Amelie Sang Penjaga Jodoh

Amelie Sang Penjaga Jodoh
SEMOGA KAMU BAHAGIA


__ADS_3

Amelie keluar dari meja kasirnya, berusaha mengejar Lydia, "Lyd! Jangan bertindak bodoh!"


Keluar dari pintu kaca, Amelie menoleh ke kiri dan ke kanan, namun tidak tampak Lydia di manapun. Ia merogoh ponselnya yang berada di dalan saku dan berusaha menghubunginya. Beberapa kali nada tersambung, tapi sama sekali tidak diangkat oleh Lydia.


"Ayolah, Lyd. Angkat ...," ucap Amelie cemas.


Brughhh .... pranggg!!!


Kaca minimarket pecah berhamburan, dan terdengar suara alarm. Orang orang yang berada di sekitar, datang menghampiri.


'Cepat! cepat! angkat wanita itu! panggil ambulans!'


Amelie masih bisa mendengar suara saling bersahut sahutan, sampai akhirnya matanya sudah tak kuat lagi dan menggelap.


*****


"Mel! sadarlah! Ayo, bangunlah!" Amelie mendengar suara kembali, namun pandangannya masih kabur dan matanya seperti sulit untuk terbuka.


"Bagaimana keadaannya, Dok?"


"Operasi berjalan dengan lancar, tapi sebaiknya anda segera menghubungi keluarganya."


"Katakan pada saya saja, Dok. Saya sahabatnya," ucap Lydia yang kini tengah berdiri di samping tempat tidur Amelie.


Dokter tersebut menarik nafasnya panjang, "Maaf jika saya harus menyampaikan ini, tapi akibat kecelakaan itu, rahim Miss Amelie terluka parah dan bisa dikatakan bahwa ia tak bisa memiliki anak."


Deghhh ....


Walaupun dalam keadaan sulit membuka mata, Amelie masih bisa mendengar semuanya dengan jelas.


Mandul? ya .... jadi bisa dikatakan bahwa dirinya mandul. Ia tak akan bisa memiliki anak. - Amelie.


"Terima kasih, Dok. Saya mohon, bisakah dokter merahasiakan ini? saya tidak ingin sahabat saya shock mendengarnya," pinta Lydia, sambil tersenyum ke arah sang dokter.


"Baiklah, saya mengerti. Sebaiknya anda segera menghubungi keluarganya, agar bisa mengurus semua administrasi," lanjut sang dokter.


"Baik, Dok."


Setelah kepergian dokter tersebut, Lydia menoleh ke arah Amelie, "Bangunlah! Aku tahu kamu mendengar semuanya."

__ADS_1


Buliran air mata tiba tiba saja meluncur dari ujung mata Amelie, sambil sedikit tersenyum sinis, "Iya aku tahu. Apa kamu bisa meninggalkan aku sendiri?"


"Aku juga ingin meninggalkanmu, tapi aku harus memainkan peranku hingga selesai, bukan?"


Amelie ingin memegang kepalanya yang terasa berdenyut kencang, sakit ... ya sangat sakit ..., tapi ia seperti tidak memiliki tenaga untuk mengangkat kedua tangannya.


"Apakah sekarang kamu akan melepaskan Leon?" tanya Lydia to the point.


"Maksudmu?"


"Aku sudah katakan bahwa, aku akan membuatmu melepaskannya bukan? aku sudah menepatinya."


"A-apa maksudmu?"


"Kamu jangan pura pura bodoh! atau kecelakaan itu membuatmu benar benar bodoh? Cihh!!"


Pintu ruangan rawat Amelie terbuka, tampak Leon berjalan masuk, "Mel! sayang ... bagaimana keadaanmu?"


"Kamu di sini?" tanya Amelie.


"Ya, sahabatmu yang menghubungiku," Amelie mengarahkan pandangannya pada Lydia.


"Tidak, tidak perlu," ucap Amelie.


"Ya, tidak perlu. Aku sudah melakukannya dan aku juga sudah melunasi semua tagihan rumah sakitnya. Aku tidak akan membiarkan sahabatku ini melewati semua ini sendirian. Kamu tahu kan, Mel ... aku sangat menyayangimu," ucap Lydia sambil memegang tangan Amelie.


Apakah ini peran yang akan kamu mainkan? - Amelie.


"Aku ingin istirahat," ucap Amelie dan ia kembali memejamkan matanya. Namun, ia tidak tidur. Ia hanya kembali menerawang semua perkataan dokter satu persatu.


"Duduklah dulu," ucap Lydia sambil memegang tangan Leon, mengajaknya untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.


"Tidak, aku akan di sini saja," Leon menepis tangan Lydia dan mengambil sebuah kursi single dan meletakkannya di sebelah Amelie.


Sialannn!!! ia menolak aku. Kamu sama saja dengan Mikael. Lihat saja, aku akan membuatmu masuk dalam perangkapku, dan menjadikanmu milikku ... suamiku. Aku akan menjadi istri seorang Leon Sebastian. - Lydia.


