."


Mata Abigail berhenti pada sosok wanita yang berdiri di sebelah Amelie, "Daniela?"


"Oya, ini Daniela, putri Aunty. Apa kamu lupa, bi. Dulu kalian sering bermain bersama. Kamu sering memanggilnya Ela kecil."


"Maksud Aunty, ini Ela yang sering memanggilku Bigel?" Emily mengangguk dan tersenyum, "Ya ampun, aku tidak menyangka bahwa kamu adalah Ela kecil. Kamu sekarang sudah besar, kenapa jadi lebih tinggi dariku ... menyebalkan!"

__ADS_1


Mereka pun tertawa bersama. Pertemuan tak sengaja mereka ternyata kembali membuka memori yang menyenangkan dan mempertemukan dengan teman masa kecil.


*****


"Sayang, bagaimana Williams School menurutmu?" tanya Axelle pada Amelie yang tengah merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah, sambil memainkan ponselnya.


"Selama 2 minggu aku mengajar di sana, kulihat semuanya baik dan tersusun dengan rapi. Hanya saja, aku merasa akan lebih baik kalau sesekali mereka diberi pembelajaran di luar ruangan. Taman sekolah begitu besar, tapi terkesan sangat sepi. Akan sangat menyenangkan jika bisa melihat anak anak berlarian di atas rumput."


"Bukankah kita memiliki lapangan untuk berolahraga dan berlari?" tanya Axelle.


"Memang ada, tapi bagaimana ya ... aku ingin membawa anak anak duduk di atas rumput, sambil bercerita, mengajak mereka melukis, juga memainkan musik. Rasanya indah sekali dalam bayanganku," jawab Amelie.


"Kalau begitu, buatlah proposalnya. Coba ajukan pada Rebecca. Ia pasti akan mempertimbangkannya."


"Aku akan mencobanya, Dad."


"Sayang, apa kamu sudah mencoba gaun untuk pernikahan Abi?" tanya Vanessa yang datang dari arah dapur sambil membawakan mereka teh dan cemilan.


"Sudah, Mom. Kemarin Abi pergi ke boutique M untuk melakukan fitting pertamanya. Aku juga mencoba gaun untuk menjadi pendamping."


"Apa kamu tidak ingin menjadi pengantin juga, sayang?" goda Vanessa.


"Semua wanita ingin menjadi pengantin, Mom. Tapi untuk saat ini .... Amelie ingin berkarir dulu, terutama untuk mengembangkan Williams School. Aku ingin Williams School bisa menjadi sekolah yang ditiru oleh sekolah sekolah lain karena tingginya kualitas pembelajaran tanpa tekanan pada siswa siswinya. Dimana mereka bisa belajar dengan bahagia, tak ada beban saat mereka melangkahkan kaki ke sekolah. Jika aku bisa melakukan semua itu, maka mungkin aku baru akan berpikir untuk menikah."


"Ya ampun ... pikiranmu jauh sekali. Mommy tidak berpikir untuk mengembangkan seperti itu. Mommy menyukai rencanamu. Mommy juga tak akan memaksamu menikah, sayang. Seperti yang pernah Mommy katakan, kebahagiaanmu dan Azka adalah yang terpenting bagi kami."


"Itu pemikiran yang sangat bagus, sayang. Daddy yakin kamu bisa mengembangkan Williams School dengan baik. Tidak salah Daddy menjadikanmu pemiliknya, Amelie Kirania Williams," ucap Axelle sedikit menggoda.


"Mommy dan Daddy sengaja menggodaku ya?"


"Tentu saja tidak. Kami mendukung semua keputusanmu. Oya, apa kamu ingin ikut acara makan malam dengan keluarga Uncle Adam?" tanya Vanessa.


"Tidak, Mom. Aku ingin istirahat. Aku harus mempersiapkan beberapa bahan untuk materi mengajar besok. Sampaikan salamku pada Uncle Adam, Mom."


"Baiklah kalau begitu, Azka juga tidak mau ikut. Katanya ada hal yang harus ia lakukan. Kenapa kalian semua begitu sibuk?" tanya Vanessa bermonolog sendiri.


"Itu artinya, mereka memberi kita kesempatan untuk berdua saja," goda Axelle, kemudian dengan cepat mengecup pipi Vanessa.


"S-sayang ...," teriak Vanessa pelan sambil memegang pipinya malu, sementara Amelie hanya tersenyum melihat kedua orang tuanya.

__ADS_1


Keesokan harinya,


"Pagi, Miss Amelie," sapa Rebecca.


"Pagi, Mam Becca," balas Amelie saat mereka bertemu secara tak sengaja di koridor sekolah.


"Hmmm, Mam ... apa bisa minta waktunya sebentar? ada yang ingin saya bicarakan."


"Silakan, Miss. Ayo kita ke ruangan," Rebecca mengajak Amelie masuk ke dalam ruang kepala sekolah yang biasa ia tempati.


Di sana, Amelie memaparkan ide idenya tentang peningkatan kualitas pembelajaran. Mam Rebecca tersenyum mendengarnya dan menyambut baik apa yang diajukan oleh Amelie.


"Miss Amelie bisa mulai mencobanya dengan membawa anak anak usia 3 tahun, kelas paling kecil yang berada di sekolah ini. Anak anak seumur mereka sangat membutuhkan suasana luar."


"Baik, Mam. Terima kasih atas sambutan baiknya. Saya akan terus berusaha memberikan yang terbaik untuk kemajuan sekolah ini," ucap Amelie.


Siang itu, di bawah rimbunnya pepohonan, Amelie membawa anak anak pre-kindergarten untuk duduk, membawa tas mereka. Ia juga membawa buku buku dari perpustakaan yang berisi banyak gambar gambar.


"Halo teman teman Miss yang cantik cantik dan ganteng ganteng, apa kalian suka ada di sini?"


"Suka ... syuka ... aku sukaa!!" teriak anak anak bersahut sahutan.


"Sebelum mulai, kalian bisa makan siang dulu bersama. Kita anggap kita sekarang sedang piknik bersama sama," ucap Amelie.


Ia menemani anak anak kecil itu makan, dengan didampingi beberapa asisten guru. Wajah anak anak terlihat begitu ceria. Mereka tertawa dan sesekali berceloteh dan berteriak. Setelah selesai makan, Amelie mengambil sebuah buku, kemudian mulai bercerita dengan boneka boneka sebagai alat peraga. Anak anak sangat senang melihatnya.


Sebelum pulang, Amelie memberikan pada masing masing anak sebuah buku, agar mereka bisa melihat lihat gambar di dalamnya. Meskipun mereka belum bisa membaca, tapi melihat gambar adalah salah satu cara agar mereka bisa mencintai buku.


"Miss, Aldo buku pesawat," ujar Aldo.


"Aldo suka dengan pesawat?" tanya Amelie.


"Hmm, Aldo mau jadi pilot," teriaknya.


"Baiklah, ini buku pesawat untukmu," Amelie memberikan sebuah buku dengan gambar pesawat komersil berwarna putih.


"Baiklah, kita sudah selesai. Kita akan menyanyi dulu sebelum pulang, lalu berdoa," Anak anak mengikuti semua yang diarahkan oleh Amelie, setelah itu mereka mengambil tas dan mulai berlari ke arah lobby untuk menemui orang tua mereka.


Kamu memang berbeda, Mel. Aku berharap kita bisa kembali seperti dulu. Aku berjanji kali ini tak akan melepaskan atau menyia-nyiakanmu. - Bara.

__ADS_1


*****


__ADS_2