*****


"Apa kamu yakin tetap tidak akan melepaskannya?" tanya Lydia lagi. Saat ini ia sedang berduaan dengan Amelie di dalam ruang rawat, sementara Leon keluar sebentar untuk mengurus cafe miliknya.

__ADS_1


Amelie terdiam, sebenarnya ia sudah banyak berpikir sejak mendengar diagnosa dokter. Ia tahu keadaannya tidak baik. Ia bukan wanita sempurna lagi dan ia tak ingin Leon masuk ke dalam kehidupannya. Leon berhak bahagia, apalagi keluarga Leon, terutama Mommynya ingin Leon segera menikah dan memiliki anak.


Mommy Leon banyak bercerita tentang Leon saat masih kecil dan bagaimana Miranda merindukan masa masa itu. Mengurus bayi, memandikannya, menyuapinya, mengajaknya bermain, bahkan berlarian bersama. Amelie tak ingin menghancurkan semua mimpi itu dengan keadaannya saat ini.


"Kamu itu tidak pantas bersama Leon. Kamu tahu kan bagaimana kondisimu. Apa kamu akan tetap menjeratnya supaya kamu bisa menjadi keluarga Sebastian?" tanya Lydia.


"Orang tuamu saja tidak jelas. Selama aku mengenalmu, tak pernah sekalipun kamu mengajakku bermain ke rumah atau menemui orang tuamu. Apa jangan jangan kamu terlalu miskin, hingga malu?"


"Atau benar dugaanku, kalau kamu memang memanfaatkan semua laki laki untuk mengambil keuntungan dari mereka? Kamu pasti hanya menginginkan harta mereka kan untuk memenuhi semua kebutuhanmu. Kamu tidak mencintainya, kamu hanya mencintai hartanya, apalagi kamu tahu dia adalah seirang Sebastian," ucap Lydia.


Ekor mata Amelie melirik ke arah pintu kamarnya yang tak tertutup rapat. Ia bisa melihat bahwa Leon berdiri du sana, di pintu yang tak tertutup rapat .... mendengarkan.


"Sepertinya bukan urusanmu mengenai hubunganku dengan Leon. Aku mencintainya atau tidak, itu juga bukan urusanmu. Aku hanya menginginkan hartanya atau tidak, itu juga bukan urusanmu," ucap Amelie.


"Itu berarti kamu tidak mencintainya. Buktinya kamu tidak bisa mengatakan secara tegas perasaanmu. Aku juga tahu ... sebenarnya kamu ada hubungan dengan prua penjaga minimarket, rekan kerjamu itu kan?"


Mata Amelie langsung menusuk tajam ke arah Lydia, "Jangan bawa bawa Kak Harlan!"


"Lihat, kamu langsung membelanya. Meskipun kamu ini sahabatku, tapi aku tidak mau kamu menyakiti Leon. Leon sangat baik, tapi ternyata diam diam kamu bermain di belakangnya."


Amelie mengepalkan tangannya, "Pergilah. Aku berhutang padamu. Aku akan membayar semua tagihan rumah sakit ini."


Lydia tertawa, "Tidak perlu, Mel. Aku ikhlas. Aku ini sahabatmu dan sangat mengkhawatirkanmu. Aku hanya ingin kamu menyadari bahwa semua perbuatanmu itu akan menyakiti orang lain. Ini untukmu, kenang kenangan dariku," Lydia mengelurakan beberapa lembar foto dari tas miliknya dan melemparkannya ke arah Amelie.


Mata Amelie seketika membulat melihat apa yang ada di sana. Foto foto itu terlihat begitu nyata. Leon yang sedari tadi berdiri di depan pintu akhirnya masuk ke dalam. Ia mengambil salah satu foto yang terjatuh di lantai.


Leon melihat foto itu kemudian meremasnya, "Apa ini yang setiap hari kamu lakukan di minimarket? Katakan, Mel."


Amelie menghela nafasnya, ia tahu bahwa siapapun yang melihat foto foto itu pasti akan mengatakan bahwa tak ada editan sama sekali salam foto itu.


"Menurutmu?" Amelie balik bertanya.


"Ternyata benar apa yang dikatakan Alvin. Kamu hanya seorang wanita murahan yang mengejar banyak laki laki. Berganti semau yang kamu inginkan," ucap Leon.


"Terima kasih atas pendapatmu. Aku menerimanya dengan ikhlas dan aku tidak akan marah padamu," ucap Amelie.


"Tentu saja kamu tidak akan marah, karena semuanya benar. Aku benar benar tidak menyangka kamu seperti itu. Kamu mengecewakanku! Kita putus!!" ucap Leon dengan nada tinggi, Lydia yang melihatnya tersenyum sumringah.


"Terima kasih, Leon. Semoga kamu bahagia," ucap Amelie sebelum akhirnya Leon meletakkan makanan yang ia beli ke atas nakas dan keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2